Misteri Mata Naga di Tengah Pantai Usai Tsunami Selat Sunda

Oleh Nefri Inge pada 01 Feb 2019, 11:00 WIB
Misteri Mata Naga di Pantai Usai Tsunami Selat Sunda

Liputan6.com, Palembang - Bencana alam tsunami Selat Sunda masih sangat jelas di ingatan Jamin (46), yang menjadi korban gulungan ombak besar pada hari Kamis (22/12/2019) malam itu.

Warga Desa Cibenda, Kecamatan Carita, Kabupaten Serang Banten ini, sehari-hari berjualan makanan di pinggir pantai. Dia turut merasakan digulung ombak setinggi 9 meter, yang juga menghancurkan rumahnya.

Beberapa kejadian mistis pun sempat dialaminya usai selamat dari bencana alam tersebut. Salah satunya yaitu penampakan bola api yang seperti mata berwarna merah di tengah pantai.

“Saya juga ikut hanyut terbawa ombak tsunami, tapi bersyukur bisa selamat. Beberapa jam kemudian, saya kembali ke rumah yang sudah hancur. Saat itulah, saya melihat ada penampakan sepasang bola api yang sangat besar di pantai,” ujarnya kepada Liputan6.com, saat ditulis Kamis (31/1/2019).

Dia yakin penampakan tersebut adalah mata naga. Karena bentuknya sangat besar dan merah membara. Namun, karena kejadian di malam hari, dia tidak melihat dengan jelas asal mata merah tersebut.

Penampakan itu dilihatnya secara tidak sengaja, saat ombak sedang surutnya. Namun, saat itu dia sedang fokus untuk membantu korban bencana alam, termasuk keluarganya yang hilang.

“Saya kira itu kapal tongkang. Setelah diperhatikan lagi, itu seperti mata naga, siluman dari laut,” ungkapnya.

Tiga bulan sebelum tsunami Selat Sunda terjadi, Jamin ternyata sudah mendapat peringatan dari orangtuanya yang tinggal di Kediri, Jawa Timur (Jatim).

Orangtuanya memberitahu Jamin bahwa akan terjadi tsunami di Pantai Anyer Carita. Namun, peringatan tersebut tidak dihiraukannya, karena dia tidak pernah melihat adanya petanda gulungan ombak besar yang membahayakan.

“Mereka menelepon saya untuk segera pindah dari rumah, tapi tidak saya hiraukan. Usai ditelepon, setiap hari saudara sepupu saya datang ke rumah untuk mengajak pindah ke rumahnya di atas bukit,” ujarnya.

Saat melihat gulungan ombak tsunami Selat Sunda hampir menghantam rumahnya, Jamin terlebih dulu menyelamatkan keluarganya dan para warga lainnya.

 

 

2 of 3

Isu Ikan Laut

Misteri Mata Naga di Pantai Usai Tsunami Selat Sunda
Penjualan bakso tusuk ikan laut yang menurun drastis usai bencana Tsunami Selat Sunda di Pantai Anyer Carita (Liputan6.com / Nefri Inge)

Jamin pun sempat mengumandangkan azan dan bermunajat kepada Allah SWT untuk diberi keselamatan.

Pertanda lainnya ternyata pernah dirasakan Jamin. Dia pernah bermimpi air lautan naik ke daratan dan banyak orang yang menggelar hajatan.

“Pernah mimpi seperti itu beberapa bulan lalu, tapi saya anggap cuma mimpi. Tapi ternyata, ombak yang saya lihat itu bisa setinggi 9 meter, baru itu saya lihat langsung tsunami,” katanya.

Kejadian tsunami tidak hanya merugikan para korban saja, tapi berdampak juga pada usaha Sa’at. Warga Cibenda ini biasanya berjualan bakso ikan tusuk di dekat Pantai Anyer Carita Serang.

Namun usai tsunami Selat Sunda, banyak yang takut memakan bakso tusuk jualannya. Para warga setempat takut, jika bakso tusuk yang dijualnya berbahan ikan laut dari pantai.

“Mereka selalu takut makan ikan laut sejak tsunami. Karena beredar isu, kalau ikan laut itu memakan bangkai korban-korban tsunami,” ungkapnya.

 

3 of 3

Korban Tsunami

Misteri Mata Naga di Pantai Usai Tsunami Selat Sunda
Puing-puing reruntuhan rumah para warga di bibir Pantai Anyer Carita usai dihantam ombak Tsunami Selat Sunda (Liputan6.com / Nefri Inge)

Di awal berjualan pascatsunami, bakso tusuk buatannya nyaris tidak laku. Agar tidak menanggung kerugian, Sa’at mengganti ikan laut tenggiri dengan ikan bandeng.

Meski sudah diganti, para warga terus menanyakan bahan ikan yang dipakai untuk bakso tusuknya. Hasil jualan bakso tusuknya juga kini tidak seramai sebelumnya.

“Saya selalu bilang kalau isu itu tidak benar. Tapi banyak masyarakat yang ketakutan, jadi agak susah juga jualan sekarang,” katanya.

Salah satu korban tsunami Selat Sunda, yaitu Hasanah (46). Ibu tiga anak ini harus kehilangan ayahnya, yang meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit usai tergulung ombak.

“Luka di tubuh ayah saya infeksi karena lama diobati, itu kemungkinan membuat Beliau tidak bisa bertahan. Setelah satu minggu usai kejadian, ayah dan ibu saya baru dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Baru beberapa hari di rumah sakit, ayah Hasanah akhirnya meninggal dunia. Sedangkan ibunya harus dirawat selama 10 hari di rumah sakit. Ibu Hasanah menderita patah tulang dan harus terus terapi tulang setiap minggunya.

Lanjutkan Membaca ↓