Inspirasi Kurnia Astuti, Guru SD Pegiat Gerobak Baca Bersama 3 Anaknya

Oleh Liputan6dotcom pada 18 Mei 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 18 Mei 2019, 04:15 WIB
Kurnia Astuti, Guru SD pegiat gerobak baca

Liputan6.com, Tenggarong - Kurnia Astuti, seorang guru SDN 003 Tenggarong, Kalimantan Timur intensif berkeliling kompleks perumahannya untuk mengajak warga terutama anak-anak membaca buku. Buku-buku komik, novel, majalah dan lain-lain dibawa dengan gerobak dorong yang biasa digunakan untuk membawa galon air.

Ia tidak sendiri, tapi ditemani oleh tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Bilqis yang masih kelas empat SD, Yasmin yang masih duduk di TK, dan adiknya Asifa yang masih usia tiga tahun.

"Bersama anak-anak, saya dorong gerobak menawarkan pada siapa saja untuk membaca secara gratis, terutama anak-anak. Saya merasa terpanggil setelah melihat besarnya kecenderungan anak-anak di sini buang-buang waktu bermain gadget. Kadang-kadang bahkan anak saya ikut-ikutan tergoda. Saya ingin anak-anak di kompleks ini lebih mampu memanfaatkan waktunya dengan rajin membaca buku," ujarnya.

Jadwal keliling kompleks menawarkan buku adalah tiap hari Jumat pukul 16.30-17.30 WIB. Mereka tidak hanya keliling kompleks perumahan mereka sendiri, tapi juga kompleks tetangga. Orang tua dan anak-anak pun menyambut gembira kegiatan Kurnia.

"Bahkan biasa orang tua memerintahkan anak-anaknya gabung membaca, daripada bermain gadget saja," ujarnya.

Pada Mei ini, karena puasa, ia tidak keliling, tapi menyilahkan pembaca untuk datang langsung ke perpustakaan mini di rumahnya.

"Buku saya belum begitu banyak. Tapi saya nanti akan pasang banner rumah baca di rumah saya. Saya mempersilahkan siapa saja menyumbang buku dan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk gerakan literasi," ujar salah satu fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation ini.

 

2 of 3

Gerobak Saat Pemilu

Anak-anak guru pegiat gerobak baca
Anak-anak guru pegiat gerobak baca

Namun yang patut diacungi jempol adalah keberanian dan semangatnya berserta keluarganya pada waktu pemilu kemarin tanggal 17 April 2019. Dibantu suaminya, Syamsul Efendi, ia membawa gerobak baca keliling tersebut ke tempat pemungutan suara (TPS) dan membuka lapak baca di situ.

"Saya amat prihatin dengan tingkat literasi di Indonesia. Jadi saya mencoba menggugah semua orang untuk tergerak mau membaca," ia menceritakan motifnya.

Awalnya hampir tak ada orang yang menggubris lapaknya di TPS tersebut. Kebanyakan orang-orang asyik bermain gawai sambil menunggu waktu mencoblos. "Saya sampai tawarkan ke tempat duduk mereka. Saya katakan tidak dipungut biaya, tapi tetap tak ada yang menggubris," kenangnya.

Orang-orang baru perhatikan lapak membaca tersebut, saat tiba-tiba pejabat provinsi dan kabupaten datang berkunjung ke TPS tersebut, di antaranya Kasi Perpustakaan Kabupaten Idmansyah dan Pejabat Dinas Kebudayaan Daerah.

Ternyata para pejabat tersebut tidak langsung menuju ke TPS, tapi ke lapak baca yang didirikan Kurnia. Melihat hal tersebut, orang-orang baru ikut-ikut mengapresiasi kegiatan Kurnia.

Menurutnya, karena kegiatan buka lapak baca di TPS tersebut, akhirnya ia cukup dikenal dan diminta untuk menjadi narasumber literasi di beberapa tempat.

"Melihat saya gigih membuka lapak pakai buku-buku pribadi di tempat umum, Kasi Perpustakan mengundang saya jadi narasumber kegiatan literasi di perpustakaan daerah dan juga mengisi kegiatan di Taman PINTAR. Saya juga akan mendapat hadiah tambahan buku dari Rumah Budaya Kutai," ujarnya.

 

3 of 3

Keluarga Literasi

Anak-anak membaca buku gerobak baca
Anak-anak membaca buku gerobak baca

Menurut Kurnia, awalnya ia bukanlah pembaca buku yang rutin. Ia baru tergerak rutin membaca, setelah ia membaca banyak artikel tentang pentingnya gerakan literasi dan ikut pelatihan budaya baca Tanoto Foundation.

"Walaupun saya suka menulis diari. Bahkan diari saya sampai 30 buku. Saya awalnya bukan pembaca yang baik," ujarnya.

Kini ia selalu meluangkan diri setiap hari untuk membaca buku. Bahkan, bersama suaminya, ia sepakat untuk membuat program khusus membaca bagi keluarga tersebut. Setiap pagi, anaknya yang SD setelah Salat Subuh diwajibkan membaca selama 10 menit. Sedangkan tiap malam, ia dan suaminya bergantian membacakan buku cerita pada anak-anaknya.

"Karena kegiatan ini, anak saya yang usia tiga tahun sekarang sangat menyukai buku. Untuk tiga buku favoritnya, walaupun Ia belum bisa membaca, ia sudah hapal isi buku kecil tersebut tiap halaman," ujarnya bangga.

Sedangkan yang paling besar, Bilqis, sudah pandai menceritakan kembali isi buku.

"Selain saya minta menceritakan isi buku bacaan lewat lisan, saya juga gunakan kertas bekas untuk membimbingnya menceritakan buku yang ia telah baca lewat tulisan. Hasil karyanya kemudian ditempel di kotak membaca seperti kotak kado dan jadi hiasan di rumah kami," ujarnya.

Kurnia saat ini sedang menyusun sebuah buku dan sudah dihubungi oleh penerbit. "Semoga saya benar-benar bisa menerbitkan buku," dia menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓