Kisah Haru Berlebaran Bersama Anak di Makam Massal Tsunami Aceh

Oleh Rino Abonita pada 14 Jun 2019, 15:00 WIB
Cerita Haru Berlebaran Bersama Anak-Anak di Makam Massal Tsunami Aceh

Liputan6.com, Aceh Barat - Mendung tampak menaungi makam massal korban tsunami Aceh yang ada di kawasan Pantai Ujong Kareung, Kampung Suak Indra Puri, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Rabu pagi, 5 Juni 2019. Kala itu, orang-orang baru saja melaksanakan Salat Id.

Sepasang suami istri terlihat memasuki makam. Keduanya melangkah gontai, saling berpegangan erat satu sama lain.

Sang suami menoleh sesaat ke dalam sumur yang ada di pekarangan makam, tetapi tak menemukan apa-apa. "Hana ie (tidak ada air)," ia berbicara sendiri.

Keduanya lalu duduk di salah satu tepi kuburan. Sang suami mengangkat kedua tangan lalu menengadah sembari komat-kamit membaca doa dalam bahasa Arab, sementara istrinya mengamini.

Mata keduanya tampak berkaca-kaca pada detik-detik penghabisan doa. Mereka sempat terdiam sesaat sebelum mengusapkan tangan ke muka.

Agak lama mereka memandang permukaan tanah lapang yang ditumbuhi rumput liar itu. Sejumput kenangan mungkin saja menyelinap di benak mereka.

Makam massal itu terdiri dari beberapa petak kuburan yang diberi pembatas rendah. Pagar beton setinggi bahu orang dewasa tampak kokoh mengelilingi.

Bangunan makam massal ini berdiri atas kerja sama pemerintah Indonesia dan Singapura. Sebagai penanda bahwa di tempat itu beristirahat para korban yang tewas dalam tragedi tsunami Aceh, 14 tahun silam.

Tak ada yang mengetahui identitas mereka yang bersemayam di situ, tak terkecuali sepasang suami istri tadi. Mereka berziarah karena yakin di tempat itulah kedua anak mereka terkubur.

Dari beberapa makam massal yang pernah mereka datangi, hati keduanya lebih condong ke makam tersebut.

"Sudah kontak di hati. Kalau pergi ke tempat lain, tidak kontak," kata pria itu kepada Liputan6.com.

Dua orang putrinya yang saat itu berumur 11 dan 4 tahun tak terselamatkan ketika semong, atau istilah tsunami dalam bahasa Aceh, menerjang Pasie Karam. Pada saat itu, dia sedang tidak berada di rumahnya yang berlokasi di Kampung Belakang.

"Saat itu, saya sedang pergi minum kopi di tempat langganan," tuturnya.

 

2 of 2

Kenangan Suram pada 2004 Silam

Serba-serbi pada Hari Peringatan Gempa dan Tsunami di Aceh Barat
Warga Aceh mengunjungi kuburan massa korban tsunami Aceh. (Liputan6.com/Rino Abonita)

Awalnya bumi berguncang. Belum hilang rasa terkejutnya, semong pun menyapu desanya yang notabene berdekatan dengan laut, serta membawa pergi dua orang putrinya, meninggalkan ia dan istri, serta seorang lagi anaknya yang selamat.

"Seorang lagi selamat. Tapi, ditolong orang juga. Naik ke puncak masjid. Istri selamat, terombang-ambing, kaki kena kaca. Anak dalam gendongan itulah hilang," tutur pria berpeci itu.

Pada 26 Desember 2004, bala itu datang tiba-tiba. Pukul 07.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala richter mengguncang dasar laut barat daya Sumatra. Dalam hitungan jam, semong mencapai daratan Afrika.

Tsunami juga menyapu hampir seluruh kawasan pantai barat selatan Aceh. Ribuan nyawa tercerabut dari tubuh para pemiliknya, termasuk dua putri lelaki itu.

Pihak terkait mengubur ratusan korban tak jauh dari bibir pantai Ujong Kareung. Tanah dikeruk dengan ekskavator, sementara jenazah-jenazah yang bergelimpangan di beberapa lokasi dikumpulkan ke atas mobil bak terbuka, lalu dikubur di tempat itu.

Belakangan, beberapa kuburan di kawasan itu diberi tanda dengan mendirikan pagar di sekelilingnya. Namun, hanya satu kuburan massal saja yang disemen dan diberi ornamen, sementara yang lainnya, cenderung tak terurus.

"Saya berdoa, semoga anak saya diampuni dosa, diberi tempat di sisi-Nya," ucap lelaki itu sembari menstarter sepeda motornya, kemudian berlalu meninggalkan makam massal yang sepi itu.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓