Serangan Tawon Baluh di Banyumas, 2 Orang Tewas

Oleh Muhamad Ridlo pada 13 Jan 2019, 15:03 WIB
Diperbarui 15 Jan 2019, 14:13 WIB
Tagana Banyumas mengevakuasi sarang tawon Engang. (Foto: Liputan6.com/Tagana Banyumas/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Kematian tujuh orang di Klaten, Jawa Tengah akibat serangan tawon Vespa alias tawon Endhas dalam dua tahun terakhir adalah pertanda bahwa keberadaan sarang tawon, apalagi yang besar, tak boleh diabaikan begitu saja.

Beberapa tawon, dikenal agresif dengan sengatan yang sangat menyakitkan. Bahayanya, dalam satu sarang berukuran besar, populasi tawon bisa mencapai ratusan hingga ribuan ekor.

Selain tawon Vespa, ada lagi tawon dengan sengatan menyakitkan dan tak jarang berakibat fatal, yakni tawon baluh. Sama seperti tawon Vespa, sarang tawon Baluh pun bisa berisi ribuan ekor.

Barangkali lantaran sengatannya yang mematikan, tawon ini sangat agresif. Saat merasa terganggu, tak segan tawon baluh akan menyerang orang yang dianggap mengganggu (intruder).

Barangkali, jika hanya satu atau dua ekor yang menyerang, akibatnya tak fatal. Tetapi, biasanya tawon jenis ini menyerang berombongan atau keroyokan.

Akumulasi bisa sengatan itu bisa membuat korban serangan tawon pingsan, sakit luar biasa, demam, dan bahkan meninggal dunia.

Di Banyumas misalnya, dua orang tewas akibat serangan tawon dalam jangka setahun terakhir ini. Kasus terakhir, seorang pemburu larva di Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang, Banyumas, meninggal dunia usai disengat ratusan lebah.

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas Kusworo mengatakan, sebelumnya, seorang warga di Kecamatan Cilongok Banyumas dikabarkan meninggal karena serangan tawon. Ia diserang kawanan tawon Engang saat tengah menebang bambu.

"Setahun lalu di Cilongok, dikeroyok tawon saat cari bambu," ucap Kusworo.

2 of 2

Penyebab Kematian Akibat Serangan Tawon

War, korban serangan tawon Baluh dirawat di RSUD Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Turyono untuk Muhamad Ridlo)
War, korban serangan tawon Baluh dirawat di RSUD Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Turyono untuk Muhamad Ridlo)

Selain korban meninggal, banyak pula korban serangan tawon yang mesti dirawat di rumah sakit. Salah satunya yang terjadi pekan lalu, seorang warga Purwokerto mesti dilarikan ke Rumah Sakit Wijayakusuma, lantaran dikeroyok puluhan tawon Engang.

Adapun jumlah korban sengatan tawon yang hanya mengalami luka ringan tak terhitung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah pun kerap menerima laporan warga di seputaran Banyumas yang resah lantaran serangan tawon.

Dia menerangkan, kematian korban karena sengatan tawon tergantung dari tingkat parahnya serangan. Salah satunya bisa dilihat dari jumlah tawon yang menyengat.

Semakin banyak tawon yang menyengat, korban akan bertambah sakit. Jika tak secepatnya mendapat pertolongan medis, akibatnya bisa fatal, kematian.

"Kalau yang meninggal dulu itu banyak sekali sengatannya, mungkin sampai lima puluh sengatan," dia mengungkapkan.

Kusworo mengungkapkan, sarang tawon Baluh dan Engang tak mengenal lokasi. Terkadang ia, menggantung di batang bambu di tengah hutan. Tetapi tak jarang pula, sarang berukuran besar menggantung di dahan atau rumah di permukiman ramai.

Masyarakat biasanya meminta pertolongan untuk mengevakuasi tawon Baluh jika lokasinya rawan. Sebab, saat merasa terusik, tawon ini tak segan menyerang siapa saja yang lewat di dekat sarangnya.

BPBD pun sempat beberapa kali mengevakuasi sarang tawon Baluh yang meresahkan warga. Terakhir, BPBD berhasil mengevakuasi sarang tawon Baluh di pinggir jalan raya Sumpiuh, dekat pasar Sumpiuh Banyumas.

Kawanan tawon itu memang sudah sangat meresahkan. Pengguna jalan kerap disengat tanpa alasan.

Barangkali, saat angin bertiup, kawanan tawon ini menganggap ada yang mengganggu. Sebab itu, ketika ada orang lewat di waktu bersamaan, tawon menyerang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by