Cerita Adat Blolong Lembata di Balik Nama Kampung Tengkorak

Oleh Amar Ola Keda pada 04 Feb 2019, 03:03 WIB
Diperbarui 04 Feb 2019, 03:03 WIB
wisata budaya
Perbesar
Rumah adat masyarakat adat suku Blolong Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, NTT (Liputan6.com/ola keda)

Liputan6.com, Kupang - Masyarakat adat suku Blolong yang mendiami Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, NTT, memiliki kampung adat yang berada di wilayah perbukitan tepat di belakang desa ini.

Kampung adat ini sekarang dikenal dengan nama Kampung Tengkorak. Nama ini tidak sembarang disematkan. Di kampung ini terdapat 69 tengkorak manusia yang disimpan di dalam rumah adat.

Tengkorak-tengkorak ini merupakan tengkorak nenek moyang masyarakat adat Suku Blolong yang terdiri dari 30 tengkorak perempuan dan 39 tengkorak laki-laki.

Di kampung adat ini terdapat empat rumah adat, yaitu Una Kedak untuk menyimpan bahan makanan, Osa Kekas Ulir untuk menyimpan tikar keramat, Snajau sebagai tempat istirahat dan makan, dan Una Atakore (rumah tengkorak) untuk menyimpan tengkorak ini.

Menurut tutur tokoh masyarakat setempat, kisah tentang tengkorak ini bermula ketika masyarakat di kampung adat Suku Blolong terserang wabah penyakit pada ratusan tahun lalu.

Kala itu tidak ada medis, sehingga mereka berusaha mencari tempat yang baik untuk bisa tinggal dan menyembuhkan diri mereka. Nenek moyang Suku Blolong yang terserang wadah ini keluar dari kampung mereka.

Ternyata usaha mereka tidak berhasil. Ada yang meninggal di bawah pohon, di gua-gua, dan di pondok di kebun mereka.

Karena meninggal di hutan, jasad mereka dikoyak oleh babi hutan yang saat itu banyak ditemukan di hutan sekitar kampung Suku Blolong. Tubuh mereka tinggal tulang-belulang dan tengkorak.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ritual bagi Pengunjung

wisata budaya
Perbesar
Tengkorak manusia yang disimpan di rumah adat masyarakat adat suku Blolong Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, NTT (Liputan6.com/ola keda)

Hari berganti hari, dalam rentang waktu yang cukup lama, masyarakat suku Blolong yang selamat dari serangan wabah ini mencari jalan untuk bisa menemukan tengkorak-tengkorak ini.

Tengkorak yang ditemukan ini selanjutnya disemayamkan di dalam rumah adat Una Atakore. Tidak sembarang orang bisa melihat tengkorak ini.

Setiap pengunjung wajib didampingi oleh tetua adat setempat dan sebelumnya harus melalui seremonial untuk memohon izin kepada nenek moyang.

Kampung adat ini berjarak sekitar 3 km dan membutuhkan waktu tempuh sekitar setengah jam dari Desa Lolong. Hal ini karena kondisi medan yang cukup ekstrem untuk sampai ke tempat ini.

Selain ceritanya yang unik, Kampung Tengkorak Suku Blolong juga terkenal memiliki panorama alam yang indah. Letaknya yang berada di wilayah perbukitan membuat suasana di sini terasa sejuk.

Tidak hanya itu, Anda juga memiliki kesempatan menyaksikan sunset dari Kampung Tengkorak. Pemandangan indah lautan dan gugusan wilayah perbukitan akan sangat memanjakan mata anda dari kampung adat ini.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓