Tolak Kekerasan di Hari Buruh, Kapolres Garut Jamin Keamanan Wartawan

Oleh Jayadi Supriadin pada 03 Mei 2019, 22:00 WIB
Diperbarui 03 Mei 2019, 22:00 WIB
Menggunakan area halaman Mapolres Garut, Kapolres Garut namapk berdiskusi dengan sejumlah wartawan Garut, menyikapi aksi kekerasan yang menimpa dua wartawan di kota Bandung oleh oknum polisi, saat perayaan May day kemarin.
Perbesar
Menggunakan area halaman Mapolres Garut, Kapolres Garut namapk berdiskusi dengan sejumlah wartawan Garut, menyikapi aksi kekerasan yang menimpa dua wartawan di kota Bandung oleh oknum polisi, saat perayaan May day kemarin. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut Sebagai buntut dari kekerasan terhadap wartawan saat perayaan May Day kemarin. Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna siap memberikan jaminan keamanan, untuk memberikan perlindungan bagi wartawan Garut, Jawa Bara, saat menjalankan tugas peliputan di lapangan.

“Jangankan sama wartawan, sama yang lain pun kita jaga komunikasi, apalagi sama wartawan yang sudah saya anggap sebagai bagian dari hidup saya,” ujarnya saat menerima audiensi wartawan Garut, sebagai aksi solidaritas bagi wartawan Bandung, yang mendapatkan kekerasan saat peliputan hari buruh kemarin.

Menurut Budi, kehadiran wartawan sangat penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, sehingga kasus yang menimpa wartawan Bandung, sulit terjadi bagi wartawan Garut. “Saya di sini hubungan emosionalnya terjaga baik, kadang guyonan, japri (komunikasi), enak-enak saja,” kata dia.

Sehingga dengan adanya kasus Bandung tersebut, Budi meminta para wartawan di Garut, tak terbawa emosi. “Itu mungkin kekhilafan perseorangan bukan atas nama Polri, kalau di Garut saya jamin aman,” ujar dia, memberikan penegasakan keamanan bagi wartawan Garut.

Ketua PWI Garut, Ari Maulana Karang menyayangkan aksi penganiayaan yang menimpa dua rekannya di Bandung. Padahal seperti diketahui, saat penganiayaan berlangsung, keduanya tengah menjalankan tugas peliputan.

“Kami harap kasus di Bandung kemarin jadi perhatian bagi aparat. Apalagi kedua wartawan itu sudah menunjukkan identitasnya. Usut tuntas dan jangan sampai terulang,” ujarnya.

Audiensi yang dilakukan hari ini ujar dia, merupakan bentuk solidaritas, agar kejadian serupa tidak terulang di kabupaten Garut.  “Selama ini di Garut memang belum ada yang sampai kekerasan fisik. Tapi saya sendiri pernah menjadi korban intimidasi oknum aparat,” katanya.

Janur M Bagus, perwakilan IJTI  Garut menambahkan, kasus kekerasan yang menimpa dua rekannya di Bandung, menunjukan jika kekerasan terhadap wartawan belum berakhir. “Kami minta oknum polisi yang melakukan kekerasan harus diberi sanksi,” pinta dia.

Lembaganya berharap dengan adanya komunikasi dua arah, kekhilafan yang selama ini kerap menjadi alasan petugas, bisa diminimalkan dalam menghadapi medan apapun, saat bersinggungan dengan media. "Bicara saja yang baik, kami pun tentu akan masih memiliki kebijaksanaan," kata dia.