Banjir dan Longsor Melanda Jawa Tengah, Kapan Cuaca Buruk Berakhir?

Oleh Muhamad Ridlo pada 20 Mar 2019, 07:30 WIB
Anak sekolah melintasi genangan banjir di Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purworejo - Cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang melanda Jawa Tengah nyaris sepekan terakhir. Akibatnya, banjir dan longsor terjadi di sejumlah wilayah, dipicu hujan yang tak putus-putus berhari-hari.

Di Purworejo misalnya, sebanyak 18.884 orang di empat kecamatan, meliputi Kecamatan Purwodadi, Bayan, Bagelen, dan Ngombol terpaksa mengungsi atau diungsikan. Banjir yang dipicu meluapnya Sungai Bogowonto dan anak sungainya merendam rumah mereka.

Pun di Banyumas dan Cilacap. Banjir dan longsor atau gerakan tanah dilaporkan terjadi di dua kabupaten wilayah barat Jawa Tengah ini. Kondisi yang sama juga terjadi di Banjarnegara dan Purbalingga.

Di Purworejo, sebagian besar pengungsi banjir Purworejo telah kembali ke rumahnya seiring surutnya rendaman di empat kecamatan. Meski begitu, dampak cuaca buruk itu masih menyisakan nestapa, ribuan hektare tanaman padi terendam.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo, Iman Ciptadi mengemukakan, mulai Senin sore, sejumlah pengungsi pulang ke rumah untuk memeriksa keadaan dan membersihkan rumah. Namun, malam harinya sebagian besar masih kembali ke pengungsian.

Hanya saja aktivitas belum normal lantaran warga harus membersihkan rumah yang terendam banjir. Air lumpur limpasan sungai membuat rumah mereka kotor dan tak layak jika langsung ditempati.

Genangan banjir akibat cuaca buruk masih terjadi di beberapa wilayah. Namun, genangan hanya terjadi di pekarangan rumah dan jalan. Genangan itu terpantau di beberapa wilayah muara Bogowonto kawasan muara pesisir selatan.

"Banjir sudah semakin surut. Hanya ada beberapa di Kecamatan Purwodadi, kemudian Kecamatan Bagelen, di Kecamatan Ngombol, yang masih ada genangan banjir. Tapi sebagian besar masyarakat sudah kembali ke rumah masing-masing," ucapnya.

Saksikan video pilihan berikut:

2 of 3

Badai Tropis Savannah

Petugas BPBD dan relawan mengevakuasi warga Kalijeruk, Kawunganten, Cilacap dalam banjir 2018 lalu. (Foto: Liputan6.com/BPBD CLP/Muhamad Ridlo)
Petugas BPBD dan relawan mengevakuasi warga Kalijeruk, Kawunganten, Cilacap dalam banjir 2018 lalu. (Foto: Liputan6.com/BPBD CLP/Muhamad Ridlo)

Iman menjamin, suplai logistik dan obat-obatan tercukupi. Sejumlah posko kesehatan dan dapur umum didirikan. Di antaranya di Markas Komando BPBD Purworejo, Desa Bapangsari, Dadirejo, dan Bopong.

BPBD Purworejo dibantu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Purworejo, PMI, dan Polri yang secara bersama-sama mendirikan posko kesehatan.

Pantauan kesehatan korban banjir juga masih akan terus dilakukan meski banjir telah surut. Pantauan akan dilakukan oleh Posko Kesehatan Induk DKK dan puskesmas-puskesmas di empat kecamatan wilayah terdampak.

Prakirawan BMKG Pos Pengamatan Cilacap, Rendy Krisnawan mengatakan hujan berhari-hari yang terjadi di wilayah Banyumas, Cilacap, Kebumen hingga Purworejo terjadi lantaran ada gangguan berupa kelokan angin dan kawasan pertemuan angin di atas Pulau Jawa.

Kondisi ini memicu tumbuhnya awan secara intensif dan menyebabkan turun hujan ringan hingga sangat lebat atau ekstrem. Konsentrasi awan yang tinggi juga berpotensi memicu hujan berdurasi panjang.

"Dengan adanya gangguan-gangguan itu, adanya belokan angin dan pertemuan angin, itu bisa menimbulkan penumpukan massa udara. Jadi penumpukan masa udara itu bisa mengakibatkan banyak tumbuhnya awan, yang berpotensi hujan," ucap Rendy.

Faktor ini, kata Rendy, masih ditambah dengaan keberadaan siklon tropis Savannah (957 hPa) di Samudra Hindia barat daya Lampung. Akibatnya, curah hujan berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan.

 

3 of 3

Peringatan BMKG

Sebab itu, BMKG memperingatkan agar masyarakat Jawa Tengah bagian selatan, terutama yang tinggal di zona rawan bencana longsor atau banjir untuk mewaspadai meningkatnya curah hujan yang meningkat ini. Pasalnya, curah hujan tinggi bisa memicu pergerakan tanah, banjir bandang hingga rendaman.

Rendy mengemukakan cuaca buruk juga dipengaruhi oleh munculnya tekanan rendah, baik di Laut Jawa maupun di Samudra Hindia selatan Jawa. Kondisi ini memicu naiknya kecapatan angin yang berimbas pada meningkatnya ketinggian gelombang di Samudra Hindia Belanda. Ketinggian gelombang mencapai 2,5-4 meter.

Menurut Rendy, gelombang setinggi ini berbahaya bagi kapal kecil maupun besar. Sebab itu, BMKG memperingatkan agar nelayan dan pengguna transportasi air di perairan selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Yogyakarta untuk tak melaut. BMKG juga meminta agar pengelola dan wisatawan pantai selatan untuk berhati-hati.

Lanjutkan Membaca ↓