Tumbilotohe, Tradisi Sejuta Lampu pada Akhir Ramadan di Gorontalo

Oleh Arfandi Ibrahim pada 01 Jun 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 01 Jun 2019, 18:00 WIB
Tumbilotohe, Sejuta Lampu Tradisional Gorontalo Menyala pada Akhir Ramadan
Perbesar
Warga Gorontalo menggelar tradisi tumbilotohe atau menyalakan berjuta lampu minyak pada akhir Ramadan. (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)

Liputan6.com, Gorontalo - Idulfitri akan segera tiba. Warga Gorontalo pun menggelar tradisi tumbilotohe atau tradisi menyalakan berjuta lampu minyak pada akhir Ramadan. Tradisi yang diselenggarakan pada Jumat malam, 31 Mei 2019 hingga Minggu, 9 Juni 2019 dini hari membawa berkah bagi banyak pihak, termasuk para nelayan.

Ribuan warga tumpah ruah ke sejumlah tempat untuk menyaksikan indahnya hiasan lampu temaram. Lampu-lampu minyak dipasang menghiasi Kota Gorontalo, seperti di jalan-jalan, halaman rumah, masjid, bahkan sungai-sungai.

Tahun ini, tempat paling favorit yang dikunjungi ribuan warga, yakni di sekitar Jembatan Talumolo. Sedikitnya 15.000 buah lampu minyak dari Dinas Pariwisata Kota Gorontalo menghiasi muara Sungai Bone.

Pelita sebanyak itu diperkirakan menghabiskan 4.000 liter minyak tanah. Akibat padatnya warga di tempat ini, jalanan pun macet hingga tengah malam.

Karena tumbilotohe, para nelayan pun ketiban rezeki. Perahu-perahu mereka disewa oleh para wisatawan yang ingin ke tengah sungai untuk menyaksikan tumbilotohe dari dekat.

Tarif yang dikenakan pun bervariasi antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per orang tergantung jarak yang ditempuh. Para nelayan ini mengaku memperoleh pendapatan sedikitnya Rp250 ribu per malam pada perayaan tumbilotohe tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Bupati Bone Bolango Hamim Pou, tradisi ini akan terus dikembangkan pada tahun-tahun yang akan datang.

"Karena selain untuk melestarikan budaya turun-temurun, tradisi ini juga membawa rezeki bagi warganya. Sejumlah wisatawan pun mengaku kagum dengan tradisi tumbilotohe ini," dia menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya