Demi Lestarikan Komodo, Warga di Wilayah TNK Bakal Dipindahkan

Oleh Ola Keda pada 04 Jun 2019, 07:01 WIB
Diperbarui 06 Jun 2019, 01:13 WIB
Melihat Interaksi Komodo dengan Manusia di Pulau Rinca

Liputan6.com, Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan pentingnya perhatian dan tanggung jawab besar, terhadap kelangsungan hidup komodo.

"Komodo itu binatang purba yang hanya dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur. Perlu tanggung jawab besar untuk membuat langkah-langkah kebijakan dalam menjaga komodo. Kita harus melihat cukupnya ketersediaan makanan dan keberadaan habitat yang baik, sehingga mereka dapat berkembang-biak dengan baik pula," ujar Viktor kepada Liputan6.com, Senin (3/6/2019).

Ia mengatakan, salah satu permasalahan yang dihadapi adalah minimnya ketersediaan makanan, seperti rusa yang selalu dicuri. Hal ini menyebabkan menurunnya ketertersediaan makanan.

"Berbahaya bagi komodo. Kita akan menertibkan mereka yang mencuri rusa dan juga yang mencuri komodo," katanya.

Untuk menjaga keberlangsungan hidup komodo, masyarakat yang hidup di sekitar pulau komodo akan dipindahkan.

"Kita juga mau agar tidak ada manusia yang tinggal di Pulau Komodo. Mereka yang sekarang tinggal di sana akan kita pindahkan ke Pulau Rinca atau Pulau Padar. Tentunya, dalam urusan memindahkan penduduk ke tempat yang lain itu tidak gampang. Menjadi tugas pemerintah, untuk mengatur hidup mereka agar lebih baik dan lebih layak. Kita akan buat kajian tentang itu," dia mengungkapkan.

2 of 2

Batasi Pengunjung

Menikmati Eksotisme Pemandangan Alam Pulau Rinca
Pemandangan sebuah teluk di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, NTT, Minggu (14/10). Selain terkenal dengan komodonya, Pulau Rinca memiliki pemandangan alam yang indah dan memikat wisatawan. (Merdeka.com/Arie basuki)

Viktor Laiskodat mengatakan, Pemprov NTT ingin menciptakan Taman Nasional Komodo sebagai alam liarnya komodo.

"Kita akan datang dan lihat kehidupan mereka yang liar. Jadi mereka mencari makan sendiri dengan agresif dan buas. Atraksi itu akan menarik bagi wisatawan, bagaimana ia mengejar, menangkap dan memakan hewan lain. Jadi, kita bukan memanjakan dengan memberinya makan dan komodo menjadi malas," dia menegaskan.

Viktor menambahkan bahwa kuota pengunjung pun perlu dibatasi. Kuota pengunjung maksimum 50.000 dalam satu tahun. Setiap pengunjung harus tercatat sebagai member dengan biaya US 1.000 dolar untuk satu tahun.

"Awal dari kebijakan penutupan TNK ini banyak yang menolak, tetapi kini banyak yang sudah setuju termasuk Presiden. Kami juga membentuk tim dari pemerintah provinsi dan pusat, untuk mendiskusikan langkah-langkah yang akan dibuat dan juga besaran anggaran yang digunakan," imbuhnya.

Selain itu, Viktor juga menambahkan pentingnya menjaga tempat wisata dari sampah plastik.

"Kita, saat ini, sudah mulai menggerakan aksi pembersihan sampah. Dulunya pantai di pulau komodo itu penuh dengan sampah. Saat saya bertemu wartawan dari Australia, mereka mengatakan sekarang sudah mulai terlihat bersih. Kita juga akan membenahi tempat wisata seperti Labuan Bajo dan TNK untuk meningkatkan daya tarik wisatawan," Viktor memungkasi.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓