Kesaksian 4 Petani Muna Melihat Sambaran Petir di Depan Mata

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 12 Feb 2019, 16:00 WIB
Ilustrasi petir (iStock)

Liputan6.com, Muna - Sambaran petir menjadi momok bagi petani di Sulawesi Tenggara saat musim hujan. Sambaran petir di sana kerap memakan korban jiwa.

Pada Senin, 11 Februari 2019, sekitar pukul 14.30 Wita, empat orang petani di Desa Liangkabori Kecamatan Loghia Kabupaten Muna, tersambar petir. Keempatnya sedang berada di kebun, memanen jagung muda di wilayah perbukitan.

Keempatnya yakni La Deni (24), Wa Nani (16), La Hasili (54), dan Wa Poe (54). Keempat orang ini, langsung pingsan mendengar suara menggelegar yang menghantam pondok tempat mereka berlindung.

Beruntung, keempatnya selamat. Padahal, petir menyambar sebanyak dua kali di dalam bilik kayu di pondok kebun milik mereka.

"Kita awalnya potong jagung muda, waktu itu memang petir keras tapi jauh, kita putuskan berlindung dalam pondok karena memang hujan keras," ujar Wa Nani.

Saat sedang duduk berkumpul, tiba-tiba sambaran pertama langsung menghantam bagian bawah pondok mereka. Usai kaget karena mendengar bunyi, mereka melihat piring makan sudah dipenuhi dengan serpihan batu dan tanah yang berhamburan dari kolong pondok tempat mereka makan.

"Belum hilang perasaan kaget, tiba-tiba ada sambaran kedua. Di situ ada yang sempat pingsan," ujar Wa Nani.

Korban lainnya Deni menceritakan, sambaran kedua tepat mengenai kaki keempat orang di dalam pondok. Akibatnya, tiga orang diantaranya langsung pingsan karena kesakitan.

"Begitu saya agak sadar, saya rasakan kakiku keram-keram dan sakit, saya lihat semua yang lain juga sama malah mereka kelihatan kesakitan," ujar Deni.

Saat memeriksa kondisinya, Deni kaget setengah mati karena mendapati celananya dan pakaian dalamnya hangus tersambar petir.

 

2 of 2

Cari Pertolongan

Cerita Petani Jagung di Muna, Selamat Usai Disambar Petir 2 Kali
Korban selamat sambaran petir di Kabupaten Muna, berkumpul di kampung usai dievakuasi dari kebun, Senin (11/2/2019). (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Setelah melihat tiga orang rekannya tak mampu bangkit dan berjalan, Deni langsung memutuskan mencari pertolongan di kampung terdekat. Dengan nekat menembus hujan, Deni berjalan tertatih-tatih sekitar sejam lebih sebelum tiba di kampung terdekat.

"Saya jalan pakai tongkat, ke kampung minta bantuan," ujar Deni.

Saat melapor ke kampung, belasan orang warga desa langsung berbondong datang menolong para korban. Tiga korban lainnya, dipikul warga hingga sampai ke kampung dan mendapatkan pengobatan.

Kapolsek Katobu Iptu Hamka membenarkan 4 orang warganya terkena sambaran petir. Meskipun kondisi mereka sudah membaik, tetapi keempatnya masih trauma.

"Sudah dievakuasi kemarin, Alhamdulillah mereka selamat," ujar Hamka.

Kata Hamka, pihaknya sudah sering mengimbau warga agar menghindari daerah tinggi saat hujan. Sebab, sebagian besar wilayah desa itu merupakan lapangan terbuka karena dipakai warga membuka kebun.

"Kalau ada hujan, kita harapkan mereka berlindung atau pulang ke rumah. Kasihan, kalau ada korban jiwa," ujarnya.

Di Sulawesi Tenggara, petir pernah menyambar 4 orang petani hingga tewas di Kabupaten Konawe Selatan, Maret 2018. Keempatnya juga terkena petir saat sedang berlindung di dalam bilik kayu di tengah kebun.

Saat itu, ada salah seorang korban selamat. Meskipun demikian, akibat sambaran itu korban nyaris lumpuh usai petir menyambar kaki dan setengah badannya. Akibat sambaran yang sama sebanyak dua kali, menyisakan semacam tato yang berbentuk seperti petir pada salah seorang korban selamat bernama Pui (39).

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓