Brrrr, Dinginnya Cilacap Nyaris Samai Rekor Suhu Terendah 44 Tahun

Oleh Muhamad Ridlo pada 21 Jun 2019, 04:00 WIB
Gunung Slamet dilihat dari Pesisir Selatan Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Kamis pagi, 20 Juni 2019, masyarakat Cilacap merasakan suhu dingin teramat sangat. Istilah lokal, ini lah yang disebut sebagai musim bediding atau mbediding.

Bediding adalah kata lain untuk merujuk makna kondisi dingin menusuk. Biasanya, musim bediding terjadi pada kemarau.

Ternyata, apa yang dirasakan oleh masyarakat Cilacap dan sekitarnya itu memang sesuai dengan pantauan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap. Suhu udara minimum Kamis nyaris menyamai suhu terdingin dalam kurun waktu 44 tahun.

Ketua Kelompok Teknisi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan, suhu minimum Kamis pagi tercatat 17,9 derajat Celsius. Suhu tersebut tercatat di pos Pengamatan Cuaca Bandara Tunggul Wulung, Cilacap.

Di waktu yang sama, pemantau cuaca di Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap suhu udara mencapai 20,4 derajat Celsius.

Teguh mengungkapkan, dalam sejarah suhu minimum yang tecatat dari tahun 1975 sampai dengan pertengahan Juni 2019, suhu minimum pernah terjadi pada tanggal 14 Agustus 1994. Saat itu, suhu tercatat hanya 17,4 derajat Celsius.

“Pada saat itu suhu maksimum hanya 25,8 derajat Celsius dan rata-ratanya 22,9 derajat Celisus,” ucapnya, saat dihubungi Liputan6.com.

Artinya, antara suhu terendah pada 1994 dengan suhu dingin Bandara Tunggul Wulung, Cilacap hari ini hanya beda 0,5 derajat Celius.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Dampak Suhu Dingin hingga Embun Es Dieng

Embun es muncul Kamis pagi (20/6/2019), di Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Fortuna Dyah untuk Muhamad Ridlo)
Embun es muncul Kamis pagi (20/6/2019), di Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Fortuna Dyah untuk Muhamad Ridlo)

“Tadi pagi, di daerah Tunggul Wulung, itu 17,9 derajat Celsius. Terlihat 44 tahun, itu hanya selisih 0,5 derajat Celisus yang terdingin yang pernah terjadi, pada 14 Agustus 1994. Itu paling dingin yang terjadi. Saat itu, suhu terlihat 17,4 derajat Celsius dia menjelaskan.

Lantaran Juni ini masih awal kemarau, ada kemungkinan suhu bertambah dingin pada puncak musim kemarau. BMKG memperkirakan puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2019 dengan perkiraan curah hujan antara 0-50 milimeter.

Suhu udara minimum di malam dan pagi hari mendekati puncak kemarau diperkirakan akan bertambah dingin. Ini merupakan indikasi bahwa suhu dingin masih akan berlangsung hingga akhir Agustus bahkan awal September 2019.

“Suhu udara yang dingin ini memang bisanya memang terjadi pada puncak musim kemarau, pada bulan Agustus biasanya,” dia berkata.

Suhu rendah itu akan bertambah rendah memperhitungkan ketinggian lokasi. Secara sederhana, tiap ketinggian 100 meter, suhu turun kisaran 0,5 derajat Celsius. Bandara Tunggul Wulung sendiri berketinggian 69 feet atau 21 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kondisi ini juga bisa memicu embun es di wilayah pegunungan, seperti yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng yang memiliki ketinggian di atas 2.000 mdpl. Suhu pagi di Dieng diketahui berkisar 0 derajat Celsius pada pagi hari dan antara empat derajat Celsius di malam hari.

Meski begitu, Teguh mengatakan suhu dingin ini merupakan fenomena normal. Karenanya, masyarakat tak perlu khawatir dan terpengaruh informasi yang tidak jelas.

Munculnya kabut di pagi hari pada saat musim kemarau seperti yang terjadi beberapa hari terakhir merupakan fenomena yang wajar dan lazim terjadi. Hanya saja, kemunculan kabut ini juga menambah dingin suhu udara di wilayah Cilacap.

“Dampak di Cilacap dan sekitarnya tidak terlalu signifikan, dampak terhadap kulit misalnya menjadi kelihatan kering atau busik dan kusut, bagi yang alergi terhadap dingin perlu persedian baju yang lebih hangat,” dia mengimbau.

Lanjutkan Membaca ↓