Cerita Seniman Ukir Garuda Wisnu Bali

Oleh Dewi Divianta pada 13 Mei 2019, 02:00 WIB
I Made Ada

Liputan6.com, Denpasar - Salah satu kekuatan Bali adalah nilai seni budayanya. Ya, keduanya tak bisa dipisahkan. Seni merepresentasikan nilai-nilai budaya orang Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu. Ada sentuhan teologis dalam setiap karya seniman Bali.

Hal itu diakui oleh maestro seni ukir asal Banjar Pakudui, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, I Made Ada. Karya I Made Ada telah mendunia. Ia terkenal dengan ciri khas seni ukir patung Garuda Wisnu. Hampir setiap karyanya berupa patung Garuda Wisnu.

Ukirannya detail mencirikan seni ukir Pulau Dewata. Pada acara Media Workshop 'Mengukir Keindahan Seni Ukir Kayu Bali', I Made Ada bercerita jika ia mulai menggeluti seni ukir pada tahun 1966. Seni ukir yang mengalir dalam dirinya diturunkan oleh ayah dan kakeknya yang memang menggeluti seni ukir.

"Saya mulai mengukir pada 1966. Tiga tahun sebelumnya, tahun 1963, Gunung Agung meletus. Orang Bali sangat sengsara. Banyak yang merantau ke luar Bali. Hanya sebagian kecil yang bertahan salah satunya saya," kata I Made Ada di museumnya.

Orang Bali, kata dia, hidup turun temurun dari keindahan seni. Seperti dirinya yang diwarisi tradisi mengukir dari ayah dan kakeknya, kini anaknya pun diwarisi hal serupa.

"Bali hidup dari tradisi yang membudaya. Di museum kami menggali, mengembangkan dan melestsrikan kesenian," papar dia.

Tahun 2002, galeri milik I Made Ada ditetapkan sebagai museum oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia pun memiliki julukan sebagai maestro Garuda Wisnu.

"Filosofi Garuda itu penyelamat segala isi alam bersama Wisnu. Pemelihara alam beserta isinya," katanya yang sejak tahun 2000 membuka sekolah memahat untuk turis mancanegara.

Untuk material kayu yang digunakan, I Made Ada biasanya menggunakan kayu jati, nangka, sonokeling dan kenangan. "Semuanya butuh pelapis baik warna maupun transparan untuk menambah keindahan karya," ujarnya.

 Nico Safavi , COO perusahaan cat Mowilex Indonesia,menjelaskan awalnya tak mengkhususkan untuk para seniman. Namun,  akhirnya memfokuskan kepada mereka lantaran seni ukir memberikan kontribusi besar bagi pendapatan Bali.

Ia menegaskan karya brilian mereka menjadi mahal di pasaran bukan karena cat, namun proses pengerjaan yang membutuhkan waktu lama.

"Semua produk kami aman digunakan konsumen. Tahun 1980-an kami mendapat sertifikat bahwa cat kami tidak beracun dan berbahaya. Waktu itu produk kesenian Bali seperti seni ukir buah banyak beredar di Eropa. Setelah diteliti ternyata aman jika cat ukir itu meski misalnya masuk ke mulut anak-anak," ucapnya.