Membaca Arsip Kelahiran Pancasila di Bali

Oleh Dewi Divianta pada 02 Jun 2019, 04:02 WIB
Rieke Gagas Garis Besar Haluan Pancasila

Liputan6.com, Denpasar Tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari kelahiran Pancasila. Hari kelahiran Pancasila dirayakan di berbagai daerah, juga Bali. Tak mau hanya sekadar seremoni belaka, anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDIP, Rieke Diah Pitaloka menggagas bulan Bung Karno yang dipusatkan di Art Center, Denpasar, Bali.

Ada sejumlah kegiatan yang dilaksanakan. Salah satunya adalah pameran arsip kelahiran Pancasila yang merupakan buah karya pemikiran Bung Karno. Duta Arsip Nasional Republik Indonesia ini menjelaskan mengapa Bali penting untuk dijadikan awal momentum bulan Bung Karno.

Di Pulau Dewata, Pancasila diimplementasikan dengan baik. Melalui kegiatan ini ia berharap Pancasila tetap hidup melandasi cara berpikir masyarakat Indonesia. Rieke mengaku tak dapat membayangkan seandainya Indonesia tak memiliki Pancasila. Mungkin saja, ia menduga, telah terjadi perang saudara lantaran banyaknya suku, ras dan agama di Bumi Pertiwi ini.

“Kita harus bersyukur bahwa Indonesia memiliki Pancasila. Pancasila sebagaimana dikatakan Bung Karno bukanlah agama, tapi keyakinan bagi bangsa Indonesia menapaki peradaban masa depan yang lebih baik dengan harmoni keberagaman Bhineka Tunggal Ika,” kata Rieke pada acara peringatan hari lahir Pancasila dan bulan Bung Karno, Sabtu malam (1/6/2019).

Pada acara yang mengambil tema ‘Gerakan Kekuatan Pancasila’ itu ia melanjutkan, arsip merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam arsip, sejarah bangsa tersimpan dengan baik.

“Dan tentu saja peringatan hari lahir Pancasila akan menjadi arsip bangsa kita,” katanya. Sebagai jendela dunia, Rieke memandang amat tepat jika dari Bali dikumandangkan bagaimana mengimplementasikan ketuhanan yang sejalan dengan keberagaman.

Di matanya, Pancasila tidak hanya pedoman kehidupan berbangsa dan bernegsra. Untuk mebumikan Pancasila Rieke menilai perlu dan wajib menjadikannya garis besar haluan Pancssila sebagai pedoman bagi pembangunan bangsa ke depan.

“Pancasila sebagai pedoman sekaligus implementasinya. Kita boleh berbeda pilihan politik, tapi jangan merusak persatuan dan kesatuan kita,” katanya.

Pancasila itu tidak cukup untuk dirayakan saja tiap 1 Juni saja. Pancasila harus jadi memori kolektif dan pedoman berbangsa dan bernegara juga roadmap pembangunan bangsa. Kita dorong untuk segera lahir garis besar haluan Pancasila, supaya setiap orang punya pegangan yang jelas dalam membangun bangsa ini. Saat ini garis-garis besar haluan Pancasila sedang diperjuangkan,” harapnya.

 

2 of 2

Mirip GBHN Orde Baru

Rieke Gagas Garis Besar Haluan Pancasila
Seorang bocah menirukan gaya pidato Bung Karno pada acara peringatan bulan Bung Karno yang mengambil tema Gerakan Kekuatan Pancasila di Art Center Denpasar (Liputan6.com/Dewi Divianta)

Ia tak menampik jika garis besar haluan Pancasila tak jauh berbeda dengan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) ala Orde Baru. Hanya saja yang membedakannya, garis besar haluan Pancasila ini tak hanya berisi teknokrasi saja, tetapi yang penting adalah prinsip nilai Pancasila itu sendiri.

“Pasca-reformasi kita tidak memiliki haluan sebagai pedoman dalam pembangunan. Maka ini penting untuk dihadirkan kembali. Garis besar haluan Pancasila tak hanya fokus pada pembangunan fisik belaka, tapi mental spiritual juga harus hadir,” harapnya.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati menyambut baik acara ini. Ia setuju jika Pancasila tak hanya sekadar menjadi bahan bacaan saja, tapi harus hidup dalam kegiatan kemasyarakatan. “Pancasila tidak saja hanya sebagai bahan bacaan, tetapi juga menjadi dasar kehidupan sehari-hari,” paparnya.

Lanjutkan Membaca ↓