Tradisi Makan Bersama Menyambut Imlek di Kota Medan

Oleh Reza Perdana pada 01 Feb 2019, 01:00 WIB
Diperbarui 01 Feb 2019, 01:17 WIB
Tradisi Imlek di Medan

Liputan6.com, Medan - Menyambut Tahun Baru Imlek, banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Tionghoa di berbagai daerah. Di Kota Medan, Sumatera Utara, makan besar bersama keluarga menjadi salah satu tradisi yang wajib dilaksanakan.

Tokoh masyarakat Tionghoa di Medan, Pandita Narapati Widyanata (Bambang ES) kepada Liputan6.com mengatakan, makan besar keluarga itu biasanya dilaksanakan di malam Tahun Baru Imlek, dan sudah menjadi tradisi yang wajib bagi keluarga Tionghoa.

"Selain mempererat hubungan keluarga, makan bersama ini juga bertujuan untuk menyongsong kedatangan Tahun Baru Imlek bersama orang-orang terkasih, yaitu keluarga," katanya, Rabu (30/1/2019). 

Pandita Narapati Widyanata (Bambang ES) menjelaskan, malam Tahun Baru Imlek disebut dengan chuxi, artinya menghapus yang lama dan hal-hal jelek. Pada malam tanggal 30 atau malam terakhir sebelum Imlek, biasanya diisi dengan berdoa untuk menyongsong kedatangan Tahun Baru Imlek yang disebut Da Nian Ye.

"Tradisi lainnya, biasanya seluruh anggota keluarga kembali ke rumah orang tuanya untuk makan bersama," jelasnya.

Menurutnya, kembali ke rumah orangtua merupakan ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga dalam menyambut Tahun Baru Imlek bersama-sama, sembari mensyukuri kehidupan

"Di keluarga kami, biasanya ada empat makanan wajib yang biasa disajikan saat makan besar di Malam Tahun Baru Imlek, yaitu daging, ayam, ikan, dan mi," sebutnya.

Setiap makanan yang disajikan tersebut memiliki arti. Untuk mi, bermakna panjang umur, ayam dan ikan bermakna kebahagiaan serta keberuntungan, sehingga diharapkan setiap tahun memiliki rezeki. Kemudian daging, bermakna kemapanan dan diharapkan dapat terus makan enak.

Makanan wajib lainnya, yakni kue keranjang atau nian gao. Makan kue keranjang diharapkan rezeki seseorang setiap tahun bertambah tinggi.  Makanan yang disajikan di malam Tahun Baru Imlek sedikit berbeda dengan hari biasa.

"Harapan kita, agar keluarga selalu terjaga keharmonisan dan kebaikan ke depannya," katanya.

Dikutip dari buku Tiongkok, sejak zaman Dinasti Tang, malam Tahun Baru Imlek dirayakan dengan pesta kembang api atau mercon. Kebanyakan keluarga tidak tidur sampai pagi untuk menyambut hari spesial itu.

"Menyalakan petasan dan kembang api dipercaya dapat mengusir nian atau mahluk jahat yang menurut legenda suka makan manusia. Suara keras petasan dipercaya dapat menakuti si nian tersebut," ungkapnya. 

Pandita Narapati Widyanata (Bambang ES) menuturkan, dalam agama Buddha yang berakulturasi terhadap budaya setempat, tidak melarang adanya perayaan Tahun Baru Imlek. Karena Tahun Baru Imlek dipercaya sebagai wujud rasa bakti dan memiliki makna tersendiri. 

Di Tahun Baru Imlek biasanya hal yang dilakukan adalah sembayang tutup tahun dan menyalakan pelita. Tidak hanya itu, juga dilakukan doa untuk mendoakan semua keluarga supaya memiliki kesehatan, kesejahteraan, dan keharmonisan.

"Begitu juga dengan bangsa dan negara ini. Setelah itu yang terpenting adalah ungkapan terima kasih dan permohonan maaf atas semua kesalahan kepada orang tua dengan bersujud sebagai bentuk bakti. Adat dan tradisi seperti ini harus tetap dijalankan oleh generasi muda saat ini. Agar budaya tidak luntur tergerus zaman,” ujarnya.. 

 

Simak juga video pilihan berikut ini: