Fenomena Equinox Bikin Warga di Pekanbaru Kegerahan

Oleh M Syukur pada 26 Mar 2019, 07:02 WIB
Diperbarui 28 Mar 2019, 06:13 WIB
Fenomena Equinox buat suhu di Pekanbaru makin panas.

Liputan6.com, Pekanbaru - Sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Riau, dilanda fenomena Equinox. Suhu di Pekanbaru sampai 36 derajat Celsius, sehingga membuat kulit terasa terbakar jika terkena paparan sinar matahari langsung.

Suhu seperti ini diprakirakan berlangsung hingga 28 Maret 2019. Beberapa warga mulai khawatir jika fenomena matahari berada tepat di garis khatulistiwa ini bisa membuat suhu ekstrem atau mencapai 40 derajat Celsius.

"Tak hanya siang, suhu malam juga panas, pendingin ruangan harus disetel paling dingin," kata Ande, ibu rumah tangga di Pekanbaru, Senin, 25 Maret 2019.

Panas matahari tak hanya dirasakan pada tengah hari. Menjelang petang, sinar matahari menyengat sekali, sehingga harus memakai pelindung lengan hingga ke telapak tangan.

"Biasanya kalau berangkat kerja enggak pernah pakai sarung tangan, tapi sekarang harus," jelas Ande.

Dia pun khawatir karena beberapa informasi di media sosial menyebut fenomena Equinox akan menimbulkan cuaca ekstrem. Suhu akan mencapai hingga 40 derajat dan masyarakat harus tetap di rumah agar tak terkena sengatan bahaya matahari.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Marzuki, menyatakan kemungkinan suhu 40 derajat Celsius di Riau tidak akan terjadi.

"Rentan suhu di Indonesia tidak pernah mencapai titik tersebut, masyarakat tidak perlu khawatir," tegas Marzuki.

Marzuki menerangkan, naik tajamnya suhu di Riau yang biasanya hanya 33 derajat Celsius tidak karena equinoxsaja. Saat ini juga terjadi pancaroba atau peralihan musim dari hujan ke kemarau.

"Posisi matahari sekarang saat ini dekat dengan khatulistiwa. Hal ini terjadi setiap tahun pada bulan Maret dan September, ini fenomena biasa," jelas Marzuki.

2 of 2

Titik Panas Meningkat Lagi

Kebakaran lahan di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis.
Kebakaran lahan di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. (Liputan6.com/M Syukur)

Untuk menyikapi kenaikan suhu ini, BMKG menyarankan masyarakat memperbanyak minum air putih. Tujuannya menghindari dehidrasi atau kekurangan cairan yang mempengaruhi daya tahan tubuh.

BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atas fenomena ini. Pasalnya suhu yang panas mengakibatkan udara lebih kering, sehingga potensi karhutla makin besar.

"Namun, perlu diingat karhutla terjadi karena pembukaan lahan dengan cara membakar," kata Marzuki.

Di sisi lain, titik panas sebagai indikasi karhutla di Riau kembali naik tajam. Pada Senin petang, satelit yang biasa digunakan memantau 29 titik panas yang tersebar di Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Kampar, Pelalawan, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan Kota Dumai.

Paling banyak terdapat di Bengkalis 8 titik, kemudian Kepulauan Meranti 6 titik, berikutnya Kampar, Rokan Hulu dan Rokan Hilir masing-masing 1 titik, Pelalawan serta Indragiri Hilir masing-masing 3 titik, Indragiri Hulu 4 titik, lalu Kota Dumai 1 titik.

"Dari semua titik panas itu, yang terdeteksi sebagai titik api atau telah terjadi kebakaran, ada 15 titik dengan level kepercayaan di atas 70 persen. Titik ini tersebar di Bengkalis 5, Meranti 6, Indragiri Hulu 3 dan Kota Dumai 1 titik," sebut Marzuki.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓