Sepak Terjang Pelaku Penculikan Bocah di Kendari, Jago Lari Lalu Menghilang

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 01 Mei 2019, 00:01 WIB
Diperbarui 02 Mei 2019, 12:14 WIB
Penculikan Anak

Liputan6.com, Kendari - Sepak terjang pelaku penculikan berinisial PAP yang diduga oknum anggota TNI Yonif 725 Woroagi di Sulawesi Tenggara ternyata berprestasi dan cukup disegani di angkatannya.

Sekitar 2 tahun lalu, sekitar 2017, pelaku pernah mencatatkan diri sebagai juara Cross Country (lomba lari lintas alam) yang diikuti seluruh perwakilan anggota TNI terbaik se-Indonesia.

Saat itu pelaku berpangkat Prajurit Dua (Prada) dan sebelum disersi (tidak bertugas). Selain itu, di angkatannya, pelaku dikenal memiliki fisik yang kuat dan mampu bertahan lebih lama pada sejumlah latihan fisik.

Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Diki Kurniawan mengatakan, pelaku terhitung sangat cepat. Sebab saat dalam pengejaran, pelaku sempat terjatuh dari atas motor. Pelaku menjadikan korban tameng, sambil terus melarikan sepeda motornya dengan kencang.

Namun sambil berlari kencang, pelaku bisa memeluk korban sambil berguling di rumput.

"Pelaku kemudian bangkit dengan cepat karena di belakangnya ada mobil anggota kami. Hanya berjarak beberapa meter, pelaku langsung bangkit, dan lari masuk hutan setelah jatuh. Kita hanya selamatkan korban dan amankan motor pelaku penculikan yang ternyata juga dicuri dari orang," ujar Diki.

Pihaknya pun berkoordinasi dengan Denpom TNI dan pihak Korem 143 Jali Oleo untuk menindak pelaku. "Kami sementara cari dengan bantuan TNI. Kami harap bisa menemukan pelaku secepatnya," ujarnya.

Sebanyak 7 anak di bawah umur hilang secara misterius di Kota Kendari sejak Kamis, 25 April 2019, malam hingga Senin, 29 April 2019. Setelah hilang dari sekolah dan rumah selama beberapa jam, ketujuh bocah itu ditemukan di beberapa lokasi di Kota Kendari. Dugaan ketujuh bocah itu korban penculikan pun menguat.

2 of 3

Menghilang ke Hutan

Ilustrasi hutan
Ilustrasi hutan (iStock)

Saat polisi melakukan penyelidikan, anak yang diduga hilang itu ternyata berada sekitar 20 kilometer di wilayah hutan di pinggiran Kota Kendari. Pengejaran pun dilakukan bersama Kodim 1417 Kendari.

Komandan Kodim 1417 Kendari Letkol Fajar Luvti Haris Wijaya mengatakan, PAP lahir di Desa Romean Kecamatan Yaru Kabupaten Maluku Tenggara, pada 21 Januari 1994. Dia sudah ditetapkan sebagai DPO pada 13 September 2018 oleh kesatuannya.

"Kami dan polisi cari pelaku yang saat ini lari di wilayah Hutan Nanga-nanga Kendari. Seperti teman teman tahu, dia lari ke arah hutan dan sampai saat ini belum ditemukan," ujar Dandim Kendari.

Sudah berkali-kali desersi dari tugas, dia menambahkan pelaku sudah tidak masuk (in absentia) di Yonif 725 sejak setahun. Yang bersangkutan masuk sebagai anggota TNI sejak 2015 di Yonif 725 Woroagi.

"Dia desertir Yonif 725 Woroagi, dia sudah keluar, desersi sejak setahun yang lalu. Dia sudah tidak tercatat sebagai prajurit TNI," ujar Fajar Luvti Haris Wijaya.

Informasi yang beredar, pelaku juga pernah melakukan kekerasan seksual pada seorang wanita pada 2016 dan sudah ditindak tegas kesatuannya. Namun, belum ada yang bisa dikonfirmasi soal informasi ini.

3 of 3

Korban Alami Kekerasan Seksual

Ilustrasi Liputan Khusus Penculikan Anak
Ilustrasi penculikan

Saat ditemukan warga dan orangtuanya, semua anak yang berjenis kelamin perempuan ini dalam kondisi lemah. Dan ketujuhnya diduga sudah mengalami kekerasan seksual oleh pelaku penculikan sebelum ditemukan kembali.

Enam anak korban penculikan ini ditemukan dengan beberapa bercak darah di pakaiannya. Sementara, satu anak diduga tidak sempat mengalami kekerasan seksual.

Laporan hilang dua anak di bawah umur awalnya pada Kamis, di wilayah Kelurahan Kemaraya, Kota Kendari. Beberapa jam setelah itu, keduanya ditemukan di depan Kompleks Kantor Museum Sulawesi Tenggara pada malam hari.

Laporan kehilangan kedua, terjadi pada Jumat (26/4/2019). Awalnya, satu anak dilaporkan hilang dari rumahnya, kemudian menyusul satu laporan lagi soal hilangnya anak secara misterius. Keduanya ditemukan beberapa jam setelahnya.

Laporan ketiga, terjadi pada Minggu (28/4/2019). Satu anak hilang dan beberapa jam kemudian ditemukan warga dan orang tuanya. Laporan keempat, terjadi pada Senin (29/4/2019) sekitar pukul 15.30 Wita, seorang anak perempuan dijemput dari sekolah oleh seseorang yang mengaku pamannya.

Orangtua korban langsung melaporkan ke Polsek Mandonga Kendari saat tidak menemukan anaknya di sekolah, Senin (29/4/2019). Dia mengatakan, baru sadar jika anaknya hilang saat menjemputnya sekitar pukul 16.00 Wita dari sekolah.

"Saya ketemu tinggal teman-temannya. Mereka bilang, anak saya dijemput orang dengan motor oleh pamannya. Saya langsung pulang dan melapor," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓