Sungai Bogowonto Meluap, Ribuan Warga Purworejo Mengungsi

Oleh Muhamad Ridlo pada 19 Mar 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 19 Mar 2019, 04:00 WIB
Ilustrasi - Banjir merendam dua desa di Cilacap, meliputi Desa Sidareja dan Desa Gunungreja. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo).
Perbesar
Ilustrasi - Banjir merendam dua desa di Cilacap, meliputi Desa Sidareja dan Desa Gunungreja. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo).

Liputan6.com, Purworejo - Turunnya hujan lebat beberapa hari terakhir memicu meluapnya Sungai Bogowonto, Purworejo. Akibatnya, ribuan warga di empat kecamatan pesisir selatan Jawa Tengah ini mengungsi akibat banjir.

Empat kecamatan itu meliputi Bagelen, Purwodadi, Ngombol, dan Bayan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo mendata, sebanyak 1.884 orang mengungsi atau diungsikan lantaran rumahnya terendam.

Kepala Seksi Kadaruratan Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo, Sigit Ahmad Basuki mengatakan, evakuasi korban terdampak banjir di empat kecamatan selesai Senin siang (18/3/2019). Selanjutnya, korban banjir ditempatkan di pengungsian hingga banjir surut.

 

Evakuasi dilakukan lantaran akses jalan ke sejumlah wilayah benar-benar terputus karena rendaman. Dikhawatirkan, warga terjebak di dalam rumahnya.

“Evakuasi selesai, dengan kisaran jumlah pengungsi mencapai 1.800 an jiwa,” katanya, Senin.

Dalam evakuasi ini, BPBD Purworejo melibatkan seluruh potensi Search and Rescue (SAR) yang ada di Purworejo serta dibantu oleh beberapa unsur SAR dari kabupaten sekitar, seperti Kebumen dan Magelang.

“Komponen yang teribat SAR, relawan, TNI, Polri, BPBD sendiri, rekan-rekan komunitas kerelawananan di Purworejo. Semuanya terlibat dalam evakuasi sejak kemarin sore,” dia menerangkan.

Ahmad Basuki mengemukakan, terpantau air merendam rumah dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter hingga 80 sentimeter. Ketinggian rendaman banjir diperkirakan berkurang mulai siang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Kondisi Pengungsi Banjir Purworejo

Petugas BPBD Cilacap dan relawan mengungsikan warga Kalijeruk Kecamatan Kawunganten, dalam banjir 2018 lalu. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo).
Perbesar
Petugas BPBD Cilacap dan relawan mengungsikan warga Kalijeruk Kecamatan Kawunganten, dalam banjir 2018 lalu. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo).

Ada kemungkinan pengungsian akan berkurang jika rendaman turun signifikan sore ini. Namun, itu dengan syarat tak lagi turun hujan lebat.

“Ya daerah pesisir, arus Bogowonto lah hitungannya itu. Itu karena muara surutnya akan lebih lama,” dia menjelaskan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo, Iman Ciptadi mengemukakan, mulai Senin sore, sejumlah pengungsi mulai kembali ke rumah. Karenanya, ia memperkirakan jumlah pengungsi hanya separuh dari jumlah pada Senin pagi dan siang.

“Yang masih ada pengungsian, Bapangsari, Dadirejo. Desa Laban sudah kembali ke rumah tapi aktifitas belum normal. Talangsari juga masih butuh logistik karena masih ada genangan,” ucap Iman.

Meski begitu, ia belum bisa memastikan apakah pengungsi akan langsung tinggal di rumah yang sebagian besar masih terenda. Biasa jadi, pada malam harinya, banyak warga yang bakal kembali lagi ke pengungsian.

Dia mengemukakan, saat ini rendaman paling tinggi terjadi di wilayah muara. Sebab, wilayah tersebut berada di dataran rendah dan merupakan wilayah limpasan dan genangan air.

“Rendaman sudah tidak terlalu tinggi, seperti Krandegan. Sudah ada aktifitas, tapi sebagian mungkin akan kembali lagi ke pengungsian,” ujarnya.

Iman menjamin, suplai logistik dan obat-obatan tercukup. Sejumlah posko kesehatan dan dapur umum didirikan. Di antaranya di Markas Komando BPBD Purworejo, Desa Bapangsari, Dadirejo, Bopong.

“Posko kesehatan kita dibantu DKK, PMI dan Polri yang menerjunkan tim kesehatannya,” dia menerangkan.

 

3 dari 3 halaman

Banjir Rendam 2 Desa di Cilacap

Warga di Desa Gunungreja diungsikan oleh petugas BPBD Cilacap dalam banjir awal 2019 lalu. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo).
Perbesar
Warga di Desa Gunungreja diungsikan oleh petugas BPBD Cilacap dalam banjir awal 2019 lalu. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo).

Sama seperti di Purworejo, hujan lebat beberapa hari terakhir juga memicu banjir di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Di Kabuaten ujung barat selatan Jawa Tengah ini, dua desa terendam banjir.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPBD Sidareja, Agus Sudaryanto mengatakan dua desa yang terendam tersebut yakni, Desa Sidareja dan Desa Gunungreja. Di Desa Sidareja, dua RT di dusun Cibenon terendam. Adapun di Desa Gunugreja, air sudah merendam dusun Kauman.

BPBD Cilacap menyiapkan lima titik pengungsian untuk mengantisipasi banjir yang merendam dua desa. Banjir terjadi usai meluapnya Kali Tengah, anak Sungai Cibeureum.

“Kalau ketinggian yang di dalam rumah itu tetap,” kata Agus.

Dia menjelaskan, saat ini terpantau air merendam rumah dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter di Dusun Cibenon. Tetapi, warga masih bertahan di rumahnya masing-masing. Adapun di Dusun Kauman, Gunungreja, air masih sebatas menggenang di pekarangan warga warga.

Namun, yang patut diwaspadai adalah kemungkinan bertambah tingginya rendaman. Pasalnya, sejak pagi turun hujan di area Sidareja dan sekitarnya.

“Tapi ya harapannya jangan tinggi-tinggi lah,” ujarnya.

Agus mengemukakan, jika rendaman bertambah tinggi, bisa tidak bisa masyarakat akan mengungsi. Sebab itu, BPBD menyiapkan lima titik pengungsian yang tersebar di dua desa tersebut.

Lima posko pengugsian itu adalah Aula Gedung PLKB. rumah dinas mantri Kecamatan Sidareja, Aula Koramil Sidareja, gedung SMP IT dan di Panti Jompo Yos Soedarso.

Selain menyiapkan pengungsian, petugas juga menyiapkan logistik untuk para pengungsi. Petugas juga menyiapkan dua perahu untuk mengevakuasi warga yang harus diungsikan jika rendaman sampai memutus akses ke perumahan warga.

Lanjutkan Membaca ↓