Kisah Perjuangan Hidup 2 Nelayan Cilacap yang Perahunya Ditelan Laut Kidul

Oleh Muhamad Ridlo pada 21 Jan 2019, 05:04 WIB
Diperbarui 08 Feb 2019, 15:35 WIB
Ilustrasi – Pantai Selatan Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Tak ada yang menyangkal keganasan ombak pantai selatan Kebumen, Jawa Tengah. Tahun 2018 lalu misalnya, sebanyak 22 orang tenggelam di perairan ini. 20 korban ditemukan tak bernyawa. Dua korban lainnya, dinyatakan hilang.

Paling menggegerkan tentu adalah peristiwa di akhir 2018 lalu, ketika empat remaja tenggelam dan meninggal di Pantai Petanahan, Kebumen. Mereka terseret pusaran palung laut pinggir pantai.

Di pantai selatan, perenang handal pun tak jadi jaminan. Ini lantaran arus yang unik. Di permukaan, laut terlihat tenang. Tetapi, di bagian bawah, arus bisa jadi sangat kuat dan bisa menyeret benda apa saja.

Singkat kata, dalam kondisi biasa pun arus laut selatan Kebumen begitu berbahaya. Apalagi, jika sedang terjadi gelombang tinggi seperti saat ini.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berisiko terjadi atara 19-22 Januari 2019.

Ombak setinggi 2,5-4 meter berpotensi terjadi di perairan pantai dan Samudera Hindia selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta. Dengan kecepatan angin mencapai 30 knot, kondisi perairan selatan berbahaya bagi jenis kapal besar sekali pun.

Peringatan dini ini pun disebar mulai dari para pengelola pantai wisata hingga kelompok-kelompok nelayan. Nelayan pun paham, melanggar imbauan untuk tak melaut, sama saja menyerahkan diri untuk berhadapan langsung dengan gelombang ganas laut selatan.

Bagi nelayan, laut adalah ladang penghidupannya. Barangkali, mereka tak hendak melanggar larangan melaut. Tetapi, mereka lebih khawatir periuk keluarga mereka kosong.

Apa boleh buat, sebagian nelayan nekat melaut. Itu termasuk dua nelayan asal Cilacap yang melaut dari pantai Mirit, Kebumen. Mereka tak hirau dengan ancaman gelombang tinggi laut selatan demi kelangsungan hidup keluarganya.

2 dari 2 halaman

1 Nelayan Selamat, 1 Meninggal Dunia

Hadi Rasiwan (60), nelayan asal Cilacap meninggal dunia usai perahunya terbaik di Pantai Mirit, Kebumen. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Hadi Rasiwan (60), nelayan asal Cilacap meninggal dunia usai perahunya terbaik di Pantai Mirit, Kebumen. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Dua nelayan ini, Hadi Rasiwan (60) warga Desa Lengkong, Cilacap dan Rohman (38) warga Kesugihan Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Perahu mereka hanya lah perahu kecil dengan mesin tempel ukuran 5 PK. Tentu, tak sebanding dengan gelombang tinggi laut selatan.

Tetapi, mereka nekat menerjang ganasnya ombak laut selatan Kebumen. Nahas, baru saja melaut 30 menit dan berjarak kisaran di bawah 100 meter dari bibir pantai ombak tinggi melabrak perahu. Akibatnya, perahu langsung terbalik.

Hadi Rasiswan dan Rohman pun kalang kabut menyelematkan diri. Mereka segera berenang menyelamatkan diri agar tak turut tenggelam.

Begitu mengetahui ada perahu terbalik, nelayan setempat pun tak tinggal diam. Mereka segera menolong dua nelayan malang ini.

Tetapi butuh waktu untuk mencapai dua nelayan yang berjuang untuk nyawanya ini. Gelombang tinggi menyulitkan perahu nelayan lainnya mendekat ke kedua korban tenggelam.

Setelah berujuang beberapa waktu, keduanya berhasil dievakuasi. "Kedua nelayan itu ditolong sesama nelayan dan dibawa ke tepian," kata Kasubbag Humas Polres Kebumen, AKP Suparno.

Bersicepat dengan waktu, dua nelayan ini lantas dilarikan ke Puskesmas Mirit. Sayangnya, satu nelayan, Hadi Rasiwan, meninggal dunia di perjalanan.

"Kemungkinan keduanya kelelahan saat berenang menyelamatkan diri hingga akhirnya mendapatkan pertolongan," Suparno menjelaskan.

Informasi yang dihimpun kepolisian, kedua nelayan tersebut sebetulnya mengenakan pelampung. Namun saat ditemukan, pelampungnya telah lepas.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓