Menikmati Mentari Pagi di Hamparan Celosia, si Tanaman Pengendali Hama

Oleh Muhamad Ridlo pada 16 Jun 2019, 06:00 WIB
Taman Bunga Celosia, sejenis tanaman Refugia untuk mengendalikan hama.  (Foto: Liputan6.com/Istimewa/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Bunga-bungaan Refugia sudah dikenal sebagai tanaman pengendali hama. Petani di sejumlah daerah sudah menanam berjenis-jenis refugia di pematang, jalan pinggir sawah atau di ladang-ladang mereka.

Refugia diyakini efektif mengendalikan serangan hama tanaman. Rumpun Refugia ini menjadi habitat alami predator atau pemangsa alami hama.

Di luar fungsi utamanya untuk menciptakan ekosistem predator hama, refugia begitu sedap dipandang. Bunga warna-warni membuat persawahan jadi ceria.

Ini lah yang coba dikembangkan oleh petani di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Mereka memadukan konsep tanaman pengendali hama, sekaligus untuk membangkitkan wisata desa.

Sebidang tanah bengkok yang lokasinya berada di pinggiran sawah disulap menjadi taman bunga Celosia. Bunga Celosia atau disebut Jengger Ayam termasuk dalam tanaman Refugia yang juga efektif mengendalikan hama.

Bunga Celosia kesohor dengan warnanya yang mencolok. Petani menanam jenis Celosia kuning dan merah. Begitu tanaman mulai berbunga, mendadak sontak, taman pinggir sawah ini ramai oleh warga sekitar.

Hamparan bunga nan rupawan itu memantik remaja hingga orang dewasa untuk berswafoto. Jalan-jalan kecil yang membelah taman tanaman pengendali hama ini pun menjadi arena bermain anak-anak pada pagi ketika sekolah libur.

2 of 2

Pariwisata dan Efektifitas Pengendalian Hama

Taman Bunga Celosia, sejenis tanaman Refugia untuk mengendalikan hama.  (Foto: Liputan6.com/Istimewa/Muhamad Ridlo)
Taman Bunga Celosia, sejenis tanaman Refugia untuk mengendalikan hama. (Foto: Liputan6.com/Istimewa/Muhamad Ridlo)

Di hari libur, sejak pagi pengunjung mulai berdatangan. Mereka menikmati mentari pagi di tengah taman Celosia.

"Pengunjung senang, perekonomian hidup, dan anak-anak terhindar dari setiap hari bermain HP," ucap Kepala Desa Gumiwang, Arif Fahrudin, beberapa waktu lalu.

Untuk mempercantik taman, pengelola juga membangun replika kincir angin khas negeri Tulip, Belanda. Benar saja, pengunjung banyak kepincut dengan keberadaan kincir angin itu dan menjadikannya latar swafoto.

Taman ini juga tak meninggalkan sisi edukasi. Di beberapa titik taman terpasang plang berisi kata-kata mutiara sarat makna.

Lebih dari itu, konsep wisata ini mengarah ke wisata edukasi pertanian dan perikanan. Pengunjung bisa mempelajari efektifitas Refugia untuk mengendalikan hama.

Terlebih, banyak pengunjung yang merupakan keluarga petani. Di tempat ini, mereka bakal belajar mengendalikan hama dengan cara ramah lingkungan.

Pengembangan taman Refugia rupanya tak hanya berhenti di situ. Rencananya, pengelola taman akan mengembangkan wisata alam, berupa outbond.

"Ke depan akan dikembangkan outbond, kolam renang, perahu dan hiburan lainnya yang murni konsepnya dari masyarakat," dia menjelaskan.

Taman Refugia membuka lapangan kerja baru di Desa Gumiwang. Tak hanya pengelola yang meraup untuk, petani di sekitar taman pun merasakan manfaatnya.

Kini, tanaman padi petani lebih sehat. Hama yang terkendali membuat petani tak repot mengeluarkan biaya untuk pestisida dan obat-obatan. Hasil panen padi pun lebih berlimpah.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by