Gelombang Pasang Laut Selatan, Apa Kabar Cilacap?

Oleh Muhamad Ridlo pada 13 Jun 2019, 05:00 WIB
Tanggul penahan gelombang tinggi di perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Gelombang pasang menerjang perairan selatan Jawa Tengah, Selasa 11 Juni 2019. Diperkirakan, amukan ombak laut kidul itu akan berlangsung hingga 14 Juni mendatang.

Di Kebumen, gelombang pasang memorakporandakan sekitar 120 warung di empat pantai wisata. Meski tak sampai menyebabkan korban jiwa, namun gelombang pasang itu begitu berbahaya lantaran terjadi ketika banyak wisatawan di pinggir pantai.

Beruntung, tak ada korban jiwa akibat terjangan gelombang setinggi 5-7 meter ini. Namun tetap saja, gelombang tinggi ini mesti diwaspadai lantaran jangkauannya yang menusuk jauh ke daratan, berkisar 50 meter.

Tak hanya di Kebumen, rupanya gelombang pasang juga melabrak pesisir selatan Cilacap. Di Kabupaten ini, sejumlah titik tanggul penahan ombak di wilayah pesisir terkikis.

Masalahnya, gelombang tinggi di perairan selatan masih berlangsung. Sementara ini, gelombang tinggi diperkirakan memang bakal terjadi hingga 14 Juni, tetapi tak tertutup kemungkinan gelombang tinggi kembali terjadi seturut tibanya musim angin timur.

Untuk mengantisipasi dampak gelombang pasang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap mengintensifkan pantauan di titik tanggul yang berisiko. Pasalnya, tak semua tanggul penahan ombak dibangun permanen.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan gelombang pasang yang menerjang daratan pada Selasa menyebabkan tanggul penahan gelombang di perkampungan nelayan Tegalkamulyan, Cilacap terkikis. Tetapi, kondisinya masih relatif aman.

2 of 2

Kondisi Tanggul Usai Diterjang Gelombang Pasang

Petugas BPBD Cilacap mengecek kondisi tanggul penahan ombak usai terjadi gelombang pasang.  (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)
Petugas BPBD Cilacap mengecek kondisi tanggul penahan ombak usai terjadi gelombang pasang. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)

"Sementara ini aman, nggih. Kerusakan yang mengkikis ada, tapi tidak sampai separah yang dulu (tahun 2018)," ucapnya, Rabu, 12 Juni 2019.

Dia bilang dampak gelombang pasang Selasa kemarin tidak sebesar gelombang pasang yang terjadi pada Juli 2018 lalu. Saat itu, sejumlah titik tanggul di Tegalkamulyan ambruk dan menyebabkan air laut melimpas ke permukiman penduduk.

Hingga saat ini belum ada rencana untuk memperbaiki tanggul rusak. Namun, BPBD mengintensifkan pantauan agar kondisi tanggul selalu terpantau.

"Kalau dulu sampai ada beberapa tanggul yang ambruk itu harus (diperbaiki). Seperti tanggul di Tegalkamulyan itu yang dulu sempat kritis mudah-mudahan yang sekarang tidak," dia menjelaskan.

salah satu yang menjadi fokus perhatian BPBD adalah tanggul pengaman pasisir selatan. Pasalnya, sebagian tanggul masih terbuat dari urukan pasir sehingga rawan jebol jika diterjang gelombang pasang.

Dari panjang tanggul sekitar 1,5 kilometer, baru sekitar satu kilometer yang terbuat dari cor beton. Dari seluruh tanggul cor, hanya 700 meter yang dalam kondisi baik.

Lainnya, terkikis karena gelombang pasang 2017 dan 2018. Sisanya, merupakan tanggul pasir, termasuk yang berada di kampung Tegalkamulyan.

"Ya teman-teman kita, monitor terus yang di UPT. Teman-teman relawan di pantai juga terus memonitor dan melaporkan ke induk BPBD," dia menerangkan.

BPBD Cilacap juga mengawasi ketat wisatawan dan pedagang di pantai wisata Cilacap, mulai dari Teluk Penyu hingga Pantai Widarapayung dan Cemara Sewu. Wisatawan dilarang berenang di pantai.

Pedagang juga dilarang untuk mendirikan bangunan terlampau dekat dengan bibir pantai. Dengan begitu, warung tak terjangkau ketika terjadi gelombang pasang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓