Hujan Ekstrem Berhari-hari, Banjir dan Longsor Menerjang Cilacap

Oleh Muhamad Ridlo pada 11 Feb 2019, 07:02 WIB
Banjir Mulyasari, Majenang, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Beberapa hari terakhir, hujan lebat turun di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Puncaknya, bak tumpah dari langit, air hujan mengguyur pada Sabtu malam hingga Minggu pagi, 9-10 Januari 2019.

Akibatnya, banjir dan longsor terjadi di beberapa wilayah Cilacap sekaligus. Banjir terjadi di dua kecamatan, yakni Majenang dan Wanareja. Adapun longsor, terjadi di Kecamatan Karangpucung, Cimanggu, dan Majenang.

Hujan ekstrem menyebabkan tanggul Sungai Cikalong di Desa Mulyasari Kecamatan Majenang jebol di empat titik, Minggu dini hari. Air pun melimpas dan menerjang perumahan. Puluhan rumah dan berhektare-hektare sawah di desa ini terendam banjir.

"Akibat hujan semalam di wilayah Majenang dan sekitarnya mengakibatkan tanggul jebol di beberapa titik. Untuk desa Mulyasari ada empat titik," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majenang, Edi Sapto Priyono.

Edi mengatakan sebanyak 92 rumah di Dusun Bojongsari dan Dusun Tanjungsari terendam banjir. Air masuk ke dalam rumah dengan ketinggian kisaran 50 sentimeter.

Di luar itu, ratusan rumah di Dusun Bojongsari juga terdampak. Pasalnya, air sudah merendam jalan, pekarangan, dan sudah naik ke pemakaman umum.

Ada kemungkinan banjir akan bertambah tinggi menilik debit Sungai Cikalong yang masih besar. Risikonya, jumlah rumah yang terendam bertambah banyak.

"Antisipasinya kalau banjir belum bisa surut kita bikin penampungan pengungsi," ucapnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Dugaan Korupsi Lampu Jalan, Puluhan Kades Diperiksa

Tutup Video
2 of 3

Tanggul Sungai Cikawung Jebol 40 Meter

Banjir Desa Bantar, Wanareja, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)
Banjir Desa Bantar, Wanareja, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)

Selain merendam permukiman penduduk, banjir juga merendam tanaman padi seluas 51 hektare. Namun, belum diketahui dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir ini. Jika tak cepat surut, tanaman padi terancam membusuk kemudian mati.

Minggu, 10 Februari 2019, petugas BPBD dan relawan mulai mengevakuasi warga yang sementara ini masih tinggal di rumahnya masing-masing. Utamanya, warga dari kelompok rentan. Mereka akan diungsikan ke kompleks Balai Desa Mulyasari yang relatif bebas dari ancaman banjir.

BPBD juga mulai memasang tenda pengungsian dan dapur umum untuk mengantisipasi jika rendaman terjadi berhari-hari. Pasalnya, curah hujan di Majenang masih tinggi. Ada kemungkinan rendaman banjir akan bertambah tinggi.

"Rencananya mendirikan tenda penampungan di Balai Desa Mulyasari," ucapnya.

Pada waktu yang sama, hujan lebat juga memicu banjir di tiga dusun Desa Bantar Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap. Banjir disebabkan jebolnya tanggul Sungai Cikawung sepanjang 40 meter.

Staf Unit Pelaksana Teknis (BPBD) Majenang, Muhadi mengatakan tanggul jebol sekitar pukul 05.30 WIB, akibat hujan lebat yang turun semalaman di kawasan ini. Akibatnya, air melimpas masuk ke perkampungan penduduk.

Tiga dusun yang terendam adalah Dusun Cimei, Dusun Cisani, dan Dusun Sidamulya. Di tiga dusun ini, total 51 rumah tergenang banjir.

Selain merendam permukiman penduduk, banjir juga merendam sebanyak 23 hektare sawah. Padi berumur antara 20-30 hari setelah tanam (HST) pun terendam.

3 of 3

Longsor Menimbun Sepeda Motor dan Mesin Cuci

Longsor Desa Sindangbarang, Karangpucung, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)
Longsor Desa Sindangbarang, Karangpucung, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/BPBD Cilacap/Muhamad Ridlo)

Muhadi merinci, di Dusun Cimei banjir merendam rumah dengan kedalaman antara 5-15 sentimeter. Adapun di Dusun Cisani, air merendam dengan ketinggian maksimal 20 sentimeter.

"Di RT 01, 02, dan 03 RW 09 Dusun Cisani rumah tergenang 16 rumah kedalaman 05 -20 sentimeter, di pekarangan dan jalan antara 10-40 sentimeter," kata Muhadi.

Selain merendam permukiman penduduk dan persawahan, banjir juga menggenangi tanaman palawaija dengan ketinggian air mencapai 20-40 sentimeter. Dipastikan ada tanaman palawija yang rusak akibat banjir ini.

"Kerusakan atau kerugian tanaman padi dan palawija dalam perhitungan dinas terkait," dia menerangkan.

Selain banjir, longsor juga terjadi di sejumlah wilayah. Di antaranya, di Desa Sindangbarang, Kecamatan Karangpucung dan Sadabumi, Kecamatan Majenang.

Di Desa Sindangbarang, tebing setinggi 15 meter di di RT 01 RW 04 Dusun Jetak longsor sepanjang 15 meter dengan ketebalan longsoran mencapai 1,5 meter dan lebar enam meter.

"Mengenai bagian belakang dapur Rumah Makan Sambel Ijo milik saudara Juniarto (60) mengenai bilik yang terbuat GRC jebol dengan ukuran 6x12 meter," kata Camat Karangpucung, Martono.

Dalam peristiwa ini, satu unit sepeda motor, mesin cuci, dan mesin genset juga tertimbun. Menurut Martono, jika tak segera diatasi ada risiko longsor susulan di tempat ini.

Karenanya, warga bersama petugas BPBD dan unsur lainnya bekerja bakti menyingkirkan material longsor. BPBD juga menyiapkan bantuan pangan dan logistik yang dibutuhkan. "Mengimbau warga agar waspada pada saat hujan," dia menandaskan.

Lanjutkan Membaca ↓