Tempat Pelelangan Ikan di Cilacap Mati Suri

Oleh Muhamad Ridlo pada 18 Jun 2019, 19:00 WIB
Diperbarui 19 Jun 2019, 18:13 WIB
Ilustrasi - Nelayan Cilacap menggotong ikan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Hiruk pikuk aktivitas bongkar muat atau lelang ikan yang mewarnai keseharian Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pandanarang, Cilacap kini menghilang. Akibat gelombang tinggi laut selatan, TPI itu kini hanya dilewati angin.

Sesekali, ada perahu nelayan yang merapat. Namun, tak ada suara riang khas pesisir saat perahu-perahu menurunkan muatan ikan. Padahal, lebih dari 300 perahu biasa bongkar muat di tempat ini tiap hari.

Musim angin timuran telah tiba pada Juni 2019 ini. Embusannya yang begitu kuat memicu ketinggian gelombang perairan selatan dan Samudera Hindia.

Kebanyakan nelayan tak ingin konyol menerjang gelombang tinggi yang dengan mudah mampu memecah kapal. Terlebih, perahu nelayan yang rata-rata di bawah tujuh dan lima groos ton (GT). Risikonya terlampau tinggi. 

Nelayan enggan melaut. Secara langsung, gelombang tinggi yang nyaris terjadi tiap hari di perairan selatan Cilacap berimbas pada minimnya pasokan ikan.

Salah satu yang terdampak adalah TPI Pandanarang. Praktis, sejak Lebaran 2019 lalu, aktivitas pelelangan ikan di TPI ini berhenti total. Hasil tangkapan nelayan begitu minim sehingga tak layak untuk lelang.

Kepala TPI Pandanarang, Tarmuji mengatakan sebagian kecil nelayan ada yang tetap nekat melaut. Akan tetapi, waktu melaut pun terbatas. Mereka mesti kembali ke daratan jika angin kencang berembus.

"Semenjak Lebaran. Lebaran kan tutup, nih. Kita sudah satu minggu ini vakum. Musim ini juga sedang tidak menentu begitu," katanya, Senin, 17 Juni 2019.

Tanpa gelombang tinggi, normalnya nelayan melaut antara 10 hingga 12 jam. Dengan perhitungan perjalanan dua jam, mereka memiliki waktu melaut kisaran delapan hingga 10 jam per hari.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Hantu Gelombang Tinggi di Perairan Selatan Jateng dan DIY

Perahu nelayan tambat di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perahu nelayan tambat di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Namun kini, mereka hanya bisa melaut total sekitar delapan jam. Sering kali, baru saja tiba di area tangkapan, mereka mesti bergegas kembali ke daratan lantaran embusan angin yang begitu kuat. Tak perlu diterangkan angin kencang akan disusul dengan gelombang tinggi.

"Begitu ada ombak tinggi langsung pulang," ujarnya.

Selain pengaruh gelombang tinggi, minimnya ikan juga dipengaruhi oleh musim paceklik. Tarmuji memperkirakan musim paceklik bisa berlangsung hingga Agustus.

Pada September dan Oktober, biasanya nelayan perairan selatan Jawa sudah memasuki musim panen ikan, bersamaan dengan semakin kondusifnya perairan selatan. Saat itu, angin timur tak lagi sekencang saat ini.

"Mungkin dapatnya kan hanya lima ekor, 10 ekor, 20 ekor, paling banyak. Biasanya langsung masuk ke tengkulak," ucapnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Tengah hingga Yogyakarta. gelombang setinggi 2,5 meter hingga empat meter berpotensi terjadi di perairan selatan dan Samudera Hindia.

Prakirawan BMKG Pos Pengamatan Cilacap, Deaz Achmad Rivai menyebut kondisi itu terjadi menyeluruh, meliputi perairan selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta. Di perairan ini, kecepatan angin bisa mencapai 25 knot dan menyebabkan ombak setinggi empat meter.

Dengan ketinggian gelombang mencapai empat meter, kapal besar seperti kargo atau kapal pesiar pun tak luput dari risiko karam. Terlebih, nelayan dengan perahu kecil. Karenanya, ia mengimbau agar nelayan tak melaut.

Lanjutkan Membaca ↓