Kelompok Baju Hitam Merusak Cagar Budaya di Malang Saat May Day

Oleh Zainul Arifin pada 02 Mei 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 02 Mei 2019, 04:00 WIB
Warga Malang Geram ke Kelompok Baju Hitam yang Rusak Cagar Budaya saat May Day
Perbesar
Kelompok berbaju hitam mencoretkan tulisan protes di Jembatan Kahuripan yang berstatus cagar budaya di Kota Malang (capture)

Liputan6.com, Malang - Peringatan May Day atau Hari Buruh menyisakan kegeraman bagi sebagian warga Kota Malang, Jawa Timur. Bukan pada aksi buruh, melainkan ulah sekelompok massa berbusana serba hitam yang mencoret struktur Cagar Budaya di kota ini.

Kelompok yang memakai penutup wajah dengan bendera merah-hitam dan simbol A itu mencoret Jembatan Kahuripan yang berstatus cagar budaya Kota Malang dengan tulisan "tolak upah murah". Dalam video berdurasi 29 detik, diunggah akun @Rah3ndra di media sosial twitter.

Mereka sebelumnya ada di antara massa buruh dan mahasiswa yang menggelar aksi hari buruh di kawasan Alun – alun Tugu Kota Malang. Unggahan video itu menuai beragam respon dari warganet. Mengkritik aksi coret - coret di struktur bersejarah tersebut.

“Kenapa tidak di markas tentara saja,” cuit warganet. “Kok tidak di gedung dewan atau balai kota saja saat demonstrasi tadi,” tulis warganet lainnya dalam kolom balasan. Tidak berselang lama, akun pengunggah video itu dikunci.

Sekretaris Tim Cagar Budaya Kota Malang, Agung Buana mengatakan, vandalisme terhadap cagar budaya oleh kelompok baju hitam itu sangat tidak bisa ditoleransi karena merusak jejak sejarah masa lalu.

"Kami mengutuk keras perbuatan oknum yang merusak struktur cagar budaya itu," kata Agung di Malang, Selasa, 1 Mei 2019.

Tim Cagar Budaya Kota Malang juga mengkaji apakah perlu lapor polisi atau tidak tentang aksi massa tersebut. Meminta semua pihak yang ingin menyalurkan aspirasinya tetap menghormati aturan, misalnya tidak merusak cagar budaya.

Jembatan Kahuripan dibangun di masa Hindia Belanda pada 1924. Karena nilai sejarahnya, jembatan ini termasuk satu di antara 32 cagar budaya yang ditetapkan Wali Kota Malang melanggar Perda nomor 1 2018 tentang Cagar Budaya.

“Mereka kelompok yang menamakan diri Anarko seperti di Surabaya, Bandung dan Jakarta,” ujar Agung.

2 dari 2 halaman

Kontra Produktif

Warga Malang Geram ke Kelompok Baju Hitam yang Rusak Cagar Budaya saat May Day
Perbesar
Massa berbaju hitam ada di barisan belakang massa aksi Hari Buruh 1 Mei 2019 di Alun - alun Tugu Malang (twitter)

Kelompok serba hitam itu sendiri berbaur bersama ratusan massa aksi hari buruh dari berbagai elemen organisasi di depan Balai Kota Malang. Namun para peserta aksi tidak dapat mengenali dari mana mereka berasal karena memakai penutup wajah.

“Mereka ada di barisan belakang massa aksi, tapi tidak ikut orasi. Kami tidak tahu siapa, kan pakai penutup wajah,” kata Juru Bicara Aliansi Rakyat Malang Bersatu, Abdurrahman Sufyan.

Kelompok tersebut juga tidak ikut saat diskusi jelang peringatan hari buruh. Meski demikian, aliansi tidak menolak kedatangan kelompok tersebut. Sebab peserta aksi bisa berasal dari berbagai kalangan yang mau datang ikut unjukrasa.

"Mereka tidak menyusup, karena kami mengundang terbuka. Siapa saja bisa datang dan ikut aksi,” tutur Sufyan.

Kemunculan sekelompok berbaju hitam saat May Day tidak hanya di Malang saja. Tapi juga di Jakarta, Bandung, Surabaya dan daerah lainnya. Diidentifikasi penganut ideologi anarkisme yang digagas filsuf Rusia, Mikhail Bakunin.

In'amum Mustofa, Direktur Intrans Institute sebua lembaga kajian dan peneliti menyebut ada gerakan anarkisme yang memilih target simbol kapitalisme seperti pusat perbelanjaan maupun simbol – simbol negara sebagai bentuk protes.

“Ada yang menggunakan metode boikot dan sabotase seperti unjukrasa. Tapi ideologi ini terpecah menjadi beberapa faksi," kata In'am.

Ia menyebut hari buruh jadi momentum kelompok ini untuk muncul di permukaan. Bahkan tahun lalu ada yang sampai melempar bom molotov saat peringatan hari buruh di Yogyakarta. Tidak jarang mereka yang bukan bagian kelompok ini turut jadi korban saat dibubarkan aparat.

“Dalam konteks vandalisme di Malang, ini malah kontra-produktif. Bisa jadi tidak tahu jembatan itu status cagar budaya atau pemahaman yang kurang,” kata In’am.

Lanjutkan Membaca ↓