Merayakan Tahun Baru Imlek, Yuk Berburu Lobster Murah di Cilacap

Oleh Muhamad Ridlo pada 06 Feb 2019, 10:02 WIB
Lobster dan udang Tiger hasil tangkapan nelayan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Tiap perayaan tahun baru Imlek, beragam hidangan istimewa disajikan. Sebut saja, ikan Dewa atau Tambra, Bawal Putih, dan tentu, Lobster. Sajian khas di rangkaian perayaan hari besar etnis Tionghoa itu adalah lambang dan harapan keberuntungan.

Tak aneh jika menjelang Imlek, permintaan tiga komoditas itu meningkat drastis. Harganya pun mengikuti tingginya kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Tetapi, rupanya ada anomali di Imlek tahun ini. Harga Lobster yang pada tahun-tahun sebelumnya naik signifikan kini cenderung stagnan, bahkan menurun, tak terkecuali di Cilacap, salah satu pelabuhan perikanan samudera penting di Indonesia.

Kepala Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sentolokawat, Cilacap, Pairan menduga penurunan harga itu disebabkan panen raya di pusat pembesaran Lobster beberapa negara di Asia Tenggara. Contohnya, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Untuk mengejar harga yang tinggi, panen Lobster dilakukan menjelang perayaan Imlek. Akibatnya, permintaan Lobster hasil tangkapan alam pada Imlek ini menurun drastis.

"Karena di sana kan lagi panen. Informasinya lagi panen. sehingga lobster yang ada di kita ini harga turun," ucap Pairan kepada Liputan6.com, Selasa, 5 Januari 2019.

Bagi nelayan Indonesia, panen raya Lobster di pusat pembesaran luar negeri berarti masalah. Sebabnya, wilayah pemasaran terbesar Lobster Indonesia adalah ekspor.

Lobster itu biasanya dikirim sejumlah negara Asia. Akibat panen di tiga negara tersebut, permintaan pasar ekspor Lobster menjelang Imlek ini pun turun.

2 of 3

Penyebab Turunnya Harga Lobster

Udang Tiger hasil tangkapan Nelayan Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Udang Tiger hasil tangkapan Nelayan Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Menurut Pairan, tahun lalu, Lobster Hijau Pasir ukuran 300 gram ke atas dihargai Rp 500 ribu – Rp 600 ribu per kilogram. Tetapi, kini harganya turun di kisaran Rp 400 ribu per kilogram.

Penurunan harga paling signifikan terjadi pada lobster ukuran 200-300 gram. Biasanya, lobster ukuran ini dijual Rp 300 ribu – Rp 400 ribu per kilogram. Tetapi kini hanya laku kisaran Rp 180 ribu per kilogram.

"Itu yang harganya jatuh banget itu kan yang 1-2 ons. Biasanya Rp 300 ribu lebih, sekarang hanya Rp 180 ribu per kilogram," dia menambahkan.

Menurut Pairan, ada andil nelayan Indonesia dalam penurunan harga lobster pada perayaan Imlek tahun ini. Pasalnya, benih lobster banyak dikirimkan secara illegal dari berbagai wilayah Indonesia.

Kata dia, Kebumen dan Cilacap pun pernah menjadi penyuplai pasar gelap benih lobster ini. Namun, ia mengklaim, kini nelayan sudah menghentikan kebiasaan ini.

"Jadi pengaruh harga lobster turun itu, karena penjualan benih lobster yang liar itu lho, Pak," dia mengungkapkan.

Nelayan Indonesia tergiur untuk menjadi penyuplai benih lobster illegal lantaran harganya sangat mahal. Per kilogram benih lobster mutiara dijual dengan harga Rp 1.000.000 per kilogram. Adapun lobster Hijau pasir sedikit lebih murah, kisaran Rp 800 ribu per kilogram.

"Jadi banyak yang menjual ke pasar liar itu," katanya.

3 of 3

Kuliner Laut Khas Cilacap

Pusat kuliner Telukpenyu Cilacap, menyediakan beragam masakan khas laut. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Pusat kuliner Telukpenyu Cilacap, menyediakan beragam masakan khas laut. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Berbeda dengan harga Lobster yang turun drastis pada Imlek kali ini, sajian khas Imlek lainnya, ikan Bawal Putih, seperti biasanya, naik cukup signifikan. Sama dengan ikan Dewa dan Lobster, Bawal Putih memang menjadi salah satu masakan khas Imlek.

Bawal putih ukuran 500 - 800 gram dihargai Rp 600 ribu per kilogram. Adapun Bawal Putih lebih besar, ukuran satu kilogram per ekor dijual dengan harga Rp 800 ribu – Rp 1.000.000. Harga ini, kata Pairan, lebih tinggi kisaran 50 persen dibanding biasanya.

Sayangnya, nelayan Cilacap tak bisa menikmati harga yang menjulang tinggi ini. Pasalnya, akhir-akhir ini hasil tangkapan Bawal Putih memang minim.

Gelombang tinggi dan cuaca buruk yang terjadi di perairan selatan Jawa dan Samudera Hindia nyaris dua bulan ini menyebabkan banyak nelayan libur melaut. Jika pun melaut, waktu melautnya pun tak bisa optimal.

Nelayan hanya bisa mencari ikan di jarak yang sangat terbatas. Dengan demikian, saat gelombang tinggi tiba, nelayan bisa merapat ke pantai atau berlindung di sekitar Pulau Nusakambangan.

"Pengaruhnya ya itu, cuaca buruk sama gelombang tinggi. Nelayan kan tidak melaut," dia menjelaskan.

Lesu pasar ekspor tak berarti lesu pasar lokal. Lobster tetap menjadi daya tarik para pelancong yang singgah di TPI Cilacap.

Kalau pun tak berburu Lobster yang harganya kisaran Rp 500 ribu ke atas, pengunjung bisa membeli udang atau ikan. Salah satu andalan Cilacap adalah udang jerbung, sejenis udang jumbo yang kerap dikira Lobster.

Ada dua pilihan, antara membawa Lobster pulang untuk dimakan di rumah atau membeli ikan segar dan lantas dibawa ke pusat kuliner laut di Teluk Penyu Cilacap. Para pemilik rumah makan atau warung menyediakan jasa memasak.

Untuk mengolah ikan atau udang segar, rumah makan menetapkan tarif antara Rp 15 ribu – Rp 30 ribu, tergantung jenis olahannya. Nasi, hidangan pendamping dan minuman dihitung terpisah.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by