Tahun Ini Arus Mudik Pakai Pesawat Turun 20 - 30 Persen

Oleh Abelda Gunawan pada 09 Jun 2019, 21:00 WIB
Jumpa Pers Direktur Jenderal Perhubungan Udara di Balikpapan

Liputan6.com, Balikpapan - Arus mudik menggunakan moda transportasi pesawat dipastikan turun 20 hingga 30 persen selama lebaran tahun ini. Penurunan jumlah penumpang transportasi udara itu terjadi hampir di setiap bandar udara di Indonesia.

"Inspeksi pengecekan arus mudik diketahui rata rata penurunan 20 hingga 30 persen," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana Banguningsih Pramesti di Balikpapan, Sabtu (8/6/2019).

Polana mengatakan, rata-rata bandara mengalami penurunan 36 persen jumlah penumpang. Penurunan ini kemudian berdampak langsung terhadap jasa layanan angkutan kargo maupun bagasi penumpang.

"Kargo turun 28 persen sedangkan bagasi turun 50 persen," papar Polana sambil menambahkan, perusahaan maskapai akhirnya pun mengurangi frekuensi penerbangan pesawat hingga 22 persen. 

"Karena tidak ada penumpang yang diangkut, maskapai juga mengurangi penerbangannya," imbuhnya.

Dalam lebaran ini, lanjut Polana, Kementerian Perhubungan memastikan bandara di Pulau Jawa yang mengalami penurunan paling signifikan. Hasil pantauan menyimpulkan temuan titik lokasi yang terdampak langsung kenaikan harga tiket pesawat.

"Terutama terjadi bandara di Jawa yakni Solo dan Semarang," paparnya.

Para penumpang di Jawa memilih mempergunakan jalur transportasi darat dibandingkan udara. Kota dan kabupaten di Jawa pun terkoneksi sarana infrastruktur jalan yang memadai.

Di samping itu, momentum lebaran Idul Fitri kali ini tidak bersamaan dengan musim liburan anak sekolah. Lain ceritanya musim lebaran tahun lalu, di mana waktunya berbarengan musim liburan mahasiswa.

"Itu asumsi saya soal penyebab turunnya penumpang pesawat arus mudik. Memang harus ada research lebih mendalam untuk mengetahui penyebab turun," ujar Polana.

Meskipun demikian, Polana mencatat adanya bandara memiliki tren berbeda; Bandara Ngurah Rai di Bali dan Bandara Domine Eduard Osok di Sorong Papua. Sebaliknya, dua bandara ini mengalami peningkatan arus mudik lebaran.

"Tren arus mudik khusus di dua bandara ini cukup bagus dibanding lainnya," ungkap Polana.

Ceritanya kurang lebih sama dengan Bandara Sepinggan Balikpapan. Sempat dikabarkan turun 40 persen, justru penumpang hanya turun 30 persen.

"Ternyata terjadi peningkatan penumpang selama hari H arus mudik," tutur General Manager PT Angkasa Pura Balikpapan, Farid Indra Nugraha.

Farid sempat ketar-ketir menyusul lesunya penumpang pesawat sepanjang tahun ini. Ia memprediksi arus mudik maksimal di kisaran 14 ribu dari biasanya 22 ribu.

Bandara Sepinggan mengalami penurunan 18,4 persen penerbangan menjadi 155 kali sejak awal tahun. Demikian pula penumpang turun 31,9 persen menjadi 13.997.

Realisasi lapangan, arus mudik Balikpapan melonjak tipis 15.319 penumpang. Lonjakan arus mudik ini memang tidak sebanding data tahun lalu sebanyak 22.655.

Farid dalam banyak kesempatan sudah mengeluhkan tutupnya empat tenant bandara sektor non aeronautika. Masa jayanya, mereka sempat menjalin kerjasama 40 tenat sektor jasa ritel restoran, lounge, hotel, laundry, boutique dan pusat perbelanjaan.

Keuntungan Bandara Sepinggan diprediksi tergerus menjadi Rp 17 miliar. Sebelumnya, mereka mampu meraup keuntungan Rp 43 miliar dari sektor non maupun aeronautika.

Pantauan di lapangan memang menyiratkan lesunya bisnis penerbangan di Bandara Sepinggan. Antrean penumpang tidak lagi terjadi, di mana dulunya ribuan orang menjejali lorong terminal keberangkatan pesawat.

Banyak warga Balikpapan mengurungkan niat mudik selama lebaran ini. Mereka menyesuaikan jadwalnya dengan kemampuan daya beli tiket pesawat.

"Nanti saja pas tiket pesawatnya sudah terjangkau. Kebetulan pula sebelumnya sempat pulang ke Jawa akhir tahun lalu," papar Ponjiran.

Ponjiran mengungkapkan, harga tiket pesawat gila-gilaan dan jauh melampaui kemampuan keuangannya. Bila dulunya tiket penerbangan rute Balikpapan – Surabaya seharga Rp 700 ribu, melambung 100 persen menjadi Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

"Itu belum termasuk biaya bagasi yang bisa kena tarif hingga Rp 500 ribu," keluhnya.

Memang ada pula yang tetap memaksakan diri menjalani rutinitas mudik lebaran. Seperti dilakukan Triloka harus menemui keluarganya yang bermukim di Yogjakarta.

Namun bedanya, Triloka mengalihkan pilihan menumpang transportasi laut KRI Makassar rute Balikpapan–Surabaya. Setibanya di Kota Pahlawan, ia bermaksud menempuh perjalanan darat dengan tujuan Yogyakarta.

"Naik kapal lebih hemat dari pada naik pesawat," katanya.

Tiket kapal laut memang tidak terlalu menguras kantong. Tiket kapal rute Balikpapan – Surabaya hanya dibanderol kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 450 ribu. 

 

Simak juga video pilihan berikut ini: