Menandingi Ginseng Korea dengan Purwoceng Dieng

Oleh Muhamad Ridlo pada 17 Feb 2019, 12:03 WIB
Dataran Tinggi Dieng, habitat Purwoceng, tumbuhan yang berkhasiat setara ginseng. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purwokerto - Sejak ratusan tahun lalu, purwoceng, tumbuhan endemik Dataran Tinggi Dieng (DTD) diyakini kaya beragam manfaat. Peningkatan stamina dan vitalitas membuat Purwoceng setingkat sebanding dengan Ginseng, Korea.

Berdasar penelitian, purwoceng mengandung saponin, alkaloid dan tonik. Zat ini berfungsi ini meningkatkan stamina. Yang menonjoldi tumbuhan khas Dieng ini adalah kandungan afrodisiak yang berguna untuk meningkatkan gairah seksual.

Afrodisiak berasal dari nama Aphrodite, dewi Yunani lambang kecantikan dan seksualitas. Maka, perlahan terbentuk perpespsi bahwa purwoceng identik dengan efek viagra, meningkatkan vitalitas pria.

Kandungan zat unik di dalam purwoceng membuatnya diburu. Pemanenan Purwoceng secara langsung dari habitatnya tanpa usaha peremajaan membuatnya langka (endangered species).

Alih-alih bisa mengurangi ketergantungan bahan impor tanaman sejenis, populasi purwoceng semakin menurun. Hal ini tak lepas dari kebutuhan yang semakin tinggi produksi obat-obatan tradisional.

Ahli Teknik Pertanian Unsoed, DR Eni Sumarni Farid mengatakan bahan utama tanaman purwoceng yang dipanen adalah akarnya, maka tindakan pemanenan secara otomatis merusak tanaman secara keseluruhan.

Upaya memproduksi purwoceng secara massal pun sebenarnya telah dilakukan oleh petani Dieng, Namun, mereka terkendala mahalnya harga bibit Purwoceng yang mencapai Rp 4.000-Rp 10 ribu per batang. Bahkan harga benih dapat mencapai jutaan rupiah per ons.

Budidaya purwoceng di lahan terbuka terkendala iklim yang fluktuatif akibat hujan dan angin. Kondisi ini juga menyebabkan hasil panen purwoceng tak seragam. Curah hujan tinggi di lahan terbuka juga dapat mengakibatkan sebagian atau seluruh tanaman rusak, dan memicu hama dan penyakit tanaman.

2 of 3

Purwoceng Mampu Gantikan Ginseng Korea

Budidaya Purwoceng di dalam greenhouse. (Foto: Liputan6.com/Humas Unsoed/Muhamad Ridlo)
Budidaya Purwoceng di dalam greenhouse. (Foto: Liputan6.com/Humas Unsoed/Muhamad Ridlo)

Sebaliknya, setiap tahun sentra produksi purwoceng mengalami musim kemarau yang dapat menyebabkan cekaman lingkungan dan dapat berdampak negatif bagi tanaman Purwoceng.

Karenanya, perlu upaya untuk pengembangan tanaman purwoceng sekaligus mendukung pariwisata daerah Banjarnegara. upaya peningkatan produksi purwoceng di Sentra Banjarnegara dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Hi-Link (Kemenristekdikti) antara Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Kelompok Tani Grend Potato.

Eni menerangkan, program Hi-Link ini mendorong produksi Purwoceng secara terencana, terkendali, bebas pestisida dan memperhatikan konservasi lahan. Produsen atau sentra-sentra produksi purwoceng akan tumbuh dengan adanya transfer teknologi Unsoed.

"Rancang bangun greenhouse terkendali untuk iklim tropika basah seperti Indonesia. Konservasi lahan akan mendorong kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pengusahaan purwoceng dalam rangka mengurangi status kepunahan Purwoceng," ucapnya, dalam keterangannya kepada Liputan6,com, dikutip Sabtu, 16 Februari 2019.

Eni mengungkapkan, Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap obat impor, sehingga perlu alternatif substitusi produk dalam negeri. Produk ekstrak herbal seperti ginseng memiliki pasar terbesar di dunia.

Klaim terhadap khasiat yang dimiliki, prospek pengembangan serta tren investasi ke depan, komoditas tanaman obat potensial yaitu purwoceng. Purwoceng dapat dikembangkan untuk komplemen dan substitusi ginseng impor.

"Saat ini purwoceng kurang lebih 90 persen digunakan untuk keperluan domestik, sedangkan penggunaan untuk industri farmasi masih terbatas. Industri jamu kekurangan bahan baku dan beralih ke ginseng impor," ucap Eni.

Melalui skema pengabdian Hi Link, Kementrian Ristekdikti melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan membina kelompok tani purwoceng serta bermitra dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara untuk membantu peningkatan produksi purwoceng dan olahannya.

"Fluktuasi produksi tanaman obat purwoceng menjadi salah satu kendala pemenuhan permintaan," kata Dosen Program Studi Ilmu Gizi, Jurusan Kesehatan Masyarakat, FIKES, Unsoed ini.

3 of 3

Intensifikasi Budidaya Purwoceng di Greenhouse

Ketua Tim Pengabdian Unsoed, DR Eni Sumarni Farid menunjukkan Purwoceng Kemasan. (Foto: Liputan6.com/Humas Unsoed/Muhamad Ridlo)
Ketua Tim Pengabdian Unsoed, DR Eni Sumarni Farid menunjukkan Purwoceng Kemasan. (Foto: Liputan6.com/Humas Unsoed/Muhamad Ridlo)

Menurut dia, perlu penerapan teknik budidaya yang baik dan pengembangan sentra produksi purwoceng untuk mengurangi ketergantungan yang besar terhadap obat impor. Ini dapat dilakukan dengan penanaman yang terkontrol di dalam greenhouse.

Eni pun mengklaim, mulai 40 hari setelah tanam nampak perbedaan pertumbuhan antara tanaman yang dikontrol di dalam greenhouse dengan purwoceng yang ditanam di luar greenhouse. Teknik irigasi yang diberikan di dalam greenhouse menggunakan irigasi drip atau tetes.

Irigasi tetes adalah metode pemberian air pada tanaman secara langsung, baik pada areal perakaran tanaman maupun pada permukaan tanah melalui tetesan secara kontinyu dan perlahan. Efisiensi penggunaan air dengan sistem irigasi tetes dapat mencapai 80 persen.

Nutrient Film Tehnique (NFT) merupakan metode budidaya tanaman di mana akar tanaman tumbuh di dalam larutan nutrisi sangat dangkal yang membentuk lapisan tipis nutrisi (nutrient film) dan tersirkulasi. Dengan begitu, tanaman dapat memperoleh unsur hara, air, dan oksigen yang cukup.

"Keuntungan sistem aeroponik dan NFT yaitu kemudahan panen, akar dapat dipanen sesuai ukuran dan dapat dilihat melalui slab atau talang, kontrol nutrisi, efisien dalam penggunaan lahan sehingga menguntungkan," ucapnya.

Eni pun mengklaim, teknologi greenhouse dan penanaman secara irigasi drip dan NFT menghasilkan sayuran yang bebas pestisida setelah diuji di Laboratorium Sucofindo (Sumarni, 2015) dan untuk purwoceng tahun 2017. Pengembangan sentra produksi purwoceng ini dapat mendukung ketersediaan obat unggulan daerah dan mencegah kepunahan di sentranya, Dieng.

Rencana ke depan adalah penyempurnaan olahan, kemasan dan diversifikasi produk purwoceng. Produk purwoceng berupa minuman, keripik daun purwoceng. Produk khas purwoceng dengan campuran sidat merupakan produk khusus untuk stamina dan vitalitas pria.

"Produk ini juga mendapatkan perhatian dalam program pengabdian ini, yaitu untuk label komposisi atau kandungan secara jelasnya dan selanjutnya perlu dilakukan pendaftaran sertifikasi halal dalam rangka persiapan pemasaran dan juga perbaikan kemasan agar berdaya saing," Eni Menambahkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓