Menguji Kesiapan Santri Buntet Cirebon Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Oleh Panji Prayitno pada 24 Mar 2019, 07:02 WIB
Diperbarui 24 Mar 2019, 07:02 WIB
Peran Santri Ponpes Buntet Cirebon Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Perbesar
Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid melihat banyak potensi yang bisa digali dari para santri dalam menghadapi revolusi industri 4.0

Liputan6.com, Cirebon - Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memegang peranan penting dalam persiapan menghadapi revolusi industri 4.0. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku pengetahuan dan teknologi berpengaruh dalam aktivitas sehari-hari masyarakat khususnya kalangan santri. Kadin menganggap penting bagi para santri untuk menguasai teknologi.

"Kami bangun persaudaraan dan berbicara bagaimana bisa sinergi membangun ekonomi umat. Terutama peran pesantren dalam membangun enterpreneuship jadi bukan hanya bekerja tapi mengali potensi usaha," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid saat berkunjung ke kediaman pengasuh Ponpes Buntet Cirebon, Jumat (22/3/2019).

Menurutnya, penting untuk masyarakat membangun nilai luhur kemanusiaan dan sumberdaya pendidikan di era revolusi industri 4.0. Pendidikan pesantren sangat penting ditanamkan ke seluruh masyarakat mulai dari generasi millenial.

Dia meyakini potensi enterpreneurship yang digali dari para santri Ponpes Buntet Cirebon banyak dan beragam. Kadin juga mulai membuat program sinergitas dengan pondok pesantren Buntet Cirebon.

"Buntet kan salah satu pesantren yang lama berdiri sebelum Indonesia merdeka disinilah utamanya pendidikan dimulai. Dari pendidikan pesantren kami beri motivasi menggali potensi para santri agar dapat membantu memberdayakan masyarakat kedepan dengan sifat gotong royong," jelas Arsjad.

Dia menjelaskan, kunci utama menghadapi revolusi industri 4.0 yakni dengan meningkatkan pembangunan sumber daya pendidikan. Jika tidak memiliki human capital development, peluang sukses kecil untuk diraih.

Namun demikian, dia mengaku sumber daya manusia (SDM) Indonesia secara keseluruhan belum siap menghadapi revolusi industri 4.0. Arsjad menyarankan agar para santri dan masyarakat umum lebih meningkatkan kebersamaan.

"Sekarang kebanyakan anak milenial sudah bisa belajar sendiri melalui internet dalam konteks usaha. Selain membangun human capital kompetensi, tapi ada value nilai yang awal dari spiritual values kalau tidak ada itu maka tidak ada namanya norma, budi pekerti dan etika," papar dia.

2 dari 2 halaman

Ancaman

Peran Santri Ponpes Buntet Cirebon Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Perbesar
Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea mengatakan era industri 4.0 mengkhawatirkan peran buruh yang akan tergantikan oleh mesin. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea mengaku khawatir revolusi industri 4.0 akan terjadi gelombang PHK massal yang masif. Sebab, di era tersebut, pengetahuan dan teknologi menjadi kunci utama.

Namun demikian, dia memastikan, revolusi industri 4.0 tidak akan mengurangi peluang kerja buruh. KSPSI semakin intens menggelar berbagai macam pelatihan untuk internal anggota agar siap berkompetensi dan beradaptasi.

"Pelatihan tentunya berbasis teknologi dan digital agar anggota kami punya keahlian juga," ujar dia.

Dia mengungkapkan, selama dua tahun terakhir, KSPSI mencatat sejumlah perusahaan di Indonesia melakukan PHK terhadap buruh industri tekstil.

Saat itu, sejumlah mesin masuk ke berbagai industri tekstil yang menggantikan tenaga manusia. Menurut Andi, PHK tersebut dianggap belum signifikan namun mengancam para buruh kedepan.

"Ketika ada PHK kami dan pemerintah langsung mengambil sikap sehingga dampaknya tidak signifikan," kata dia.

Oleh karena itu, dia menekankan agar pemerintah membuat regulasi yang ketat menghadapi revolusi industri 4.0. Dia mengakui, buruh di Indonesia belum 100 persen siap menghadapi revolusi industri 4.0.

"Ini juga PR untuk pemerintah bagaimana membatasi maraknya penggunaan mesin dalam industri skala besar seperti tekstil manufaktur dan yang lainnya. Jangan sampai 4.0 nya disetujui tapi buruh yang jadi korban," harap Andi.

Terpisah Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon Kh Adib Rofiuddin mengatakan akan menyiapkan santri untuk lebih menguasai teknologi. Dia juga mengatakan, sejauh ini para santri Ponpes Buntet Cirebon sudah mendapat pendidikan berbasis teknologi.

Dia mengatakan, Santri Ponpes Buntet Cirebon memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan. Pihak Buntet Pesantren sendiri selalu memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada santrinya.

"Yang tidak bisa itu seperti peternakan, perikanan karena kami terkendala lahan prakteknya. Kami juga ada sekolah multimedia, STIT sampai Akper jadi bisa diarahkan kesitu bersama Kadin," sebut dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by