Selamat Pagi Matahari Gunung Ireng

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 08 Jun 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 08 Jun 2019, 06:00 WIB
gunung ireng

Liputan6.com, Yogyakarta - Selamat pagi matahari Gunung Ireng. Selamat pagi Indonesia. Bersyukurlah kita berada di negeri yang memiliki ratusan atau bahkan ribuan gunung. Baik yang berukuran raksasa dan terkenal, maupun perbukitan yang oleh warga tetap pula disebut gunung.

Di kawasan Patuk, Gunungkidul ada pula sebuah gunung yang disebut Gunung Ireng. Lokasi tepatnya berada di Pengkok, Kecamatan Patuk Gunungkidul. Dusun Srumbung adalah dusun terakhir yang mendapat kepercayaan sekaligus kehormatan menjadi tempat puncak tertinggi. Titik terindah mengucapkan selamat pagi Indonesia.

"Berkunjunglah ke dusun Srumbung. Sampeyan akan mendapati matahari terbit yang luar biasa," kata mbah Drono, warga Patuk.

Berada di Dusun Srumbung, suasana sangat hommy. Warganya begitu ramah menerima siapapun yang berkunjung. Sekilas memang ada kemasan transaksi wisata, dimana pengunjung mengeluarkan biaya, namun sejatinya itu bukanlah transaksi, melainkan saling dukung saja.

Begitu tiba di Gunung Ireng, indera penglihatan akan dimanjakan barisan perbukitan kapur yang memanjang ke horizon. Nun jaub di bawah petak-petak sawah hijau dan kabut tipis menjalin harmoni yang menentramkan.

"Sebentar lagi matahari akan terbit. Siapkan kamera dan cari komposisi terbaik," kata Sari, seorang fotografer yang berkunjung.

Saat menunggu matahari terbit, tiba-tiba angin bertiup. Udara dingin menusuk tulang. Gemetaran karena hawa dingin seakan berada di puncak gunung yang amat tinggi.

"Sebenarnya lokasi ini berada di atas bukit kecil yang tidak terlalu tinggi," kata Sari.

Semburat jingga mulai muncul, mempertegas garis horizon. Abrakadabra, bayangan hitam berubah menjadi pemandangan segar yang luar biasa.

Para pengunjung yang sudah cukup banyak seperti mendapat komando, mereka bergerak menuju sebuah gubuk yang dibangun diatas puncak bukit. Beberapa meninggalkan kameranya untuk merekam gambar dengan metode timelapse.

"Ternyata ini adalah batuan vulkanik khas Gunung Ireng dan memang berwarna hitam. Selamat pagi batu-batu," Rudy, kawan Sari berkata.

Simak video indah Timelapse berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Jaman Miosen

gunung ireng
Gubuk di puncak bukit Gunung Ireng menjadi rujukan bagi pemburu matahari terbit di Yogyakarta. (foto: Liputan6.com / edhie prayit o ige)

Di sela batuan hitam ini, bisa ditemukan beberapa pepohonan yang jika dilihat dari kejauhan sangat eksotis. Batu-batu hitam inilah yang diyakini menjadi sebab mengapa bukit indah ini disebut Gunung Ireng, artinya "gunung hitam".

Masyarakat sekitar Gunung Ireng meyakini bahwa keberadaan bukit ini sangat lekat dengan mitos kemarahan Wrekudara atau Bima, tokoh nomor dua Pandawa dalam pewayangan.

Meskipun tokoh tersebut adalah tokoh rekaan dalam kitab Mahabarata. Namun sebagaimana karya sastra klasik yang mampu menembus batas, akhirnya diyakini bahwa tokoh tersebut benar-benar ada. Ada beberapa versi yang diyakini sebagai penggubahnya, yang paling terkenal adalah Resi Wiyasa.

Mbah Mitro, warga sekitar Gunung Ireng bercerita, bahwa lokasi yang tak jauh dari Gunung Merapi Purba ini merupakan dampak kemarahan Bima saat melihat kumpulan monyet yang asyik bermain di atas gunung Merapi.

"Ia mudah marah. Maka dengan kemarahannya ia menendang monyet-monyet itu," kata Mbah Mitro.

Celaka, tendangannya ternyata meleset karena para monyet sangat lincah menghindar. Kaki Bima mengenai sebuah batu yang sangat besar. Berkali-kali Bima mencoba menendang, namun selalu meleset.

"Batu-batu yang ditendang itu akhirnya terbang dan akhirnya bertumpuk-tumpuk menjadi Gunung Ireng," kata Mbah Mitro.

Dari berbagai literatur, Gunung Ireng memang merupakan bagian dari gunung api purba yang sudah ada sejak masa Miosen, sekitar 5-23 juta tahun yang lalu. Gunung api purba itu kehilangan bentuknya setelah meletus.

Yang tersisa saat ini adalah formasi batuan vulkanis di kawasan Patuk, termasuk bukit Nglanggeran yang ada di utara Gunung Ireng.

Ketika matahari berada di ketinggian sepenggalah, pemandangan dari puncak bukit semakin eksotis. Paduan sosok gundukan hitam dengan dikelilingi hutan jati memang sangat keren.

Gunung Ireng yang bisa diakses bahkan dengan kendaraan ini konon merupakan titik paling artistik untuk menyaksikan pagi di Yogya. Perjalanan sampai lokasi butuh waktu sekitar satu jam dengan sepeda motor, meskipun jaraknya hanya 27, 8 kilometer dari pusat kota.

Ini disebabkan harus lewat jalanan naik turun dan berkelok. Bahkan di beberapa titik, harus melewati jalanan berlubang, berbatu dan curam. Tiket masuk sudah termasuk parkir relatif murah, yakni Rp 5.000/orang.

Lanjutkan Membaca ↓