Tobat Pendiri dan Pengikut Ajaran Islam Sejati di Kebumen

Oleh Muhamad Ridlo pada 08 Mar 2019, 03:01 WIB
Diperbarui 08 Mar 2019, 03:01 WIB
Pengikut aliran sesat Islam sejati bertaubat. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Ada yang berbeda di Mesjid Assaara Kompleks Markas Polres Kebumen, Rabu siang, 6 Maret 2019. Hari itu, sebanyak 11 anggota ajaran sesat Islam Sejati bertaubat dan kembali mengucapkan syahadat.

Dan 11 orang itu terdiri dari pimpinan aliran Islam Sejati dan pengikutnya. Para pengikut Islam sejati ini kebanyakan berasal dari Desa Sumberadi Kecamatan Kebumen.

Para pengikut ajaran sesat Islam Sejati terlihat menangis menyesal. Beruntung, sebelum terlampau jauh, ada orang-orang peduli yang bersedia membimbing mereka ke jalan yang benar.

Mereka dibimbing langsung oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kebumen, KH Nur Sodiq dan disaksikan oleh Wakapolres Kebumen Kompol Prayudha Widiatmoko, Kasi Binmas Kemenag Khamid, Kasi Intelejen Kejari Kebumen Adenallah, serta pejabat utama Polres Kebumen.

Hari itu, dua kalimat Syahadat telah mengembalikan ke-11 orang yang sebelumnya tersesat. Semua lega. Memancar wajah-wajah semringah dari ruangan yang tak begitu besar itu.

Pertaubatan ini sekaligus meredam gejolak yang sebelumnya sempat timbul di masyarakat Kebumen. Banyak ajaran aliran sesat Islam Sejati yang bertentangan dengan tuntunan Islam Ahlussunah Wal Jamaah.

Kasubbag Humas Polres Kebumen, AKP Suparno mengatakan pimpinan Islam Sejati, Hadi Siswanto (70) telah mengaku khilaf telah mengajarkan ajaran sesat Islam sejati kepada pengikutnya.

2 dari 3 halaman

Pasien yang Berubah Jadi Pengikut Ajaran Sesat

Pengikut aliran sesat Islam sejati bertaubat. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Pengikut aliran sesat Islam sejati bertaubat. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Belasan pengikut Hadi adalah pasien yang datang ke rumah Hadi Siswanto untuk berobat secara tradisional. Selama ini, Hadi memang dikenal sebagai orang pintar alias dukun.

Hadi mengaku ajaran Islam Sejati itu ia peroleh dari bisikan gaib pada bulan Februari 2019. Selanjutnya berdasar bisikan gaib tersebut, ia menulis sebuah buku, yang lantas disebutnya kitab Islam Sejati.

Setelah menciptakan kitab, oleh pengikutnya Hadi dipanggil dengan nama kebesaran, Syeh. Tetapi, beberapa isi kitab dinilai melenceng dan bertentangan dengan Al Quran dan Hadits.

"Jadi tidak percaya dengan Al Quran," ujarnya, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 7 Maret 2019.

Dalam ajaran aliran sesat Islam Sejati, pengikut juga dibebani dengan zakat yang berat. Selain itu, ada pula amalan lain yang tak ada tuntunannya dalam Al Quran maupun Hadits.

Munculnya aliran diduga sesat ini sempat membuat resah masyarakat Sumberadi Kecamatan Kebumen. Pasalnya, sebagian besar pengikut Islam Sejati memang berada di desa ini.

Setelah dimediasi oleh kepolisian, Kemenag dan MUI Kebumen, suasana berangsur reda. Pada Senin 4 Maret 2019, sebagian pengikut Islam Sejati melakukan pertaubatan di rumah salah satu pengikut di Sumberadi.

3 dari 3 halaman

Meredam Gejolak Masyarakat

Pengikut aliran sesat Islam sejati bertaubat. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Pengikut aliran sesat Islam sejati bertaubat. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kemudian, MUI, Kemenag dan kepolisian Kebumen memfasilitasi pimpinan dan pengikut aliran Islam sejati lainnya untuk bertaubat secara terbuka di Markas Polres Kebumen.

Dengan pertaubatan ini, dia berharap agar masyarakat kembali tenang. Sebab, pimpinan dan pengikut aliran Islam Sejati telah mengakui kesalahannya.

"Itu jangan sampai nanti ada lingkungannya yang mungkin main hakim sendiri. Jadi, lingkungan juga sudah curiga dengan ajaran Islam sejati," katanya.

Hasil kajian MUI dan Kemenag, Islam Sejati tak sesuai kaidah Agama Islam dan dinyatakan sebagai ajaran sesat. Ada beberapa perbedaan yang signifikan dari ajaran Islam Sejati, diantaranya cara bersahadat, rukun salat hingga cara berpuasa.

"Ada tambahan kata Nur pada bagian Syahadat ajaran mereka. Selanjutnya cara Sholatnya pun berbeda. Cara berpuasanya juga tidak sesuai," ucap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kebumen, KH Nur Sodiq.

Wakil Kepala Polres Kebumen Kompol Prayudha Widiatmoko mengatakan pertaubatan yang digelar terbuka itu dilakukan untuk memberi tahu bahwa para pengikut Islam Sejati telah bertaubat. Ajaran Islam Sejati tak sesuai dengan kaidah Islam yang berlandaskan Al Quran dan Hadits.

Dia menerangkan, hingga saat ini tercatat sebanyak 14 orang menjadi pangikut Islam Sejati. Sebagian besar berada di Desa Sumberadi.

"Kegiatan ini untuk meredam gejolak masyarakat dan membenarkan ajaran yang sebelumnya kurang sesuai," ungkapnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓