Kisah Ayah Korbankan Nyawa demi Sang Anak Saat Banjir Bandang di Pemalang

Oleh Muhamad Ridlo pada 25 Apr 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 27 Apr 2019, 11:13 WIB
Tim SAR Gabungan berkoordinasi untuk mencari empat korban yang dinyatakan hilang hanyut di Sungai Rajasa, Belik, Pemalang. (Foto: Liputan6.com/BPBD Pemalang/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Pemalang - Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB ketika puluhan orang, ratusan orang bahkan, masih menyusuri pinggiran Sungai Rajasa, Pemalang. Dalam senyap, mereka berupaya mencari empat korban tenggelam sungai ini, sore harinya.

Duka meruap dari tiap sudut Desa Beluk Kecamatan Belik. Enam warga desa ini, terseret banjir bandang Sungai Rajasa.

Hingga malam tiba, baru dua korban ditemukan. Empat lainnya, masih tersembunyi, tenggelam di derasnya aliran Sungai Rajasa.

 

Adalah Iis, bocah berusia 11 tahun asal Desa Beluk. Rabu sore, ia bersama dengan empat kawannya bermain di Sungai Rajasa.

Mereka tak mengetahui hujan lebat menyebabkan debit sungai bagian hulu ini naik. Ribuan kubik air bah siap dimuntahkan dan menerjang apa saja di alirannya.

Lima sekawan ini tetap bermain seperti biasa. Sampai akhirnya, tanpa mereka sadari, banjir bandang sudah di depan mata.

Mereka tak bisa menyelamatkan diri. Lima anak ini tenggelam terseret arus Sungai Rajasa yang begitu ganas.

Peritiwa itu diketahui oleh Tarno, yang juga ayah salah satu anak yang tenggelam, Iis. Mengetahui anaknya tenggelam, Tarno berupaya menolong.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 of 2

Fokus Pencarian Korban Tenggelam Sungai Rajasa

Tim SAR Gabungan berkoordinasi untuk mencari empat korban yang dinyatakan hilang hanyut di Sungai Rajasa, Belik, Pemalang. (Foto: Liputan6.com/BPBD Pemalang/Muhamad Ridlo)
Tim SAR Gabungan berkoordinasi untuk mencari empat korban yang dinyatakan hilang hanyut di Sungai Rajasa, Belik, Pemalang. (Foto: Liputan6.com/BPBD Pemalang/Muhamad Ridlo)

Ia berupaya menggapai anaknya yang terseret arus. Namun, ganasnya banjir bandang tak sepadan dengan kekuatan Tarno. Dia justru turut tenggelam bersama anak dan empat rekannya.

"Kebetulan ada orangtua satu yang mau menolong anaknya, yang namanya Tarno, tapi malah ikut terbawa arus juga, meninggal dunia," ucap Kepala pelaksana harian BPBD Pemalang, Wismo, Rabu malam.

Pencarian pun langsung digelar oleh tim SAR gabungan. Basarnas, tim BPBD, relawan dan masyarakat Beluk berjibaku mencari korban tenggelam.

Jenazah Iis adalah yang kali pertama ditemukan oleh tim SAR. Jasadnya ditemukan sekitar pukul 16.30 WIB.

Tak lama kemudian, Tarno, sang ayah ditemukan. Namun, ia pun ditemukan tak bernyawa sekitar pukul 17.15 WIB.

"Ditemukan dalam kondisi MD dan telah diserahkan pada pihak keluarga," kata Wismo saat dihubungi Liputan6.com.

Tim SAR gabungan kini fokus pada pencarian empat korban yang belum ditemukan. Keempat korban tersebut yakni, Tendi bin Teguh (11), Fatir Bin Arla (12), Rahma bin Wawa (11), dan Diki (11). Korban adalah warga Beluk Kecamatan Belik, Pemalang.

Nyaris seluruh warga Beluk juga terlibat dalam pencarian ini. Mereka menyusuri sungai hingga bendungan yang berjarak kisaran tiga kilometer dari lokasi bencana.

"Ada kemungkinan korban hanyut sampai ke bendungan," dia mengungkapkan.

Rencananya, jika seluruh korban tak ditemukan Rabu malam, pencarian akan dilanjutkan pada Kamis pagi. Dalam kondisi terang dan debit sungai yang turun, pencarian diperkirakan akan lebih mudah dilakukan.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by