Gelombang Tinggi Laut Selatan Paksa Ribuan Nelayan Cilacap Libur, Sampai Kapan?

Oleh Muhamad Ridlo pada 10 Mei 2019, 19:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2019, 19:16 WIB
Dua nelayan tengah menjaring ikan dari pinggir pantai Widarapayung, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Keganasan ombak Laut Selatan bukan sekadar mitos. Dahsyatnya gelombang tinggi nan beringas benar-benar terjadi di perairan selatan Jawa dan Samudera Hindia.

Tak sekali dua kali keganasan ombak tinggi menyebabkan hilangnya nyawa. Tentu saja, nelayan yang saban hari beraktifitas di laut menjadi pihak yang paling terancam.

Sejak Selasa, 7 Mei 2019 lalu, ribuan nelayan di pesisir selatan Kabupaten Cilacap dan Kebumen, Jawa Tengah tak melaut menyusul terjadinya gelombang tinggi di perairan selatan Jawa dan Samudera Hindia.

Dari sekitar 15 ribu nelayan, diperkirakan sebanyak 80 persennya tak melaut. Pasalnya, gelombang tinggi sangat berbahaya, terutama bagi perahu kecil.

Sementara, sebagian besar nelayan Cilacap adalah nelayan perahu kecil dengan ukuran mesin antara 3-5 PK. Karenanya, kebanyakan nelayan lebih memilih libur melaut.

“Gelombangnya memang besar. Buat kerja di tengah laut susah. Ya hampir 80 persen, libur, nggak berangkat,” kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Teuku Iskandar Muda, Rabu, 8 Mei 2019.

Ternyata, tak hanya ancaman gelombang tinggi yang menyebabkan nelayan enggan melaut. Teuku bilang ikan sulit didapat lantaran kondisi arus laut yang sedang berubah.

Kini, arus laut tengah dalam masa peralihan dari arus barat ke timur. Akibatnya, hanya ikan-ikan jenis tertentu yang bisa ditangkap. Di antaranya, bawal putih dan layur.

 

2 dari 2 halaman

Gelombang 6 Meter di Samudera Hindia

Ribuan nelayan di Cilacap Libur melaut akibat munculnya gelombang tinggi di perairan selatan Jawa dan Samudera Hindia. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ribuan nelayan di Cilacap Libur melaut akibat munculnya gelombang tinggi di perairan selatan Jawa dan Samudera Hindia. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

“Ya memang nelayan yang melaut kurang, karena hasilnya memang sedikit. Arus airnya sudah berubah, yang jadi kendala itu. Anginnya sekarang sudah mulai timur,” dia menerangkan.

Sebagian kecil nelayan memburuh di kapal besar, untuk menangkap ikan tongkol, tuna atau cakalang. Namun, sebagian besar tetap berada di daratan untuk memperbaiki alat tangkap.

“Kalau kapal-kapal besar itu yang mancing itu masih yang tongkol masih ada. Cakalang lah,” ujarnya.

Teuku mengimbau agar nelayan Cilacap untuk libur sementara waktu. Sebab, gelombang tinggi bisa dengan mudah membalik atau bahkan menghancurkan kapal berukuran kecil.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap, Roosdiana Intan Azhari mengatakan BMKG telah merilis peringatan gelombang tinggi di perairan selatan dan Samudera Hindia.

Gelombang tinggi antara 2,5-4 meter berpotensi terjadi di perairan selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta. Adapun di Samudera Hindia, ketinggian gelombang mencapai enam meter.

Dan itu, terjadi menyeluruh dari Samudera Hindia selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta. Diperkirakan ancaman gelombang tinggi ini terjadi hingga 11 Mei 2019 mendatang.

Roosdiana menerangkan, gelombang tinggi dipicu munculnya pusat tekanan rendah di sisi barat daya sehingga kecepatan angin meningkat hingga 25 knot. Kecapatan angin yang tinggi itu berakibat meningkatnya ketinggian gelombang laut.

Gelombang setinggi 3-6 meter berbahaya bagi seluruh jenis perahu, baik besar maupun kecil. Sebab itu, ia meminta agar nelayan libur melaut beberapa hari ini sambil menunggu perkembangan selanjutnya.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yangberpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” kata Roosdiana.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓