Umat Hindu Medan Gelar Upacara Melasti Sambut Nyepi

Oleh Reza Efendi pada 04 Mar 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 18:00 WIB
Upacara Melasti di Medan
Perbesar
Umat Hindu di Kota Medan, Sumatera Utara melaksanakan upacara Melasti di kawasan Pantai Cermin, Serdang Bedagai. (Liputan6.com/ Reza Efendi)

Liputan6.com, Medan - Umat Hindu di Kota Medan, Sumatera Utara melaksanakan upacara Melasti di Pantai Pondok Permai, kawasan Pantai Cermin yang berada di Kabupaten Serdang Bedagai. Upacara ini dilaksanakan sebagai penyucian diri untuk menyambut Hari Raya Nyepi.

Ketua Suka Duka Dirgayusa Medan, I Wayan Dirgayasa Tangkas mengatakan, upacara Melasti dilaksanakan untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilaksanakan di pinggir pantai, dengan tujuan menyucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut. 

"Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan atau tirta amerta,” kata Wayan, Senin (4/3/2019). 

Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura atau disebut dengan pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya. 

Para pemangku berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang, serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud pensucian. 

Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa Brahma. 

"pacara ini dilaksanakan agar umat hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi," ucapnya.

Dijelakan Wayan, Melasti berasal dari kata Mala yang artinya kotoran atau leteh, dan Asti adalah membuang atau memusnahkan. Jadi, Melasti artinya membuang dan menghilangkan segala bentuk kotoran untuk bisa kembali ke kesucian. 

Melasti dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum Hari Raya Nyepi. Umat hindu melakukan penyucian dengan melakukan upacara Melasti. Pada upacara Melasti, segala sarana persembahyangan yang ada di pura, termasuk Pratima dan Pralingga diarak ke danau, laut, atau pantai. 

"Kita semua mengetahui, laut merupakan sumber air yang terbesar. Seluruh sungai bermuara ke laut, dan dari laut pula asalnya air yang memberikan hidup di bumi. Air laut adalah simbul dari penghancur, serta penghilang semua kotoran yang ada," jelasnya.

Karena itu, saat Melasti seluruh umat Hindu yang menjalaninya membersihkan diri lahir batin. Melebur semua bentuk kotoran yang ada, baik di dalam maupun di luar diri dan mendapatkan tirta amerta. 

Wayan mengungkapkan, pelaksanaan Melasti tidak mutlak harus bertempat di laut. Bila di daerah-daerah tertentu yang jauh dari pantai, diperbolehkan Melasti di sumber-sumber mata air yang bersih seperti danau atau pegunungan. 

"Ini juga tidak bertentangan, mengingat mata air yang ada di danau maupun pegunungan sesungguhnya berasal dari uap air laut yang telah menjadi hujan," ungkapnya.

Dalam upacara Melasti ini diikuti umat hindu Medan sekitarnya yang berjumlah sekitar 500 orang. Upacara ini diprakarsai Suka Duka Dirgayusa. Turut hadir Pembimas Hindu Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Antonikuil Sembiring, Pengurus PHDI Provinsi Sumatera Utara, PHDI Kota Medan, PHDI Deli Serdang, PHDI Serdang Bedagai, WHDI Sumut, dan ICHI Sumut.

"Tahun ini umat yang hadir lebih besar dari yang diperkirakan, dan ini merupakan kemajuan besar yang patut untuk diperhatikan dan dipertimbangkan, sehingga dapat menguatkan Sradha terhadap ajaran Hindu," ucap Wayan. 

Ketua PHDI Sumut, Siwaji Raja, diwakili Mathariswan, selaku sekretaris mengatakan, PHDI akan terus menyuport materi dan non materi segala kegiatan keagamaan yang dilakukan umat hindu Sumut, khususnya warga pura (Bali) jika dibutuhkan, mengingat umat hindu di Sumut terdiri dari berbagai etnis yang memiliki ciri khas ritual keagamaan masing-masing.

"Ini merupakan kekayaan non materi yang tak ternilai harganya dan sangat perlu untuk dilestarikan," tandasnya.

Untuk diketahui, Melasti adalah tahap awal dari perayaan Nyepi 1941 Saka yang dilanjutkan Pangrupukan atau sedekah bumi pada tanggal 6 Maret 2019 di Pura masing-masing, dan sebagai puncaknya melaksanakan Catur Brata Nyepi pada tanggal 7 Maret 2019 dan Dharma Santi.

 

Simak juga video pilihan berikut ini: