Berharap Banjir Cepat Surut di Area Persawahan Cilacap

Oleh Muhamad Ridlo pada 21 Jan 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 21 Jan 2019, 09:00 WIB
Ilustrasi – Banjir menggenangi Desa Gunungreja Kecamatan Sidareja, cilacap, Desember 2018. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Ilustrasi – Banjir menggenangi Desa Gunungreja Kecamatan Sidareja, cilacap, Desember 2018. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Banjir yang melanda dua kecamatan wilayah timur Kabupaten Cilacap telah surut. Warga pun memulai rutinitas paska-banjir, membersihkan rumah dan pekarangan dari sampah dan kotoran lainnya.

Rabu malam, 16 Januari 2019 lalu, banjir mulai menggenangi empat desa di Kecamatan Kroya dan Nusawungu. Keempat desa itu adalah Desa Mujur Lor, Desa Sikampuh, Desa Banjarreja, Desa Kedung Benda.

Sebenarnya, bagi warga, banjir adalah hal biasa. Nyaris tiap tahun permukiman mereka dilanda banjir. Yang membedakan hanya lah tinggi genangannya.

Sifat banjir genangan juga tak semengancam banjir bandang yang bisa saja membahayakan nyawa secara tiba-tiba. Warga tak risau dengan keselamatan dirinya.

Kini, rendaman hanya tersisa di persawahan atau dataran yang sangat rendah. Ini lah yang dikhawatirkan. Pasalnya, rendaman banjir lebih dari tiga hari bisa menyebabkan tanaman padi petani membusuk dan mati.

Apalagi, tanaman padi petani baru berusia dua pekan hingga sebulan. Pada umur ini, padi belum kuat menahan rendaman, apalagi jika terjadi nyaris sepekan.

"Banjir sudah surut. Paling hanya di sawah. Kalau lebih dari tiga hari berpotensi mati," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Kodirin, Minggu, 20 Januari 2019.

Sebanyak 400 rumah di Kecamatan Kroya terendam. Banjir ini juga merendam sekitar 450 hektare tanaman padi di Kecamatan yang berbatasan dengan Banyumas sisi utara ini.

2 dari 2 halaman

Siaga Banjir Susulan

Ilustrasi – Padi terendam banjir rawan busuk. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Ilustrasi – Padi terendam banjir rawan busuk. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Tak berbeda jauh, di Kecamatan Nusawungu, ada sekitar 500 hektare sawah yang juga terendam. Sebagian besarnya sudah ditanami bibit padi.

"Risikonya kalau sampai busuk harus tanam ulang," ucapnya.

Meski begitu, Kodirin mengaku belum memperoleh data luasan tanaman padi yang rusak. Pasalnya, banjir masih menggenang sehingga dampaknya belum bisa dipastikan.

"Ada juga tambak ikan. Tapi masih dalam pendataan," dia menambahkan.

Terkait lamanya rendaman, Kodirin menjelaskan, sejumlah wilayah Cilacap bagian timur merupakan daerah aliran sungai (DAS) sungai yang berhulu di Kabupaten Banyumas. Saat hujan lebat di Banyumas, sungai bakal meluap.

Banjir kali ini juga disebabkan meluapnya sejumlah sungai. Antara lain, Sungai Gatel dan Tipar.

Celakanya, saat hujan lebat masih mengguyur di kawasan hulu, air laut tengah pasang. Akibatnya, sungai yang biasanya memuntahkan langsung airnya ke laut selatan Jawa jadi mampet. Akibatnya, air menggenang di daerah dataran rendah.

Menurut Kodirin, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan kembali naiknya ketinggian genangan. Pasalnya, hujan lebat diperkirakan masih akan mendera kawasan Cilacap dan Banyumas beberapa hari ke depan.

Karenanya, BPBD tetap menyiagakan perahu jika sewaktu-waktu dibutkuhkan untuk mengevakuasi warga atau mengirimkan bantuan. Petugas kesehatan dari masing-masing puskesmas juga menyisir permukiman yang sebelumnya terendam untuk mengantisipasi atau mengobati penyakit paska-banjir.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓