PVMBG Terbitkan Peringatan Keselamatan Jalur Penerbangan

Oleh Arie Nugraha pada 28 Mar 2019, 08:03 WIB
Gunung Bromo Masih Aman Dikunjungi

Liputan6.com, Bandung - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menerbitkan peringatan keselamatan jalur penerbangan akibat abu vulkanik erupsi (letusan) 11 gunung api di Indonesia.

Peringatan keselamatan jalur penerbangan itu, telah disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ke otoritas berwenang nasional maupun internasional, seperti Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, BMKG, Air Nav, Air Traffic Control, Airlines, VAAC Darwin, hingga VAAC Tokyo.

Kasbani, Kepala PVMBG Badan Geologi mengatakan, letusan abu vulkanik yang dianggap mengancam jalur penerbangan terbaru berasal dari Gunung Bromo, JawaTimur. VONA terakhir terkirim kode warna orange kata Kasbani, terbit tanggal 26 Maret 2019 pukul 16.50 WIB.

"Terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.529 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.200 meter di atas puncak. Angin bertiup ke arah timur laut dan utara," kata Kasbani, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Rabu (27/3/2019).

Kasbani menjelaskan, berdasarkan rekaman seismograf tanggal 26 Maret 2019, tercatat gunung yang memiliki ketinggian 2.329 meter diatas permukaan laut itu mengalami gempa tremor Menerus dengan amplitudo 0,5–27 milimeter dan dominan di angka 4 milimeter. Sedangkan untuk tingkat aktivitasnya, sebut Kasbani, masih di Level II atau Waspada dengan erupsi tidak menerus.

Atas adanya aktivitas vuknalogi tersebut, rekomendasi yang diterbitkan oleh PVMBG kepada masyarakat, pengunjung atau wisatawan, agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 kilometer dari kawah puncak. Dua hari sebelumnya tanggal 25 Maret 2019, VONA untuk tiga gunung api yaitu Gunung Karangetan, Anak Krakatau dan Dukono diterbitkan otoritas vulkanologi dan mitigasi bencana geologi tersebut.

Kasbani menuturkan, Gunung Karangetang, Sulawesi Utara disebutkan VONA terakhir terkirim kode warna yellow, diterbitkan tanggal 25 November 2018 pukul 13.32 WITA. Hal itu terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian setinggi 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, dengan kondisi angin bertiup ke arah Timur dan Tenggara.

"Tingkat aktivitas Level III atau Siaga, kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Maret 2019 tercatat terjadi empat kali gempa guguran 21 kali gempa hybrid, enam kali gempa vulkanik dalam,tujuh kali gempa vulkanik dangkal, lima kali gempa hembusan, delapan kali gempa tektonik jauh. Terjadi tremor menerus dengan amplitudo 0,25–0,28 milimeter, dominan diangka 0,25 milimeter," ujar Kasbani.

Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12.00 WITA, rekomendasi teknis Gunung Karangetang yaitu masyarakat dan pengunjung atau wisatawan diimbau agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya.

Radius bahaya yang ditetapkan adalah 2.5 kilometer dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan), serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang. Masyarakat yang tinggal disekitar gunung, dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

"Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang, agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai," ungkap Kasbani.

Sementara untuk Gunung Anak Krakatau di Lampung dan Dukono di Maluku Utara, VONA terakhir terkirim dengan kode warna orange. Peringatan jalur penebangan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, terbit tanggal 25 Maret 2019 pukul 06.18 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan lama gempa 148 detik. Namun secara visual bentuk fisiknya tidak teramati.

Catatan seismograf tanggal 26 Maret 2019 menunjukkan satu kali gempa vulkanik dalam, empat kali gempa hembusan dan tremor menerus dengan amplitudo 1–5 milimeter, dominan diangka 1 milimeter. Masyarakat atau wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah.

"Terkait Gunung Dukono, VONA terakhir terbit tanggal 25 Maret 2019 pukul 08.18 WIT. Terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 1.629 meter di atas permukaan laut atau sekitar 400 meter di atas puncak. Kodisi angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan," terang Kasbani.

 

2 of 2

7 Gunung Lainnya

PVMBG Badan Geologi memaparkan 7 gunung api lainnya yang diterbitkan peringatan keselamatan jalur penerbangan antara lain Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Ketinggian kolom abu Gunung Sinabung sekitar 3.460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.000 meter di atas puncak dengan kondisi angin bertiup ke arah barat-selatan.

Kondisi berbeda teradi di Gunung Agung, Bali. Meski tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Letusannya terekam di seismogram dengan amplitude maksimum 23 milimeter yang berdurasi 1 menit 47 detik.

Letusan dengan ketinggian kolom abu maksimum sekitar 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak terjadi di Gunung Soputan, Sulawesi Utara, yang mengakibatkan diterbitkannya VONA. Untuk di kawasan Jawa Tengah - Yogyakarta diterbitkan hal yang sama akibat adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak Gunung Merapi.

Aktivitas gunung api lainnya yang dianggap akan menganggu jalur penerbangan adalah Gunung Ibu dan Gamalama di Maluku Utara, serta Gunung Kerinci di Jambi. Aktivitas gunungapi lain dalam pemantau PVMBG Badan Geologi, dengan status di atas normal sampai pagi tadi belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan. 

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓