Dikasih Sumbangan Rp1.000, Pria di Aceh Utara Mengamuk

Oleh Rino Abonita pada 13 Mei 2019, 08:01 WIB
Diperbarui 14 Mei 2019, 17:14 WIB
Ilustrasi Marah

Liputan6.com, Aceh Utara - Video seorang pria mencak-mencak karena tidak terima diberi sumbangan seribu rupiah oleh karyawan sebuah ritel di Aceh viral di media sosial. Belakangan, pria tersebut meminta maaf atas perbuatannya.

Insiden yang berlangsung di dalam sebuah gerai Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, meluas sejak seseorang menyebarkan video tersebut ke media sosial. Dalam video berdurasi satu menit tampak sejumlah pria mengerumuni dan melabrak seorang kasir perempuan.

Pria mengamuk ini terlihat sempat memukul meja kasir beberapa kali. Selain itu, terdengar suara seperti benda terjatuh di antara tumpukan barang-barang yang ada di dalam gerai.

"Seribu ini kalian kasih, pelecehan ini," ucap seorang berpeci mengenakan kafiyeh (serban khas Palestina) kepada kasir seraya mengacung-acungkan uang yang digenggamnya.

Pria bergamis itu bertanya kepada kasir siapa yang telah memberikan uang tersebut. Ia pun membanding-bandingkan pemberian kasir minimarket tersebut dengan sumbangan yang diberi seorang pedagang sayur.

"Pedagang sayur, Rp100 ribu dikasih," sebut pria tersebut, sementara kasir perempuan menjawab bahwa dirinya tidak tahu menahu siapa yang memberi uang tersebut.

Seorang karyawan pria tiba-tiba masuk ke dalam gerai. Tertuduh pemberi sumbangan itu pun tak luput dari kemarahan pria-pria tersebut.

"Kalian cari untung saja di Matangkuli sini," ucap pria berserban.

Pria mengamuk tersebut kabarnya sedang menggalang dana untuk Palestina. Para pria ini belakangan diketahui merupakan remaja masjid setempat.

 

2 of 3

Meminta Maaf

Pria Mengamuk Tak Terima Sumbangan 1000 Rupiah
Video seorang pria mencak-mencak karena tidak terima diberi sumbangan seribu rupiah oleh karyawan sebuah ritel di Aceh viral di media sosial. (Liputan6.com/Rino Abonita)

Kapolsek Matangkuli, Iptu Sudiya Karya mengatakan bahwa insiden tersebut berakhir damai. Para pihak sudah dipertemukan Minggu, 12 Mei 2019.

Pertemuan ini melibatkan manajemen ritel, tokoh, pimpinan, serta lembaga keagamaan setempat. Pihak ritel mengambil sikap tidak melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

"Tadi sudah diselesaikan di masjid Al-Khalifah Ibrahim Matangkuli. Dia (pria berserban) dengan Polsek Matangkuli sudah ketemu, dengan pihak swalayan juga sudah ketemu," ujar Sudiya, kepada Liputan6.com, Minggu malam (12/5/2019).

Sudiya mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada Minggu siang, 11 Mei 2019. Memang sedang ada aksi galang dana untuk Palestina saat itu.

Seorang syekh dari Palestina hadir Masjid Al-Khalifah Ibrahim Matangkuli. Adapun para pria dalam video merupakan remaja masjid yang berasal dari rumah ibadah tersebut.

"Dia juga meminta maaf atas kejadian tersebut. Semoga dia juga tidak akan mengulangi lagi. Disaksikan tokoh agama, pimpinan dayah Waled Sirajuddin, ketua MPU kecamatan, termasuk camat, dan imam besar Masjid Al-Khalifah Ibrahim," sebut Sudiya.

 

3 of 3

Tidak Sesuai Budaya Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Aceh
Masjid Raya Baiturrahman Aceh (Liputan6.com/Rino Abonita)

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. Faisal Ali menyayangkan adanya kejadian seperti itu. Ia berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi.

Menurut Tgk Faisal, seseorang dalam posisi meminta tidak patut mempertanyakan apalagi memarahi orang yang memberi. Terlebih lagi, kejadian tersebut melibatkan karyawan yang notabene bukan pemilik perusahaan.

"Tidak boleh kita marah-marah orang di mana tempat kita meminta sumbangan. Harus kita terima bagaimana kemudan yang diberikan oleh orang itu. Dikasih kita ambil, tidak dikasih jangan dipaksa," kata Tgk Faisal, kepada Liputan6.com, Minggu malam (12/5/2019).

Kejadian tersebut adalah sebuah kealpaan, menurutnya. Hal yang semestinya tidak dilakukan oleh orang-orang yang sedang dalam posisi seperti para pria berpeci dalam video yang viral di jagad maya.

"Orang yang meminta bantuan orang harus mengedepankan peradaban dan tata krama. Tempat kita minta bantuan juga harus dipastikan ia pemilik usaha tersebut," imbuhnya.

Ada dua hal yang dinilai Tgk Faisal penting dalam hal ini. Pertama perihal identitas, di mana legalitas dinilai penting saat seseorang atau lembaga tertentu meminta sumbangan mengatasnamakan aksi penggalangan dana.

Selanjutnya, tidak boleh ada unsur pemaksaan. Soal keikhlasan menyangkut moral kemanusiaan, di mana setiap sedekah yang diberikan punya takaran pahala masing-masing.

"Karena itu bukan budaya kita orang Aceh, dan perilaku orang yang meminta-minta kepada orang lain. Cukup seperti itu, jangan lagi terjadi. Ini harus menjadi yang pertama dan terakhir," pungkas pria yang akrab disapa Lem Faisal.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓