Jembatan Ameroro Pupus Diterjang Banjir, Akses Konawe Menuju Kolaka Putus

Oleh Liputan6.com pada 11 Jun 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 11 Jun 2019, 08:00 WIB
Banjir Konawe
Perbesar
Jembatan yang menjadi jalur trans Sulawesi di wilayah Kecamatan Asera Kabupaten Konawe Utara putus, Minggu (9/6/2019). (Liputan6.com/ Ahmad Akbar)

Liputan6.com, Kendari - Hujan lebat yang terjadi selama beberapa hari di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyebabkan daerah itu banjir dan merendam sedikitnya 69 desa di daerah itu.

Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara melalui Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe, Rodi mengatakan, 69 desa tersebut tersebar pada 17 kecamatan yang ada di Konawe.

"Ke-69 desa, tersebar di 17 kecamatan, diantaranya Kecamatan Abuki, Anggaberi, Tongauna, Pondidaha, Amonggedo, Tongauna Utara, Konawe, Wonggeduku, Wonggeduku Barat, Sampara, Bondoala, Morosi, Unaaha," katanya, Senin (11/6/2019).

Dampak dari banjir tersebut yakni terputusnya Jembatan Ameroro, sehingga memutuskan akses dari ibukota Konawe, Unaaha, menuju arah Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur.

"Bahkan, di Desa Ameroro terdapat dua unit rumah yang hanyut terseret arus banjir," katanya dilansir Antara.

Saat ini kata Rodi, pihaknya bersama instansi terkait seperti Basarnas masih melakukan proses evakuasi terhadap warga mencari tempat pengungsian yang aman dari banjir.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Fokus Evakuasi Warga

Banjir Konawe Utara
Perbesar
Banjir yang merendam Kabupaten Konawe Utara memutuskan sejumlah akses transportasi di wilayah itu, Minggu (9/6/2019). (Foto: Oheo)

"Kami belum bisa mengetahui pasti berapa rumah yang terdampak atau terendam akibat banjir yang merendam puluhan desa tersebut, karena masih fokus melakukan evakuasi terhadap warga yang tidak memungkinkan untuk bertahan di rumahnya," katanya.

Namun, Rodi menyebut, jumlah kepala keluarga yang terdampak dari bencana banjir itu mencapai angka 2.000 orang, sedangkan jumlah warga yang sudah mengungsi saat ini mencapai 1.000 orang.

"Kami sudah mendirikan tenda-tenda darurat untuk pengungsi, tetapi titik nya terbatas kami tidak bisa menjangkau beberapa tempat karena peralatan kami terbatas," katanya.

Selain itu katanya, pihaknya sudah melakukan penyaluran bantuan logistik kepada korban yang terdampak banjir, terutama yang ada di tenda pengungsian seperti makanan dan pakaian seadanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya