Kajian Konservatisme Era Revolusi Industri 4.0 di Yogyakarta

Oleh Switzy Sabandar pada 24 Apr 2019, 22:00 WIB
konservatisme

Liputan6.com, Yogyakarta Konservatisme yang kembali marak di era Revolusi Industri 4.0 tidak hanya terjadi di Indonesia. Fenomena ini juga terdapat di nyaris seluruh negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Inggris, Timur Tengah, Myanmar, dan sebagainya.

Persoalan ini mendorong Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) bersama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)  menggelar seminar dan lokakarya. Kegiatan bertajuk 'Tantangan Agama dan Harkat Kemanusiaan di Era Sintesis' ini akan digelar pada 25 sampai 26 April 2019 di Sekolah Pascasarjana UGM.

"Kami melihat ada tren yang mengkhawatirkan, yakni konservatisme, yang sebenarnya tidak hanya soal agama tetapi juga politik, sosial, dan budaya," ujar Dicky Sofjan, akademisi ICRS, dalam jumpa pers di UGM, Selasa (23/4/2019).

Ia menyebutkan hakikat konservatif ada tiga, yakni, percaya satu sumber kebenaran, mendambakan kepemimpinan yang kuat, dan menggunakan metode mobilisasi umum.

Menurut Dicky, semakin maju peradaban, justru manusia semakin teralienasi atau terasing. Mereka cenderung mencari makna kehidupan yang membangun kekhawatiran diri.

Ketika memasuki Revolusi Industri 4.0, media sosial sebagai pengembangan dari artificial intelligent memperkuat kondisi tersebut. Konservatisme agama muncul ketika agama menjadi dua, agama lama yang diunggah ke internet  dan agama internet.

Agama internet memunculkan ajaran baru yang membuat orang belajar dan memahami ajaran agama justru lewat media sosial, misal Youtube. Masuknya agama ke media sosial membuat polarisasi lebih besar di masyarakat.

"Ini yang jadi tantangan kita semua bagaimana menghadapi itu," kata Dicky.

Ia mengungkapkan, literasi keagamaan dapat memitigasi beragam persoalan konservatisme yang berkembang. Literasi keagamaan bukan berarti menambah pelajaran agama di institusi pendidikan, melainkan membangun kesadaran masyarakat tentang arti penting keberagaman agama. Artinya, bagaimana seseorang yang mengimani agamanya dapat menghargai perbedaan dan berinteraksi secara sehat dengan  orang yang berbeda agama dan kepercayaan.