4 Hal yang Harus Dimiliki Mahasiswa Milenial di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh Switzy Sabandar pada 26 Mar 2019, 15:01 WIB
Mahasiswa Milenial

Liputan6.com, Yogyakarta Memasuki era revolusi industri 4.0, mahasiswa tak cukup bermodalkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Kecerdasan emosional menjadi hal yang tidak kalah penting untuk menyongsong zaman serba cepat dan digital ini.

Dekan sekolah vokasi UGM, Wikan Sakarinto, mengungkapkan Indonesia diramalkan akan memperoleh bonus demografi pada 2040, yakni menjadi negara lima besar dunia di bidang ekonomi.

"Untuk membuktikan kita bisa menang, harus adaptif terhadap perubahan," ujarnya di sela-sela diskusi publik bertajuk "Tantangan Universitas Menyiapkan Generasi 4.0" di hall Sekolah Vokasi UGM, Senin (25/3/2019).

Lewat diskusi ini, ia ingin memaparkan karakter mahasiswa yang tepat menjadi pemimpin aktor perubahan dan mengisi perubahan di masa depan. Menurut dia, universitas memiliki roadmap untuk mengawal perubahan. Infrastruktur yang memadai harus diikuti dengan konten yang cerdas.

"Konten disiapkan melalui pendidikan, mahasiswa dengan IPK tinggi itu masa lalu, yang terpenting sekarang communication skill, literasi teknologi informasi, kepemimpinan, dan critical thinking," ucap Wikan.

Universitas juga harus mereformasi kurikulum, sehingga mendukung perubahan. Sekolah vokasi UGM mulai tahun ini tidak menerima mahasiswa D3 dan hanya menerima sarjana terapan D4.

Perbedaan signifikan di antara keduanya adalah produk yang dihasilkan selama kuliah. Sarjana terapan harus menghasilkan produk dan bisa digarap secara lintas disiplin, lalu mematenkannya.

"Hal ini akan memunculkan sarjana dari mahasiswa yang berinovasi dan mereka juga magang di industri dalam dan luar negeri," kata Wikan.

2 of 2

Dukungan Pemerintah

Mahasiswa Milenial
Mahasiswa milenial sudah tidak cukup bermodalkan IPK tinggi dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho menjelaskan, pemerintah mendukung keberadaan sekolah vokasi dan lulusannya, termasuk sekolah vokasi jenjang menengah atau SMK.

"Persoalan yang dihadapi saat ini adalah ketidakcocokan antara kebutuhan industri dengan lulusan sekolah vokasi jadi pemerintah mendorong supaya ada kesesuaian," ucapnya.

Ia menyebutkan angka pengangguran di Indonesia saat ini terendah sejak 1998, yakni 5,3 persen. Namun, pengangguran terbanyak justru didominasi lulusan SMK.

Menurut Yanuar, Presiden Joko Widodo merevitalisasi ini sejak awal. Lewat sekolah vokasi ada peningkatan kemampuan yang efektif. Pemerintah membangun ekosistem menghubungkan industri dengan dengan lulusan sekolah vokasi dan perguruan tinggi.

Ia mencontohkan salah satu dukungan pemerintah adalah dengan memberikan insentif pajak bagi sektor swasta yang melibatkan sekolah vokasi.

"Alfamart, misalnya, menyerap tenaga magang dari sekolah vokasi di wilayahnya," ujar Yanuar.

Selain insentif pajak, pemerintah juga membangun industri yang cocok untuk masa depan. Salah satu bentuknya lewat 1.000 start up yang sudah berjalan.

Ia menuturkan, pemerintah menyiapkan uangnya dan mendorong mereka ke pasar. "Tingkat keberhasilan 10 persen sudah sangat bagus," kata Yanuar.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓