Senandung Nelayan Cilacap di Tengah Gelombang Tinggi Laut Selatan

Oleh Muhamad Ridlo pada 28 Mar 2019, 23:02 WIB
Diperbarui 28 Mar 2019, 23:02 WIB
Perairan laut Selatan Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Perairan laut Selatan Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Akhir-akhir ini, gelombang tinggi laut selatan nyaris selalu terjadi pada musim angin barat ini. Ribuan nelayan di Cilacap, Jawa Tengah pun terpaksa libur melaut.

Sebagian mencari pekerjaan lain, ada yang menjadi buruh bangunan atau pekerja serabutan. Lainnya, memperbaiki alat tangkap seperti jaring, pancing atau perahu.

Gelombang tinggi dan cuaca buruk membuat mereka sadar diri. Alam tak bisa bisa dipaksa untuk selalu bersahabat. Dasarian akhir Maret 2019 ini, ombak perairan selatan mencapai ketinggian 2,5-4 meter dan selalu disertai dengan angin kencang.

"Kalau sedang libur melaut biasanya ya pekerjaan apa saja yang didapat," kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Teuku Iskandar Muda, Rabu, 26 Maret 2019.

Tetapi, tak semua takluk pada ganasnya ombak laut selatan. Sebagian dari mereka tetap nekat melaut meski ancaman gelombang tinggi dan cuaca buruk bak hantu yang selalu siap menyergap ketika lengah.

Bukan menantang alam. Tetapi, para nelayan dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara, mencari ikan adalah satu-satunya keahlian yang mereka miliki.

Mereka pun sadar, di tengah alam, manusia tak ada artinya. Di tengah laut, perahu seisinya laksana buih yang terombang-ambing tak menentu. Nelayan pasrah kepada yang maha kuasa. Doa adalah senandung yang mengantarkan nelayan untuk melaut.

Nelayan melaut dengan sistem jolokan ketika terjadi gelombang tinggi. Yakni, melaut jarak dekat dan dalam waktu yang lebih pendek dibanding normalnya.

2 dari 3 halaman

Batas Melaut

Nelayan Cilacap ada yang memilih menjaring ikan dari pinggir pantai. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Nelayan Cilacap ada yang memilih menjaring ikan dari pinggir pantai. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Tentu mereka punya cara untuk melaut di tengah ancaman gelombang tinggi. Dilahirkan di tengah masyarakat pesisir membuat mereka sarat pengalaman. Sebagian diajarkan oleh tetua-tetua, lainnya adalah gemblengan langsung melaut di Samudera Hindia yang terkenal ganas.

Biasanya nelayan tradisional dengan ukuran perahu di bawah ukuran lima groos ton (GT) melaut ke timur hingga perbatasan Kebumen dan ke barat hingga perbatasan Pangandaran. Kini, nelayan hanya bisa melaut di kawasan selatan Cilacap tidak lebih dari lima mil laut atau hanya di sekitar Pulau Nusakambangan.

"Akhirnya daerah operasinya tidak bisa terlalu jauh. Pertama karena ada gelombang, kedua khawatir ancaman angin kencang, kan mereka bisa repot, susah," Teuku menjelaskan.

Meski melaut, nyatanya hasil tangkapan nelayan pun terbatas. Sebab, dalam kondisi laut bergelombang tinggi, nelayan tidak bisa melaut dalam waktu normal. Selain itu, nelayan pun tak bisa mencari ikan di tempat biasanya.

Ditambah lagi, air laut kerap keruh. Dalam kondisi keruh, ikan jarang naik ke permukaan. Imbasnya, jaring nelayan kerap kosong melompong.

"Sebenarnya, sih enggak musim panen ikan, lagi susah juga cari ikan. Cuma karena kebutuhan saja, daripada di rumah saja, mau nggak mau akhirnya ya tetap melaut," ucapnya.

Teuku mengemukakan, nelayan Cilacap yang terdaftar sebagai anggota HNSI berjumlah sekitar 11 ribu orang. 80 persennya adalah nelayan kecil atau nelayan tradisional dengan ukuran kapal kurang dari lima groos ton.

3 dari 3 halaman

Jaket Pelampung Sekadar Pajangan

Kapal nelayan bersandar di perairan Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Kapal nelayan bersandar di perairan Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kapal ukuran ini sangat rawan terbalik atau bahkan pecah jika dihantam ombak tinggi. Karenanya, kalau pun nekat melaut, HNSI mengimbau agar nelayan mengenakan pelampung.

Nelayan juga diminta untuk benar-benar memperhatikan prakiraan cuaca yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ke masing-masing kelompok nelayan, Pelabuhan Perikanan dan Pengelola Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

"Imbauan sebenarnya sudah ya. Tapi namanya nelayan asal masih ada ikan gelombang tinggi juga diterjang," ujarnya.

Komandan Basarnas Pos SAR Cilacap, Moelwahyono mengakui, kesadaran nelayan untuk melaut secara aman masih rendah. Nelayan disebut paling bandel ketika harus memakai life jacket atau jaket pelampung.

Sebagian nelayan beralasan jaket pelampung membuat mereka tak leluasa saat beraktifitas di laut. Akhirnya, kebanyakan justru menaruh pelampung di palka kapal.

Contoh teranyar adalah nelayan yang dinyatakan hilang tenggelam di Karangduwur, Kebumen. Nelayan itu, tengah menarik tali pancing rawe yang menyangkut di karang. Saat ditarik tali putus dan si nelayan terpental jatuh ke laut.

"Itu tidak memakai pelampung. Jadi imbauan kami nelayan membiasakan diri memakai pelampung," Moelwahyono menegaskan.

Sepanjang 2019, sebanyak sembilan kecelakaan air terjadi di perairan selatan Jawa Tengah. Lima korban wisatawan, sisanya adalah nelayan dan penambang pasir.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓