Membingkai Kisah Eks Tapol Kodri, Guru Ngaji Penghuni Pulau Buru

Oleh Muhamad Ridlo pada 08 Mei 2019, 12:00 WIB
Ilustrasi – Pengambilan gambar film dokumenter perampasan tanah usai peristiwa 1965 di Cipari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah . (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Bicara peristiwa 1965, Pulau Buru akan membuntuti di belakangnya. Buru, adalah sebuah pulau di Maluku untuk membuang para tapol atau tahanan politik yang diduga terkait dengan PKI.

Ini adalah kisah Kodri. Sebuah anomali nasib manusia yang hidup pada masa revolusi 1965.

Kodri sejatinya adalah pemuda yang taat beragama. Kodri rajin beribadah dan mengajar anak-anak mengaji, jauh hari sebelum ia disangkutpautkan dengan PKI yang akhirnya membuatnya dibuang ke Pulau Buru.

Kodri boleh dibilang pemuda cerdas. Lazimnya remaja terdidik pada zamannya, ia pun berorganisasi. Ia memilih organisasi Pemuda Rakyat alias PR. Sebuah organ pemuda sayap PKI.

Namun, pilihan organisasi itu lah pangkal derita bertubi-tubi yang dialami Kodri. Usai peristiwa 1965, ia ditangkap dan lantas dibuang ke Pulau Buru.

Pun setelah pulang dari Pulau Buru, Kodri tetap Kodri yang saleh. Bedanya, usai pulang dari Pulau Buru, ia mengajar mengaji anak-anak di langgar sambil diawasi tentara.

2 of 3

Stigma Buruk Eks Tapol

Ilustrasi – Pengambilan gambar film dokumenter perampasan tanah dan kuburan massal usai peristiwa 1965 di Cipari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah . (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ilustrasi – Pengambilan gambar film dokumenter perampasan tanah dan kuburan massal usai peristiwa 1965 di Cipari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah . (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Rupanya, kesalehan Kodri itu tak menghapus stigma yang kadung tersemat. Selain wajib lapor sepekan dua kali ke Koramil, setelah bebas dan pulang dari Pulau Buru, Kodri masih diawasi, dicurigai, bahkan disepelekan.

Pada suatu hari, Kodri yang hanya tinggal bersama ibunya, bertemu Daryo, teman lama sesama bekas tahanan politik di Koramil saat wajib lapor. Merasa senasib sepenanggungan, Daryo meminta Kodri menikahi Sri, adiknya.

Kodri tak menolak tawaran Daryo setelah mendapat restu ibunya. Singkat kata, keduanya menikah.

Mestinya, Kodri begitu menikmati kehidupannya sebagai suami dan calon ayah. Tak lama usai menikah, Sri mengandung.

Namun, hidup Kodri semakin berat. Bukan karena beban ekonomi. Kekhawatiran dan kecemasan terus membayangi eks tapol PKI ini.

Kisah Kodri ini, 40 tahun kemudian diangkat menjadi film fiksi pendek oleh para pelajar SMK HKTI 2 Purwareja, Klampok, Banjarnegara dengan judul, "Buru". Film ini kini tengah memasuki tahap usai produksi.

Di bawah bendera ekstrakulikuler sinematografi Hika Production dan fasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, pengambilan gambar dilaksanakan pada Sabtu-Minggu, 27-28 April 2019, di wilayah Kecamatan Susukan dan Purwareja Klampok.

3 of 3

Tantangan untuk Sineas Muda

Pengambilan gambar film fiksi pendek “Buru”, karya siswa SMK HKTI Purwareja, Klampok, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Pengambilan gambar film fiksi pendek “Buru”, karya siswa SMK HKTI Purwareja, Klampok, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Sutradara film Buru, Supangat mengatakan, ia mesti mempelajari banyak literatur dan referensi tentang sejarah Indonesia tahun 1965. Tantangannya, ia dan teman-temannya juga menyiapkan set film dengan latar tahun 1979.

"Berat memang, tapi kami jadi berkesempatan belajar banyak hal, yang bahkan tidak kami pelajari di sekolah," ujar siswa kelas X jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) ini.

Sama dengan sutradara yang harus mempelajari sejarah 1965, sang pemeran tokoh Kodri, Taufik Setyo Pambudi, mesti mengandalkan literasi. Salah satunya, dengan menonton film pendek bertema 1965 yang jumlahnya hanya tak habis dengan jari.

"Pada dasarnya, saya senang dunia akting, makanya ketika lolos casting, saya menjadikan peran ini sebagai tantangan," ucap Taufik.

Produser yang juga guru pembina ekskul sinema Anggiriani Agustin Puspitasari mengatakan skenario film ini ditulis dari kisah nyata seorang mantan tapol dari Purbalingga.

"Ketika saya tawarkan pada anak-anak, mereka antusias dan menyatakan berani memfilmkan. Ya masa saya takut? Lagi pula, sekolah juga mendukung," tutur guru pengampu pelajaran seni tari ini.

Film ini direncanakan berdurasi 15 menit. Film dipersiapkan untuk ikut serta dalam program Kompetisi Pelajar se-Banyumas Raya, Festival Film Purbalingga (FFP) 2019 yang akan digelar pada 6 Juli-3 Agustus 2019.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓