Cerita Emak-Emak di Garut-Tasik Belajar Mengolah Sampah

Oleh Jayadi Supriadin pada 05 Mei 2019, 23:00 WIB
Juru Bicara PGE unit Karaha Asmaul Khusna nampak antusias mengikuti pelatihan pengolahan sampah rumah tangga bersama seluruh peserta pelatihan

Liputan6.com, Tasikmalaya Mengenakan stelan kaos kuning bertuliskan PGE Unit Karaha, puluhan emak-emak dan bapak-bapak, warga binaan program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Geothermal Energi (PGE) Unit Karaha, Tasikmalaya, Jawa Barat, nampak antusias mengikuti jalannya kegiatan.

Sesekali Abah Irdas, seorang trainer lingkungan, sekaligus pengelola bank sampah, Tasikmalaya dari komunitas Berseka ini, terus menyemangati agar seluruh peserta tetap bersemangat selama pelatihan.

“Ayo mana yel-yelnya,” teriak Juru Bicara PGE Unit Karaha, Asmaul Husna, yang langsung memimpin jalannya pelatihan Program CSR PGE Area Karaha, saat pertama kali membuka ‘Pelatihan Manajemen dan Pengelolaan Sampah’, Jumat (3/5/2019) lalu.

Sontak seluruh peserta yang berasal dari lima desa utama yakni Desa Cinta, Cintamanik, Sukahurip, Kadipaten, dan Dirgahayu di ring satu tempat PGE Unit Karaha tersebut, bak tersengat listrik untuk langsung bersemangat.

Dipimpin Aas, salah satu emak-emak kader senior dari desa Cinta, Garut, mereka langsung beranjak dari tempat duduknya sambil menyanyikan beberapa bait yel-yel yang telah disiapkan.

“Mari kita jaga lingkungan, mari kita jaga kebersihan, agar sehat, sehat, sehat selalu,” demikian sepenggal bait dari yel-yel yang mereka nyanyian, hingga akhirnya sang trainer memimpin jalannya pelatihan.

Ibu miceun runtah ka mana? Paling ka susukan (Ibu membuang sampah ke mana? Paling ke sungai),“ ujar Abah bertanya dengan dialeg sunda-Indonesia itu, kepada seluruh peserta mengawali materinya.

Menurut Abah, pengelolaan dan pengendalian sampah, merupakan tanggung jawab bersama, sehingga dirinya yang mantan pengamen jalanan itu, rela banting setir menjadi aktifis lingkungan, untuk turut serta menyadarkan masyarakat.

“Persoalan sampah itu riil setelah narkoba dan koruptor,” ujar dia mengingatkan peserta.

Dengan kondisi itu, ia kemudian membentuk komunitas bank sampah, sebagai jalan ihtiar dalam menanggulangi persoalan pelik pengelolaan sampah.

“Bank sampah itu bakal tidak ada, jika populasi manusia terkontrol, loba teuing gaya akhirnya modern salah kaprah (terlalu banyak gaya yang mengarah kepada modernisasi, sehingga salah arah),” ujarnya kembali mengingatkan.

Ditemani satu gelas mungil berbahan stanless berisi kopi khas Karaha, terlihat Abah sesekali menikmati hidangan kopi itu, untuk menghangatkan tubuhnya.

Enak oge kopina, komo ieu mah gratis (enak juga kopinya, apalagi ini gratis),” ujar dia sambil bercanda, mencoba ‘mengganggu’ konsentrasi peserta.

Pelaksanaan pelatihan yang diberikan Pertamina memang mengasikan, selain adem bahkan terkesan dingin karena berada di kaki gunung Karaha, juga pola pendekatan yang diberikan perusahaan BUMN itu, cukup mengena bagi peserta.

Tak heran dalam beberapa kesempatan, seluruh peserta terlibat komunikasi secara langsung dengan pemateri, menggambarkan sebuah suasana yang begitu hangat, antara panitia dengan semua peserta yang hadir.

 

2 of 5

Pembuatan Bank Sampah

Puluhan emak-emak nampak antusias berbaur bersama Abah Irdas, seorang trainer lingkungan, sekaligus pengelola bank sampah, Tasikmalaya, dalam proses pemilahan limbah sampah rumah tangga
Puluhan emak-emak nampak antusias berbaur bersama Abah Irdas, seorang trainer lingkungan, sekaligus pengelola bank sampah, Tasikmalaya, dalam proses pemilahan limbah sampah rumah tangga (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Menurut Abah, persoalan pengelolaan sampah memang harus menjadi perhatian bersama. Lemahnya kesadaran masyarakat saat ini, membuat potensi sampah khususnya limbah rumah tangga, akhirnya terbuang sia-sia.

“Makanya mulai hari ini kita coba bagaimana bank sampah ada di antara kita semua,” kata dia.

Dengan tangan terampilnya, ia tak jijik mempraktekan tumpukan sampah berbagai jenis, dalam mengajarkan bagaimana cara memilih dan memisahkan sampah dengan baik.

Empat bak sampah yang berada di kawasan perkantoran perusahaan energi plat merah itu, langsung ia kumpulkan, hingga sejurus kemudian, seluruh peserta ikut serta dalam praktek tersebut.

“Jangan pakai kaos tangan, biar tangan kita terbiasa dengan sampah dan imun tubuh kita juga lebih kebal,” kata dia mengingatkan.

Sambil disisipi guyonan khas sunda, ia mencontohkan bagaimana memungut, memilah dan memisahkan sampah organik dan anorganik, tanpa pengaman sekalipun.

“Semakin kita kenal sampah maka imun tubuh kita akan semakin kebal terhadap penyakit,” kata dia memberi motivasi.

Menurutnya, pemahaman pengelolaan seperti itu harus dimulai dari rumah, agar warga akrab dengan sampah dan alam sekitar. “Kalau kita sayang sama alam, alam pun akan sayang kita, percaya deh,” ujar dia.

Dengan pola pengembangan bank sampah, masyarakat menjadi lebih peka terhadap sampah, dan tentunya bisa memberikan nilai tambah bagi mereka.  

“Bank sampah ini jangan hanya dibahas di ruangan tapi kapan dimulai,” ujar dia menyemangati peserta. 

Ai Nining, (39), kader CSR Pertamina asal Desa Dirgahayu, Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya mengatakan, sejak pertama kali dikenalkan awal tahun ini, kelompok pemberdayaan ibu-ibu dari Dusun Kampung Gekbrong tersebut, sudah dua kali panen sampah. “Lumayan meskipun baru puluhan kilo kami jual,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun bukan itu satu-satunya yang ingin ia gapai. Menurutnya, pengelolaan sampah di tanah kelahirannya, diharapkan menjadi lebih rapih, dan lingkungan sekitar menjadi lebih bersih.

“Kami akan terus sosialisasi ke kampung lainnya, untuk menjadi bagian perubahan ini,” ujar dia.

Ai mengaku, upaya pengembangan bank sampah, memang bukan perkara mudah, selain harus berbenturan dengan pola fikir dan kebiasaan warga, juga pola itu dianggap tidak menguntungkan.

“Ya wajar pernah diledek, lagian kita ingin maju dan berubah,” ujarnya dia sambil tersenyum, membuka sedikit cerita di awal pembangunan bank sampah di sekitar kampungnya.

Namun seiring meningakatnya pendapatan, dan perubahan kondisi alam sekitar menjadi lebih bersih dan tertib, akhirnya banyak warga bergabung. “Sekarang ada sekitar 50 warg yang sudah menjadi anggota komunitas kami,” kata dia.

Setali mata uang dengan Ai, kondisi serupa dialami Aas, kader Pertamina Desa Cinta, Garut. Perlahan pasti, pengelolaan sampah yang ia sudah lebih maju.

Bersama kelompoknya yang sudha berjumlah 30 orang, ia mampu mengubah sampah menjadi kerajinan anyaman yang bernilai guna. “Saya membuat karpet, tas dari cangkang (bungkus) kopi,” kata dia.

Aas mengaku, perkenalannya dengan pengolaan sampah, telah dimulai lima tahun lalu, jauh hari sebelum Pertamina datang. Namun dengan sumbangan informasi jaringan dan pelatihan yang diberikan saat ini, kerja kerasnya sudah mulai dikenal luas.

“Bulan lalu produk dari Cinta ini kita bawa ke Inacraf dan Alhamdulillah banyak peminatnya,” ujar Asmaul Husna, juru bicara Pertamin Unit Karaha, ikut menguatkan pernyataan Aas.

Menurut Una panggilan akrabnya dia, potensi sampah yang melimpah di pelosok desa, bisa menjadi bagian penting dalam pengembangan bank sampah ke depan.

“Kita tengah mengembangkan dan memberikan pelatihan, bagaimana mereka bisa mengolah kerajinan lokal dari bahan alam seperti bambu, kayu pinus dan lainnya,” papar dia.

 

3 of 5

Cara Membuat Pupuk Organik

Abah Irdas, seorang trainer lingkungan, sekaligus pengelola bank sampah, Tasikmalaya tengah mengajarkan peserta pelatihan pengolahan sampah membuat pupuk organik
Abah Irdas, seorang trainer lingkungan, sekaligus pengelola bank sampah, Tasikmalaya tengah mengajarkan peserta pelatihan pengolahan sampah membuat pupuk organik (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Selain memberikan pelatihan bank sampah dan pola hidup sehat dengan alam, Abah Irdas tak ketinggalan memberikan bimbangan soal pembuatan pupuk alam.

Ia terus memotivasi peserta didik pelatihan pertamina itu, ketika mereka tidak memiliki lahan luas dan hewam ternak, sebagai sumber pupuk dari kotoran hewan.

“Sisa makanan dan minuman yang ibu bapak punya di rumah itu, semuanya bisa menjadi pupuk,” ujar dia memberikan informasinya.

Menurut Abah, makanan yang dikonsumsi mengandung kandungan nutrisi yang bisa diurai, dengan bantuan EM4, sejenis bahan bakteri cair pengurai, seluruh sampah rumah tangga bisa diubah menjadi pupuk tanaman.

“Tinggal pisahkan dari plastik dan stereform, bahan tersebut bisa busuk dengan sendirinya,” kata dia.

Dalam prosesnya ujar dia, pembuatan pupuk organik cukup mudah dan murah, tanpa menguras isi kantong cukup dalam. “Harga satu botol EMP4 itu hanya 13 ribu, untuk 1 kuintal lebih bahan campuran sampah,” kata.

Pertama, siapkan satu drum berukuran sedang dengan campuran tanah dan kotoran hewan. Kedua, masukan sampah rumah tangga seperti nasi basi, tulang, dan makanan sisa lainnya.

Ketiga, lakukan pengadukan seluruh sampah yang terkumpul, hingga tercampur di dalam drum tersebut. “Tinggal campurkan satu atau dua sendok EMP 4, dalam dua pekan sudah jadi pupuk alami berkualitas,” ujarnya.

Menurutnya, pola fikir masyarakat terutama petani yang telah menggantungkan hidupnya pada pupuk kimia, memang membutuhkan waktu lama untuk mengubahkan.

Namun seiring praktisnya pembuatan pupuk alami, plus biaya murah, diharapkan mampu merangsang mereka untuk beralih. “Gambaran kecilnya dari 15 kilogram bahan (sampah alami) yang diolah, bisa untuk 50 (@ 5 kg) polybag pupuk siap pakai,” kata dia.  

Bahkan jika warga kesulitan membeli bahan pengurai bakteri EM4, mereka bisa membuatnya secara alami dengan bahan sisa limbah yang tersedia. “Istilanya menggunakan Micro Organisme Lokal atau MOL,” ujar dia.

Sebut saja air cucian rendaman beras, kemudian iwung (bagian paling bawah tanaman bambu), bongol cau (limbah tanaman pisang), dan camburan gula putih secukupnya, bisa menjadi bahan pengurai alami. “Prosesnya sama dengan EMP4, simpan 15 hari jadinya (pupuk organik) sama,” kata dia.

Abah berharap, dengan pengetahun pengolahan sampah yang ia berikan, mampu mendorong masyarakat lebih bijak dalam pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing. “Yang sulit itu bukan mengolah sampahnya tapi pola fikirnya,” kata dia mengingatkan.

 

4 of 5

Pola Pemberdayaan Berkelanjutan

Beberapa produk hasil pemberdayaan warga binaan CSR unit Karaha yang berhasil dibuat dari bahan daur ulang sampah anorganik
Beberapa produk hasil pemberdayaan warga binaan CSR unit Karaha yang berhasil dibuat dari bahan daur ulang sampah anorganik (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Juru Bicara PGE Unit Karaha Asmaul Husna mengatakan, pola pemberdayaan CSR yang diberikan Pertamina, memang berkelanjutan tanpa memberikan bantuan dana tunai secara langsung. “Pemberdayaan yang kami berikan berharap mereka bisa lebih mandiri,” ujar dia.

Khusus pemberdayaan kali ini, terdapat beberapa kegiatan yang diberikan dalam dua hari pelaksanaan itu. Pertama, manajemen keuangan. “Kami juga berikan bantuan fasilitas untuk belasan posyandu yang berada di lima desa binaan kami,” kata dia.

Kedua, pemberdayaan melalui pengolahan sampah, yang diberikan bagi puluhan kader binaan, di sekitar ring satu PGE unit Karaha tersebut. “Selain memberikan ilmunya, kita juga bina pola pengembangannya,” ujar dia.

Ia mencontohkan, pengelolaan sampah dengan pola Bank Sampah dinilai cukup efektif bagi mereka, dalam meningkatkan kesejahteraan. “Respon mereka cukup antusias, sebab sejak dikenalkan mereka langsung mendapatkan keuntungan dari hasil jerih payah mereka,” kata dia.

Selain memiliki nila tambah bagi kesejahteraan mereka lanjut Una, pengembangan bank sampah juga dinilai sebagai salah upaya untuk mengurangi limbah sampah di lingkungan masyarakat.

“Makanya kita berikan juga ilmunya, bagaimana pengelolaan sampah dengan langsung praktek bersama praktisi lingkungan,” ujarnya.

Ia berharap, selain mampu memberikan pemberdayaan yang aplikatif, juga upaya itu sejalan dengan misi perusahaan, dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan berkelanjutan. “Jadi kami sifatnya supporting, hanya memfasilitasi, silahkan praktekan di lingkungan,” ujar dia.

 

5 of 5

Ramah Lingkungan

Puluhan peserta warga binaan CSR Unit Karaha nampak antusias memperhatikan pelatihan pengolahan sampah
Puluhan peserta warga binaan CSR Unit Karaha nampak antusias memperhatikan pelatihan pengolahan sampah (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Seperti diketahui, sejak pertama kali beroperasi di Indonesia, salah satu poin yang selalu dipegang Pertamina, yakni komitmennya menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar atau ramah lingkungan (Acceptability).

Poin ini melengkapi empat poin lainnya yang menjadi perhatian perusahaan energi milik negera tersebut, yakni ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility), daya beli (affordibility), dan keberlanjutan (sustainability).

Tak ayal dalam perkembangan selanjutnya, seluruh proses produksi yang mereka lakukan, mulai hulu hingga hilir selalu memperhatikan kelestarian lingkungan alam sekitar.

Khusus unit Karaha, sejak pertama kali beroperasi penuh April tahun lalu, perusahaan ini mampu menghasilkan sekitar 30 megawatt (MW). Raihan ini merupakan bagian dari 35 ribu MW program pemerintah, dan angsung disambungkan dengan sistem transmisi Jawa – Bali.

Selain Karaha, ladang lain yang dioperasikan PGE adalah PLTP Kamojang, Jawa Barat berkapasitas 235 MW, Lahendong, Sulawesi Utara 120 MW, Ulubelu, Lampung 220 MW serta Sibayak, Sumatera Utara 12 MW. Total produksi PGE sekitar 617 MW di seluruh Indonesia.

Sejak pertama kali dibangun, PGE unit Karaha mampu menghasilkan energi bersih dan ramah lingkungan, sehingga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 202 ribu ton CO2/tahun.

Saat ini, perusahaan yang berada di dua kabupaten Garut-Tasik tersebut, mampu menyerap tenaga kerja hingga 2.700 orang, yang didominasi pegawai dalam negeri hingga 98,1 persen.

Rinciannya sebanyak 26,5 persen dari Kabupaten Garut dan Tasikmalaya, 71,6 persen luar kedua kabupaten itu, sementara tenaga kerja asing hanya 1,9 persen.

Lanjutkan Membaca ↓