Mengenal Sleman Temple Run 2019, Satu-Satunya Semi Trail Run di Dunia

Oleh Switzy Sabandar pada 15 Jun 2019, 02:00 WIB
Sleman Temple Run 2019

Liputan6.com, Yogyakarta Sleman Temple Run 2019 menjadi satu-satunya semi trail run di dunia yang melintasi candi, gunung, hutan, dan Sungai sekaligus. Perhelatan yang sudah memasuki tahun kelima ini akan digelar di kawasan Candi Banyunibo Sleman pada 14 Juli mendatang.

Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman bersama komunitas Trail Runner Yogyakarta (TRY) menginisiasi kegiatan sportventure tourism atau kegiatan yang memadukan olahraga, petualangan, dan berwisata menikmati keindahan alam.

"Pelaksanaan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang lalu kegiatan ini tidak sampai masuk ke halaman candi, tetapi kali ini kawasan candi menjadi spot yang dilewati," ujar Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sleman, Eka Priastana Putra, dalam jumpa pers, Jumat (14/6/2019).

Titik start dan finish berada di Candi Banyunibo. Setelah itu pelari akan menempuh rute Candi Barong, Candi Ijo, Candi Miri, Keraton Ratu Boko, Candi Sojiwan, Arcogupolo, Spot Riyadi, Tebing Breksi, dan hamparan lanskap kawasan timur Sleman.

"Lewat Sleman Temple Run juga bisa menggali peninggalan candi dan pesan-pesan yang lebih bervariasi," ucap Eka.

Sebagai kota yang dijuluki Seribu Candi, Sleman melalui kegiatan ini dirasa tepat untuk menanamkan nilai-nilai dan filosofi yang terkandung dari candi-candi di masa lampau.

Ia mencontohkan toleransi beragama sejak dulu sudah tercipta melalui bangunan-bangunan candi yang menggabungkan candi Buddha dan Hindu. Candi-candi yang menjadi rute Sleman Temple Run 2019 memang perpaduan keduanya.

Pelari juga bisa melihat prasasti di Candi Ijo yang sampai kini masih menjadi misteri dan belum terpecahkan. Prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-16 itu bertuliskan pernyataan yang berarti lebur semua.

 

2 of 3

Tingkat Kesulitan dan Tantangan Level Medium

Sleman Temple Run 2019
Sleman Temple Run 2019 akan digelar di Candi Banyunibo pada 14 Juli mendatang. (Liputan6.com /Switzy Sabandar)

Sleman Temple Run 2019 memiliki tingkat kesulitan dan tantangan level medium dengan kondisi medan naik turun namun tidak ekstrim. Ada tiga kategori yang dilombakan, yakni 7K, 13K, dan 25K.

Total elevasi yang dilalui pada kategori 7K adalah 300 meter, 13 K sebanyak 500 meter, dan 25 K sejumlah 1.000 meter. Variasi medan meliputi 20 persen jalur trail, 30 persen jalur aspal, dan sisanya jalur cor block.

"Kategori 7K ini baru dibuka, harapannya peserta yang terbiasa ikut road run bisa mengikuti trail run, dan elevasi 300 meter ini juga memberi mereka sensasi berbeda," tutur Eka.

Kategori 25K Sleman Temple Run 2019 dimulai pada pukul 05.30 WIB. Sedangkan dua kategori lainnya dimulai bertahap setelah 30 menit.

Kegiatan ini juga menyiapkan lima water station yang tersebar sepanjang rute. Untuk kategori 7K terdapat satu water station, kategori 13K disediakan dua water station. Dua water station terakhir untuk rute panjang.

Kegiatan ini diprediksi selesai pada pukul 09.00 WIB, sehingga setelah acara  peserta masih berwisata di sekitar candi.

    

3 of 3

Target 1.000 Peserta

Sleman Temple Run 2019
Sleman Temple Run 2019 akan digelar di Candi Banyunibo pada 14 Juli mendatang. (Liputan6.com /Switzy Sabandar)

Sleman Temple Run 2019 menargetkan 1.000 peserta. Sampai dengan 14 Juni 2019, peserta yang sudah mendaftar sebanyak 700 orang.

Peserta didominasi pelari dalam negeri atau sekitar 97 persen, sedangkan sisanya merupakan pelari dari sembilan negara, yakni, USA, Jerman, Perancis, Belanda, Swedia, Kolombia, Korea Selatan, Singapura, dan Kenya.

Peserta Sleman Temple Run 2019 membayar biaya pendaftaran Rp 300.000 sampai Rp 400.000, tergantung dari kategori lomba. Mereka akan mendapat fasilitas, seperti jersey, finisher medal, tote bag, makan siang, asuransi, dan kesempatan mendapatkan doorprize.

Total hadiah yang disiapkan sebesar Rp 127 juta dengan rincian Rp 22,5 juta untuk kategori 25K, Rp 17 juta untuk kategori 13K, dan Rp 12,25 juta untuk kategori 7K.

"Juara tahun lalu kategori 25K berasal dari Kenya dan tahun ini ia ikut kembali," kata Ramdan Krisnawan, perwakilan komunitas TRY.   

Lanjutkan Membaca ↓