Penyebab 7.400 Hektare Sawah Puso di Kebumen

Oleh Muhamad Ridlo pada 01 Feb 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 01 Feb 2019, 21:00 WIB
Banjir merendam padi siap panen di Kawunganten Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, 2010. (Foto: Liputan6.com/ Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Pertengahan dasarian kedua hingga dasarian ketiga Januari 2019, Kebumen dirundung bencana alam bertubi-tubi. Hanya jangka sepekan, terdata sebanyak 148 titik bencana alam di kawasan pesisir selatan Jawa Tengah ini.

Bencana itu meliputi banjir di 67 titik, longsor 52 titik dan angin kencang di 29 titik. Kini, bencana alam telah mereda.

Tetapi, dampaknya masih terasa. Permukiman, fasilitas umum, dan berbagai infrastruktur rusak akibat bencana ini. Lahan pertanian puso.

Di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Puring dan Adimulyo, rendaman berlangsung beberapa hari, baik di permukiman warga maupun di lahan pertanian. Bahkan ada yang nyaris sepekan.

Bisa ditebak, masyarakat pun menderita kerugian material yang tak sedikit. Tanaman padi terendam lebih dari empat hari. akibatnya, sawah puso.

Sebanyak 7.400 hektare sawah di Kabupaten Kebumen dipastikan puso akibat bencana alam yang melanda Kebumen pada pertengahan Januari hingga akhir Januari 2019 ini.

Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Eko Widianto mengatakan tanaman padi itu mati karena rendaman banjir lebih dari tiga hari dalam banjir di Kabupaten Kebumen mulai 16 Januari 2019 lalu.

Durasi rendaman yang lama membuat tanaman padi membusuk dan mati. Akibatnya, petani harus tanam ulang.

“Seperti sawah puso itu mencapai 7.400 hektare dari sektor pertanian. Kalau yang terdampak itu mencapai 21 ribu hektare,” katanya, Kamis, 31 Januari 2019.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kerugian Sementara Bencana Kebumen Rp 6 Miliar Lebih

Banjir merendam 11 desa di empat kecamatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Desember 2018. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Banjir merendam 11 desa di empat kecamatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Desember 2018. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Dia menjelaskan, banjir secara keseluruhan berdampak ke 21 ribu hektare tanaman padi di 58 desa di 16 kecamatan di Kebumen. Beruntung, sebagian masih bisa diselamatkan.

Hanya saja, meski berhasil selamat, diperkirakan produktifitas padi di lahan yang sempat terendam lebih dari tiga hari bakal menurun. Pasalnya, rata-rata tanaman padi yang terendam masih berusia muda dan sangat rendan rendaman.

“Kalau kerugian secara terinci belum semuanya masuk,” dia mengungkapkan.

Selain dampak di sektor pertanian, banjir dan longsor di Kabupaten Kebumen juga merusak berbagai infrastruktur. Beberapa yang rusak itu antara lain, tanggul, jalan, jembatan. Paling banyak, adalah jebolnya tanggul. Sedangkan jalan dan jembatan relatif lebih sedikit.

“Sekarang sudah selesai penanganan. Terakhir yang di Desa Tepakyang Kecamatan Adimulyo,” dia menambahkan.

Saat ini petugas BPBD dan pihak terkait lainnya masih menghitung perkiraaan kerugian rusaknya infrastruktur akibat banjir Kebumen. Akan tetapi, dipastikan kerugian lebih dari dari Rp1 miliar.

Hal itu mempertimbangkan banyaknya titik bencana yang mencapai 148 titik di 16 kecamatan berbeda. Selain itu, volume kerusakan juga cukup besar sehingga penangannya membutuhkan biaya yang tinggi.

“Kalau (kerusakan) infrastruktur itu datanya di Balai Besar Wilayah Serayu Opak, itu kaitannya dengan banjir dan longsor,” ucapnya.

Humas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kebumen, Heri Purwoto mengatakan hasil penghitungan sementara, banjir, angin kencang dan longsor di Kebumen mengakibatkan kerugian sebesar Rp 6.355.900.000.

“Di sektor perumahan Mas, untuk pertanian dan perikanan belum,” ucap Heri kepada Liputan6.com.

Lanjutkan Membaca ↓