Titik Banjir dan Longsor di Purbalingga dan Banjarnegara

Oleh Muhamad Ridlo pada 24 Mar 2019, 08:00 WIB
Ilustrasi – Longsor di Dusun Jatiluhur Desa Padangjaya, Majenang, Cilacap merusak 24 rumah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Sepekan terakhir, intensitas hujan meningkat di sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Banjir dan longsor dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, tak terkecuali di Banjarnegara dan Purbalingga.

Di Banjarnegara, hujan lebat sejak Jumat sore hingga malam memicu longsor di beberapa wilayah yang sebagiannya berada di Pegunungan Dieng ini. Akibatnya, sejumlah ruas jalur utama di Banjarnegara putus total lantaran tertutup material longsor.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara mencatat ada 13 titik longsor yang terjadi di Banjarnegara mulai Jumat sore hingga Sabtu dinihari. Salah satunya di ruas Jalan Raya Kalibening-Wanayasa Desa Balun Kecamatan Wanayasa.

Kepala Pelaksana Harian BPBD, Arif Rachman mengatakan, tebing setinggi 10 meter longsor dan menutup jalan pada Jumat malam sekitar pukul 21.00 WIB. Akibatnya, baik mobil maupun sepeda motor tak bisa melintas di ruas jalan ini.

Jalur Wanayasa-Kalibening dan dialihkan melalui ruas jalan Kuningan-Nggintung (Karang Nangka) yang tembus di Jembatan Kali Urang Kecamatan Kalibening.

Longsor lainnya juga terjadi di ruas antara Pandanarum-Kalibening, Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB. Tebing setinggi kurang lebih 10 meter longsor dan menutup jalan ini. Akibatnya, jalur ini tertutup total dan tak bisa dilalaui kendaraan.

Dia menerangkan, Sabtu pagi, warga dibantu oleh relawan dari berbagai unsur seperti RAPI, TNI, Polri, BPBD dan unsur relawan lainnya bersama-sama menyingkirkan material longsor. Pada Sabtu siang, sebagian besar jalur ini diakses.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 3

Longsor

Longsor menutup ruas jalan utama antara Kecamatan Kalibening-Pandarum, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/RAPI BNA/Muhamad Ridlo)
Longsor menutup ruas jalan utama antara Kecamatan Kalibening-Pandarum, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/RAPI BNA/Muhamad Ridlo)

“Sekarang jalan yang terkenal longsor sudah bisa dilintasi. Tapi masih dibersihkan,” katanya, Sabtu siang, 23 Maret 2019.

Selain di jalan umun, ada pula longsor yang berdampak ke rumah penduduk. Misalnya, di Dusun Kaligrowong Jurang RT 01 RW 04 Desa Kaliurip Kecamatan Madukara. Longsor terjadi pada pukul 18.30 WIB dan menimpa dua rumah milik keluarga Siswadi dan Udin.

“Tidak terjadi korban jiwa. Kerusakan di rumah bagian belakang,” ujarnya.

Longsor lain yang berdampak cukup besar juga terjadi di Dusun Silegi Desa Lebakwangi RT 01/03, Pagedongan, Banjarnegara. Di dusun ini tebing longsor dan menutup jalan serta mengancam satu rumah warga, yakni rumah Nasihun. Longsor terjadi Jumat malam, sekitar pukul 19.30 WIB.

Diperkirakan intensitas hujan di Banjarnegara masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Arif mengimbau agar warga di daerah rawan bencana longsor dan banjir meningkatkan kewaspadaa.

Serupa dengan Banjarnegara, hujan lebat juga mengguyur Purbalingga pada Jumat siang hingga malam. Hujan lebat memicu banjir akibat meluapnya sungai, terutama di DAS Klawing.

Di Kecamatan Karangmoncol dan Kecamatan Kemangkon, Purbalingga. Air mulai masuk ke permukiman sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi. Dalam peristiwa itu, ratusan rumah terendam.

Puluhan warga di sejumlah desa mengungsi atau diungsikan. Selain merendam perumahan penduduk, banjir juga merendam lahan pertanian.

 

3 of 3

Paskabanjir Purbalingga

Warga mulai membersihkan rumah akibat rendaman banjir di Desa Tajug Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)
Warga mulai membersihkan rumah akibat rendaman banjir di Desa Tajug Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)

Camat Karangmocol Titis Panjer Rahino mengatakan banjir melanda dua desa, yakni Tajug dan Rajawana. Dilaporkan, pada Jumat malam air sungai meluap dan mulai masuk ke perkampungan.

Di Desa Tajug ada empat keluarga yang mengungsi ke rumah kerabat dan di Desa Rajawana ada satu keluarga yang juga mengungsi. Pemerintah kecamatan lantas berkoordinasi dengan BPBD, PMI serta SAR Purbalingga untuk melakukan tanggap darurat bencana, yakni evakuasi lanjutan.

“Kami mendapatkan laporan ada luapan sungai di beberapa Desa seperti sungai jumalang dan sungai kahuripan di wilayah Kecamatan Karangmoncol,” ucap Titis dalam keterangannya, Sabtu sore.

Pada Sabtu siang banjir mulai surut. Namun, masih ada sejumlah genangan di pekarangan warga atau sawah. Karenanya, ia mengimbau agar warga mewaspadai kemungkinan kembali terjadinya banjir lantaran intensitas hujan masih tinggi.

Warga juga mulai membersihkan rumah atau perabotan yang terendam. Dalam pembersihan itu, warga dibantu oleh relawan-relawan kebencanaan yang salah satunya adalah Karang Taruna Purbalingga.

Selajutnya, BPBD dan Pemerintah Kecamatan Karangmoncol mulai mendata kerugian akibat banjir ini. Meski tak ada korban jiwa, akan tetapi diperkirakan angka kerugian cukup tinggi. Pasalnya, banyak rumah dan perabotan yang rusak akibat rendaman banjir.

“Tadi pagi ibu Plt Bupati sudah kesini meninjau lokasi dan memberikan beberapa bantuan. Kami imbau masyarakat untuk tetap waspada apabila intensitas hujan mulai tinggi,” ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓