Sanggara Balanda, Kuliner Khas Sulsel Teman Perjalanan Mudik Lebaran

Oleh Eka Hakim pada 04 Jun 2019, 17:00 WIB
Diperbarui 05 Jun 2019, 00:15 WIB
sanggara balanda, kuliner Sulsel cocok temani perjalanan mudik lebaran anda (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Liputan6.com, Makassar Perjalanan jauh tentunya dapat membuat pemudik lebaran sangat lelah. Untuk mengatasi hal tersebut, tak ada salahnya menyiapkan makanan ringan berupa kuliner khas Sulsel, di antaranya sanggara balanda.

Rizal (28), warga Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulsel misalnya. Ia berencana mudik lebaran tahun ini ke kampung halamannya di Kabupaten Luwu Utara dengan menggunakan bus.

"Perjalanan kan lumayan jauh dan tentu macet. Nah biasanya saya bawa kuliner khas sini berupa sanggara balanda untuk jadi menu buka puasa ketika masih dalam perjalanan mudik," kata Rizal yang ditemui sedang menyiapkan sejumlah keperluan mudik di kosannya di Jalan Abdullah Daeng Sirua Makassar, Senin (3/6/2019).

Selain terbilang sebagai kuliner ringan dan mudah dibuat, sanggara balanda yang memiliki rasa khas manis itu, memang sangat tepat jadi menu berbuka puasa dalam perjalanan mudik yang tentunya sangat melelahkan. Selain jarak tempuh yang jauh, juga jalanan padat dan macet.

"Apalagi kita masih berpuasa dan tentu lelah selama perjalanan. Di situlah sanggara balanda cocok jadi menu berbuka untuk mengembalikan stamina," ungkap Rizal.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Bahan-Bahan dan Cara Membuat Sanggara Balanda

kuliner sanggara balanda cocok jadi teman mudik lebaran yang melelahkan (Liputan6.com/ Eka Hakim)
kuliner sanggara balanda cocok jadi teman mudik lebaran yang melelahkan (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Sanggara balanda merupakan salah satu kuliner khas Sulsel yang berarti pisang goreng Belanda.

Nama tersebut konon berasal dari kandungan yang ada dalam kuliner sanggara balanda yang terdiri dari mentega dan keju. Pada masa lalu, keju dan mentega diidentikkan dengan makanan kesukaan warga Belanda yang saat itu menjajah Indonesia termasuk seluruh daerah di Sulsel.

"Ceritanya sih mereka yang memperkenalkan keju dan mentega ke orang pribumi di Indonesia khususnya di Sulsel," ungkap Rizal.

Meski demikian, kata dia, sanggara balanda bukan produk Belanda, tapi murni buatan suku Bugis-Makassar di Sulsel.

Bagi yang ingin membuatnya cukup menyediakan berbagai bahan di antaranya sesisir pisang raja atau pisang tanduk yang sudah masak serta sebutir telur yang telah dikocok lepas.

Tak hanya itu, bahan lainnya yang juga turut disediakan yakni dua genggam kacang tanah kulit yang telah digoreng lalu dikuliti hingga bersih. Jangan lupa kacang tersebut dicincang hingga kecil.

Selanjutnya bahan lainnya, berupa tiga sendok makan mentega dan keju serut yang banyaknya sesuai selera serta gula pasir sekitar delapan sendok makan.

Setelah seluruh bahan terkumpul, proses pembuatannya pun dimulai. Pertama, membuat isian sanggara balanda yakni mencampurkan kacang goreng cincang bersama mentega atau keju dan gula pasir dalam satu wadah. Aduk sampai merata dan sisihkan.

Pisang yang telah dipotong kemudian digosok-gosok permukaannya dengan kulit pisang bagian dalam agar permukaannya tampak licin dan halus.

Pisang yang telah dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan itu, lalu digoreng hingga tampak berwarna kecokelatan. Setalah itu, angkat dan tiriskan.

Satu persatu pisang lalu dicelupkan ke dalam kocokan telur dan digoreng kembali. Proses penggorengan jangan terlalu lama yang penting pisangnya sudah terkena minyak.

Setelah proses itu selesai, tiap potongan pisang kemudian dibelah tengahnya (memanjang). Tapi jangan sampai pisangnya terbelah. Belah yang diinginkan setengah saja untuk isiannya.

"Dalam kondisi masih terasa panas, masukkan bahan isian ke belahan pisang (sanggara balanda) tadi dan setelah itu dinginkan dan siap disantap," Rizal menandaskan.

Lanjutkan Membaca ↓