Mitos Sumur Tua Peninggalan Puang Langgarang Tak Bisa Kering

Oleh Eka Hakim pada 12 Jun 2019, 03:00 WIB
Cerita mitos sumur tua Mandar di Desa Samasundu, Polewali Mandar, Sulbar (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Liputan6.com, Polewali Mandar - Hampir setiap peninggalan sejarah tak pernah lepas dari beragam cerita mitos. Salah satunya tentang keajaiban sumur tua Mandar yang tepatnya terletak di Desa Samasundu, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar).

Menurut cerita masyarakat setempat, sumur tua Mandar di Desa Samasundu merupakan salah satu peninggalan tokoh agama Puang Langgarang yang dikenal oleh masyarakat Mandar dengan sebutan To Salama (Orang yang selamat).

Dari situlah awal masyarakat setempat meyakini beragam berkah yang melekat dari sumur tua Mandar yang ada di Desa Samasundu tersebut. Salah satunya, air yang ada dalam sumur tersebut tak akan pernah kering meski musim kemarau tiba. Asalkan masyarakat setempat bisa menjaganya dan tak melakukan hal-hal yang berpantangan.

"Sumur tua Mandar ini tak hanya dimanfaatkan airnya oleh masyarakat Desa Samasundu saja. Tapi banyak masyarakat dari desa lain berdatangan ke sini," kata Khayar, salah seorang warga Desa Samasundu, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, Selasa 11 Juni 2019.

Ia mengatakan pernah air yang ada dalam sumur tua Mandar Desa Samasundu tersebut tiba-tiba kering. Hal tersebut dikarenakan adanya perbuatan buruk yang dilakukan oleh masyarakat desa atau melanggar pesan dari To Salama.

"Masyarakat di sini kan yakin jika pesan To Salama agar jangan sekali-kali berbuat buruk dan memanfaatkan buruk air sumur tua Mandar ini. Musibah akan datang salah satunya airnya akan kering," terang Khayar.

 

2 of 2

Air Sumur Surut

Air sumur tua Mandar semakin surut (Liputan6.com/ Eka Hakim)
Air sumur tua Mandar semakin surut (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Jauh sebelumnya, air di sumur tua Mandar sangat berlimpah. Saking banyaknya, masyarakat desa cukup hanya menggunakan gayung dari karet ban ketika ingin mengambil air sumur tua Mandar tersebut.

Namun sejak perilaku masyarakat mulai berubah, pengambilan air di sumur tua Mandar di Desa Samasundu kini menggunakan tali. Hal itu, karena air sumur sudah mulai dalam alias perlahan surut hingga saat ini.

"Beberapa masyarakat juga sudah tak meyakini bahwa surutnya air sumur tua Mandar bukan karena pelanggaran seperti cerita mitos yang ada. Tapi memang terjadi perubahan iklim yakni musim kemarau pada saat itu," terang Khayar.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by