Hidangan Imlek Tahun Ini Tanpa Ikan Dewa Lereng Gunung Slamet

Oleh Muhamad Ridlo pada 05 Feb 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 05 Mar 2019, 12:08 WIB
Pekerja di pusat pembibitan ikan Dewa menyeleksi indukan yang siap memijah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Berbeda dari perayaan tahun baru Imlek tahun-tahun sebelumnya, pembudidaya ikan Dewa atau Tambra di Karangtengah, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah kini tak lagi mencicip manisnya harga tinggi menjelang Imlek.

Sebenarnya, menjelang perayaan tahun baru Imlek 2019, permintaan ikan Dewa meningkat beberapa pekan sebelum hari-H. Harganya pun terbilang tinggi.

Banyak yang mencari ikan Dewa dari kaki Gunung Slamet yang kesohor ini. Alam lestari dengan kondisi air yang jernih tanpa pencemaran membuat ikan Dewa dari Karangtengah melanglang hingga pelosok negeri.

Sayangnya, ketersediaan ikan Dewa ukuran konsumsi di tingkat petambak atau pembudidaya ikan Dewa di Banyumas sangat terbatas. Karenanya, petambak mengurangi jumlah kiriman ikan konsumsi.

Imlek sekarang agak kurang. Tadi malam saja saya hanya kirim berapa ke Jakarta,” kata Bing Urip Hartoyo, pemilik pusat pembibitan ikan Dewa di Karangtengah, Senin, 4 Februari 2019.

Bing mengatakan produksi ikan ukuran konsumsi di daerahnya memang menurun jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini tak lepas dari dampak pencemaran Sungai Prukut yang keruh akibat proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sejak 2016 lalu.

Sejak aliran Sungai Prukut keruh pada 2016, ia mengaku sudah memprediksi kondisi ini akan terjadi dan berakibat pada suplai ikan Dewa dalam jangka panjang. Prediksi itu tepat dan mulai terasa sejak tahun ini.

Sebab, dalam kondisi air keruh, banyak ikan dewa muda mati. Kalau pun tak mati, pertumbuhan ikan Dewa terganggu. Sebab itu, pada Imlek 2019 ini, pembudidaya ikan Dewa Banyumas tak berkutik.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Ikan Dewa Hasil Tangkapan Alam

Indukan ikan Dewa di Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Indukan ikan Dewa di Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Karenanya, ia memilih untuk berkonsentrasi mempertahankan indukan yang tersisa. Pasalnya, jika tak ditangani dengan baik, indukan ikan Dewa yang sebenarnya cukup resisten terhadap air keruh pun akan terdampak juga.

“Makanya sekarang saya sangat selektif. Karena mempertahankan indukan yang ada. Lebih fokus ke pembibitan saja,” dia mengungkapkan.

Saat ini di pusat pembibitan ikan Dewa Karangtengah ada sekitar 1.000 indukan. Dalam kondisi normal, tiap kali masa pijah bisa menghasilkan sekitar 300 ribu anakan atau bibit ikan dewa berukuran 5-10 sentimeter.

Alam setahun, indukan ikan Dewa dua kali memijah. Namun, lantaran residu lumpur sungai Prukut yang masih, terjadi penurunan produksi hingga 50 persen.

“Karena dalam kondisi air keruh, indukan tidak mau bertelur,” dia menambahkan.

Bing mengungkapkan, menurunnya jumlah ikan Dewa ukuran konsumsi juga terjadi di berbagai wilayah. Utamanya, daerah yang suplai bibitnya berasal dari Banyumas.

Kini, ikan Dewa ukuran konsumsi saat ini lebih banyak disuplai dari hasil tangkapan alam. Salah satunya dari wilayah Moga, Pemalang dan Lampung.

Harga ikan dewa tangkapan alam dalam bentuk beku berkisar Rp500 ribu – Rp600 ribu per kilogram. Adapun ikan dewa yang dikirim dalam kondisi hidup harganya berkisar Rp1.000.000 per kilogram.

Hanya saja, ia memperingatkan agar masyarakat tak menangkap ikan Dewa secara berlebihan. Pasalnya, ikan ini relatif sulit berkembang biak, dibanding ikan liar pada umumnya. Dibutuhkan air jernih dengan aru deras untuk membuat ikan Dewa dewasa berkembangbiak.

“Jangan sampai over fishing. Bisa habis, tidak kuat bertahan lama kalau terlalu banyak ditangkap,” dia mengimbau.

Lanjutkan Membaca ↓