Sawer Koin, Berburu Air Barokah Sunan Gunung Jati

Oleh Panji Prayitno pada 12 Jun 2019, 13:30 WIB
Saat Peziarah Berburu Air Gerebeg Syawal Komplek Makam Sunan Gunung Jati Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Ribuan warga memadati komplek Makam Sunan Gunung Jati Cirebon. Mereka silih berganti berdatangan sejak pagi hingga siang hari.

Kedatangan mereka selain berziarah ke makam keluarga di komplek pemakaman. Mereka memperingati Syawalan yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Cirebon.

"Gerebeg Syawal kalau orang biasa menyebutnya dan sudah setiap tahun kami datang kesini," kata salah seorang peziarah, Juju, Rabu (12/6/2019).

Warga yang datang baik dari Cirebon maupun luar daerah rela berdesakan bermunajat. Selain itu, mengalap berkah dari dari rombongan keluarga Keraton Kanoman Cirebon.

Terlihat warga berdesakan berdoa serta melempar uang di depan pintu besar Makam Sunan Gunung Jati Cirebon. Momen tersebut merupakan langka baginya.

"Kapan lagi bisa lihat langsung ke arah makam Sunan Gunung Jati dan warga mengalap berkahnya dari situ. Melempar uang sebagai bentuk terima kasih agar pengelola bisa terus merawat tempat sejarah ini dengan uang yang kami beri seadanya," kata dia.

Tak hanya melempar uang, setelah berdoa di depan pintu Pasujudan Komplek Makam Sunan Gunung Jati. Para peziarah pun berdesakan untuk mendapatkan air yang mengalir di sekitar mereka.

Tidak sedikit peziarah mengusapkan bagian badan mereka dengan air yang ada di sekitar Pasujudan Komplek Makam Sunan Gunung Jati. Peziarah meyakini air tersebut membawa barokah tersendiri bagi yang menggunakannya.

"Memang keyakinannya begitu karena ini kan dianggap tempat sakral dan dulu sebelum jadi komplek pemakaman itu pondok pesantren yang didirikan Sunan Gunung Jati," kata salah seorang warga sekitar Sirul seraya membantu peziarah memasukkan air ke dalam jerigen.

2 of 2

Sawer Koin

Saat Peziarah Berburu Air Gerebeg Syawal Komplek Makam Sunan Gunung Jati Cirebon
Suasana Gerebeg Syawal di komplek Makam Sunan Gunung Jati Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Sirul mengatakan, air yang mengalir disetiap titik kawasan komplek pemakaman tersebut diyakini memiliki khasiat. Seperti kelanggengan, panjang umur hingga memudahkan orang meninggal saat sakaratul maut.

"Biasanya kan orang yang sakaratul maut itu seperti sulit melepas nyawanya. Jika pakai air ini diyakini bisa. Saya hanya bantu saja tidak menentukan tarif kok bayar seikhlasnya," kata dia.

Di akhir prosesi Gerebeg Syawal Cirebon, warga memadati balai Lunjuk. Balai tersebut tempat peristirahatan keluaraga Keraton Kanoman usai ziarah Makam Sunan Gunung Jati Cirebon.

Kepadatan warga tersebut demi mendapatkan koin saweran yang dibagikan keluarga keraton usai berziarah. Tradisi berebut koin atau sawer dalam rangkaian Grebeg Syawal diyakini warga membawa berkah.

Juru bicara Keraton Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, mengatakan Grebeg Syawal merupakan salah satu tradisi di Keraton Kanoman Cirebon yang dilaksanakan satu minggu setelah Idul Fitri.

Esensi tradisi tersebut ialah melakukan ziarah kubur Sultan Kanoman beserta segenap keluarga dan kerabat dekat Keraton.

"Grebeg Syawal ini dimaksudkan sebagai rasa syukur atas karunia Allah SWT, sehingga kita semua dapat melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan dan puasa sunah enam hari atau puasa Syawalan," kata Arimbi.

Ia mengatakan, prosesi menjadi media silaturahmi mengukuhkan ukhuwah islamiyah antara Sultan dengan masyarakat luas yang berziarah di makam Sunan Gunung Jati.

Dari berbagai sisi, rangkaian prosesi Grebeg Syawal ini telah mengekspresikan khazanah kebudayaan yang tidak bisa dilepaskan dengan semangat masyarakat Cirebon.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓