Tiga Menguak Takdir, Ini Kader-Kader Ansor Madura yang Lolos ke Parlemen

Oleh Musthofa Aldo pada 09 Mei 2019, 23:00 WIB
Diperbarui 09 Mei 2019, 23:00 WIB
GP Ansor
Perbesar
Ketua GP Ansor Kabupaten Bangkalan, Hasani Zubair, saat bersama Calon Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin

Liputan6.com, Bangkalan Ketika Joko Widodo memilih KH Ma'ruf Amin jadi calon wakilnya di Pilpres 2019. Pameo atau ungkapan ini ramai muncul di media sosial, bunyinya: calon yang didukung NU selalu kalah.

Pameo ini bersumber dari fakta bahwa banyak tokoh NU selalu gagal bila ikut kontenstasi politik. Sosok KH Abdurrahman Wahid atawa Gusdur adalah pengecualian meski dia sendiri bisa dibilang gagal karena menjadi presiden tak sampai dua tahun.

Setelah era Gus Dur, praktis hanya Hamzah Haz, tokoh NU berikutnya yang berhasil masuk ke istana ketika terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Megawati yang menggantikan Gusdur di tengah jalan.

Tapi ketika nyapres sendiri pada pemilu 2004, Hamzah yang menggandeng Agum Gumelar juga gagal. Kegagalan itu diikuti tokoh NU lain pada Pemilu 2009, ada KH Solahuddin Wahid, adik Gus Dur, yang digandeng Wiranto dan KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU, yang digandeng Megawati. Gagalnya tokoh-tokoh NU inilah yang mendasari munculnya pameo itu: calon yang didukung NU pasti kalah.

Pameo itu semakin kuat, karena kegagalan tokoh NU merambah ke pemilihan kepada daerah. Contoh paling anyar dialami Syaifullah Yusuf yang pernah jadi Ketua Umum GP Ansor. Ia gagal di Pilgub Jatim yang dimenangkan Khofifah, meski didukung mayoritas kiai-kiai NU. Maka pencalonan Ma'ruf Amin pun tak lepas dari bayang-bayang kekalahan itu.

Tapi kini pameo itu tak relevan lagi didengungkan.Sebab, Ma'ruf Amin hampir pasti melenggang ke istana sebagai wakil presiden. Meski Real count KPU hingga kini masih 70 persen, tapi selisih 13 juta antara perolehan suara pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin atas lawannya Prabowo-Sandi sulit dikejar.

2 dari 2 halaman

Sukses di pusat mengalir ke daerah

GP Ansor
Perbesar
Inilah Tiga Kader GP Ansor di Madura yang lolos ke Parlemen

Jejak sukses Ma'ruf Amin di pemilu 2019, rupanya diikuti oleh kader-kader NU di daerah, khususnya di Pulau Madura. Meski di Madura sendiri, Prabowo-Sandi keluar sebagai pemenang Pilpres, namun kader-kader NU dari Gerakan Pemuda Ansor sukses menuju parlemen. Mulai dari DPRD Kabupaten hingga Senayan.

Pertama ada nama Muhri, Ketua GP Ansor Sumenep ini lolos ke DPRD Sumenep. Mantan Ketua PC PMII Sumenep ini meraih total 7.209 suara. Jumlah ini tercatat sebagai suara caleg tertinggi di Sumenep. Muhri maju di Dapil V dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Kedua Syafiuddin, Ketua GP Ansor Pamekasan ini juga diprediksi lolos ke DPRD Pamekasan. Syafiuddin yang juga maju dari PKB lolos dari Dapil Pamekasan 3, namun belum diketahui rincian perolehan suaranya. Lolosnya Syafiuddin ditandai dengan banyak ucapan selamat di Facebooknya.

Ketiga ada sosok muda Hasani bin Zuber. Tidak seperti Muhri dan Syafiuddin yang nyaleg lewat PKB, Ketua GP Ansor Bangkalan ini nyaleg lewat Partai Demokrat sebagai calon DPR RI dapil Madura.

Setelah rekapitulasi suara pemilu di empat kabupaten di Madura rampung, Putera KH Zubair Muntasor, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil ini diprediksi lolos ke Senayan dengan meraih total 172 ribu suara. 

Menanggapi prediksi dirinya lolos ke DPR, Hasani Zuber enggan jumawa meski secara hitungan perolehan suara yang terbanyak di antara calon Demokrat lain. "Terima kasih atas dukungan warga Madura, tapi yang berhak menentukan siapa yang lolos adalah KPU, jadi tunggu saja penetapan dari KPU," kata dia. 

Lanjutkan Membaca ↓