Wereng Mengganas hingga Bikin Gosong Padi Siap Panen di Cilacap

Oleh Muhamad Ridlo pada 29 Mar 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 29 Mar 2019, 15:00 WIB
Serangan Wereng menyebabkan tanaman padi gosong dan puso. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Tanaman padi di area seluas kurang lebih 1.500 meter persegi di Cibenda, Desa Karanganyar, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, itu tampak kering kusut. Beberapa bagian lainnya lebih parah, gosong dan rebah akibat serangan wereng.

Di petakan sebelahnya, serangan wereng masih berupa spot-spot tak beraturan. Warnanya yang kering gosong tampak kontras dibanding dengan tanaman padi yang menguning.

Di petak sebelahnya lagi, suara para pemanen meningkahi suara berisik mesin perontok padi. Ada dua mesin dengan sekitar 10 pekerja. Tiga pekerja lainnya memanen dengan cara tradisional, yakni gepyok.

Pemilik petak sawah ini adalah Suwardi. Petani asal Desa Cisumur, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, ini terpaksa panen dini untuk mengantisipasi serangan wereng yang mengganas menjelang panen raya masa tanam pertama (MT 1) 2019 ini.

Tanaman padi di sawahnya itu kini baru berumur 100 hari. Untuk mencapai usia panen optimal, butuh kira-kira 10 hari lagi.

Akan tetapi, ia terpaksa memanen padinya lebih cepat lantaran khawatir serangan wereng berdampak lebih parah. Pasalnya, beberapa bagian tanaman padinya sudah mulai kering atau gosong terserang wereng.

“Makanya cepat dipanen. Sebenarnya umurnya belum cukup,” ucapnya, Rabu sore, 27 Maret 2019.

Saksikan video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Dampak Serangan Wereng

Petani memanen dini padinya untuk mengantisipasi serangan wereng yang semakin mengganas. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Petani memanen dini padinya untuk mengantisipasi serangan wereng yang semakin mengganas. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Suwardi masih beruntung dibandingkan pemilik petak-petak sawah di sebelahnya. Padinya sempat dipanen dengan normal, meski hasilnya jelas menurun.

Akibat panen dini hasil panennya kali ini dipastikan turun antara 15-20 persen. Akan tetapi, ia lebih memilih panen dini daripada terserang lebih parah.

Sebab, dalam kondisi serangan wereng parah, padi siap panen akan gosong dan rebah. Saat rebah, bulir gabah terendam air dan mengakibatkan penurunan mutu.

Wereng itu ditularkan dari petakan sawah di sebelahnya yang bisa dikatakan gagal panen atau puso. Pasalnya, dari luasan yang ada, hanya tersisa 10 persen padi yang utuh. Lainnya telah gosong akibat serangan wereng.

Dalam kondisi normal, padi seluas 1.400 meter persegi setidaknya menghasilkan satu ton gabah kering panen (GKP). Namun akibat serangan wereng, hasilnya diperkirakan tak sampai 50 kilogram. Adapun petakan miliknya, ia menyebut dampaknya adalah penurunan hasil panen hingga 20 persen.

“Yang ini, paling sisanya 10 persen. Tidak sampai 50 kilogram,” katanya, sembari menunjukkan petakan sawah yang tanaman padinya nyaris gosong semua.

Suwardi mengemukakan, serangan wereng kali ini terjadi saat masa generatif atau padi mulai berbunga. Namun, dalam waktu cepat serangan wereng mengganas dan cepat menyebar ke area lainnya.

Ia pun mengaku sudah dua kali menyemprotkan pestisida di sawahnya yang seluas 3.500 meter persegi. Tetapi, lantaran tak dilakukan serentak dengan petani lainnya, wereng berhasil kabur dan tetap menyerang di hari-hari berikutnya.

“Kalau diibaratkan kanker, ini kanker ganas-lah. Cepat sekali serangan werengnya,” ujarnya.

Serangan wereng rupanya tak hanya terjadi di area persawahan Cibenda. Wereng juga menyerang tanaman padi di Cisumur dan Gandrungmanis Kecamatan Gandrungmangu. Dia menduga curah hujan yang meningkat sekitar sebulan terakhir memicu parahnya serangan.

Lanjutkan Membaca ↓